Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, dikabarkan menghubungi Presiden Prabowo Subianto lewat telepon pada Kamis (8/10/2026). Topiknya asap yang menyeberangi perbatasan dan berasal dari karhutla di Kalimantan serta beberapa daerah lain di Indonesia. Pemerintah Indonesia memaparkan langkah penanganannya pada Sabtu (10/10/2026).

Apa yang terjadi: telepon Anwar Ibrahim ke Prabowo

Menurut laporan Okezone, percakapan telepon itu berlangsung Kamis (8/10/2026) dan menyinggung persoalan asap karhutla yang melintasi batas negara. Isi pembicaraan secara rinci tidak dijelaskan dalam sumber yang tersedia, dan kabar telepon tersebut disampaikan dengan kata "dikabarkan".

Artinya, informasi mengenai panggilan itu belum disertai keterangan resmi yang memerinci apa saja yang diminta atau disepakati kedua pemimpin. Yang tersedia hanyalah pernyataan pejabat Indonesia mengenai komunikasi dengan Malaysia dan paparan langkah penanganan di lapangan.

Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyampaikan bahwa Indonesia telah berkomunikasi dengan pihak Malaysia. Ia berbicara kepada awak media di Jakarta pada Sabtu (10/10/2026).

“Ya, kita sudah berkomunikasi. Saya sudah berbicara juga dengan Menteri Luar Negeri Malaysia,”

— Arrmanatha Nasir, Menteri Luar Negeri

Dengan demikian, jalur komunikasi tidak hanya berlangsung di tingkat pemimpin, tetapi juga antara dua menteri luar negeri. Menurut Arrmanatha, tujuan komunikasi itu adalah menjelaskan kepada Malaysia berbagai langkah penanganan karhutla dan dampak asap yang ditimbulkan.

Langkah penanganan karhutla yang disampaikan pemerintah

Dalam paparan Arrmanatha, jumlah personel yang diturunkan ke lapangan melampaui 60.000 orang. Untuk pemadaman dari udara dengan water bombing sekaligus pemantauan cuaca, pemerintah mengoperasikan sekitar 48 helikopter dan pesawat.

Dari Kuala Lumpur, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menyebut upaya pemadaman terus diperkuat, mulai dari personel di darat, operasi udara, sampai proses hukum bagi pihak yang diduga melakukan pelanggaran. KBRI juga menyatakan keprihatinan dan empati kepada pemerintah serta masyarakat Malaysia, mengingat asap berpotensi mengganggu kesehatan.

Menurut laporan VIVA, langkah tersebut diambil ketika asap turut memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat di Malaysia. Dengan kata lain, dampak karhutla kini tidak hanya dirasakan di daerah asal kebakaran, tetapi juga di negara tetangga.

Baca jugaKabut Asap Palembang: 30 Penerbangan di Bandara SMB II Terdampak, Udara Jumat Pagi Berstatus Berbahaya

Cara membaca data titik panas dan titik api

Sistem SiPongi memantau selama 24 jam dengan memadukan data satelit Terra/Aqua, NOAA-20, dan Suomi NPP. Hasilnya, tercatat 555 titik panas berkepercayaan tinggi, dan Kalimantan Tengah menyumbang yang terbanyak dengan 336 titik.

  • Kalimantan Tengah: 336 titik
  • Sumatra Selatan: 142 titik
  • Kalimantan Barat: 48 titik
  • Kalimantan Selatan: 28 titik
  • Jambi: satu titik

Angka titik panas berbeda dari angka titik api aktif. Titik panas adalah hasil deteksi satelit, sedangkan titik api aktif adalah temuan pemantauan yang menjadi sasaran pemadaman. Dalam data yang dipaparkan KBRI, ada 193 titik api aktif.

Luas area yang menjadi sasaran pemadaman sekitar 748,04 hektare, dan api di sekitar 560,60 hektare di antaranya sudah dipadamkan, setara sekitar 75 persen. Artinya, sebagian area masih harus ditangani petugas.

Operasi udara dan sebaran personel di enam provinsi

Di udara, KBRI menyebut 15 pesawat CASA menjalankan modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Selatan. Sebanyak 35 helikopter lainnya bertugas menjatuhkan air ke titik api di Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Jambi.

Di darat, unsur yang terlibat adalah TNI, Polri, Manggala Agni, BNPB, badan penanggulangan bencana daerah, serta relawan masyarakat. Personel untuk pemadaman dan pengecekan lapangan tersebar di enam provinsi.

  • Riau: 14.837 personel
  • Kalimantan Barat: 14.458 personel
  • Kalimantan Tengah: 13.699 personel
  • Sumatra Selatan: 12.285 personel
  • Kalimantan Selatan: 7.927 personel
  • Jambi: 5.984 personel

Menariknya, Riau tidak masuk daftar daerah dengan titik panas dalam data 24 jam di atas, tetapi memiliki jumlah personel terbanyak. Sumber tidak menjelaskan alasan penempatan tersebut.

Mengapa ini penting dan apa selanjutnya

Asap karhutla tidak berhenti di perbatasan, sehingga penanganannya menyangkut hubungan antarnegara selain kesehatan warga. KBRI menyatakan pemerintah memandang kualitas udara yang bersih penting bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dan semua instansi terkait berupaya mematikan titik api secepat mungkin.

Perlu dicatat, dua sumber menyajikan angka pengerahan aparat udara dengan cara berbeda. Menlu menyebut sekitar 48 helikopter dan pesawat secara umum, sedangkan KBRI merinci 15 pesawat CASA dan 35 helikopter. Perbedaan ini mencerminkan cara penyajian, dan sumber tidak menjelaskan lebih jauh.

Sumber yang tersedia juga belum memuat kebijakan lanjutan atau jadwal pembicaraan berikutnya antara kedua pemimpin. Perkembangan lebih lanjut, termasuk tanggapan resmi dari pihak Malaysia, akan menjadi hal yang perlu ditunggu.

Bagi pembaca, data di atas memberi gambaran skala respons pemerintah: ribuan personel di setiap provinsi terdampak, operasi udara di beberapa wilayah, dan pemantauan satelit yang berjalan sepanjang hari. Namun, angka-angka tersebut berasal dari pemerintah Indonesia dan belum disertai penilaian independen dalam sumber yang tersedia.