Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang, Sumatera Selatan, membuat 30 penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) terdampak hingga Kamis sore, 8 Oktober 2026. Pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026, BMKG mencatat status kualitas udara kota itu berada di kategori berbahaya.

Jumlah penerbangan terdampak bertambah

Menurut Tribunnews, jarak pandang di kawasan bandara hanya sekitar 400 meter, di bawah batas minimum keselamatan penerbangan. Pada pembaruan pagi tercatat lima penerbangan terdampak, naik menjadi 15 pada pukul 13.00 WIB, lalu 30 pada pukul 15.00 WIB.

Dampaknya beragam, mulai dari penundaan, pesawat kembali ke bandara asal, hingga pengalihan ke bandara lain. Gangguan menimpa penerbangan domestik dan internasional, di antaranya kedatangan Garuda Indonesia yang membawa jemaah umrah dan AirAsia dari Malaysia.

General Manager Bandara SMB II Palembang Ahmad Syaugi Sahab mengatakan gangguan terjadi pada keberangkatan dan kedatangan, sebagaimana dilaporkan detikNews. Pihak bandara terus memantau jarak pandang dan cuaca, serta meminta penumpang berkoordinasi dengan maskapai masing-masing.

“Visibility below minimal 400 meter”

— Ahmad Syaugi Sahab, General Manager Bandara SMB II Palembang

Penumpang bernama Diva mengaku menunggu sedikitnya empat jam untuk penerbangan ke Jakarta, sedangkan Dion menunggu sekitar enam jam. Dion meminta pembakaran hutan dan lahan dihentikan karena mengancam kesehatan dan mengganggu aktivitas warga.

Kualitas udara Jumat pagi berstatus berbahaya

CNN Indonesia, mengutip laman BMKG, melaporkan kabut asap sudah membekap Palembang selama sepekan terakhir. Pada Jumat pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2,5 di pos Musi 2 tercatat 430.2 µg/m3 dan di Talang Betutu 383.6 µg/m3, keduanya berkategori berbahaya.

Pantauan PM2,5 Staklim Sumsel dalam kurun 24 jam terakhir sebesar 371.32 µgram/m³, di atas nilai ambang batas. Merujuk PP 22/2021, ambang batas tersebut adalah 55 µgram/m³ dalam 24 jam.

Staklim Sumsel juga menyebut hujan diprakirakan turun di Palembang pada Jumat malam, dengan curah sedang dan ringan antara pukul 22.00 hingga 01.00 WIB.

Dampak kesehatan dan respons pemerintah

Direktur RSUD Palembang BARI, dr Amalia, menyatakan pasien ISPA yang dirawat pada 1–7 Oktober mencapai 36 orang, meningkat dibanding September yang sebelumnya tertinggi. Hingga 7 Oktober, delapan pasien masih rawat inap, terdiri atas enam anak dan dua orang dewasa.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono, yang berkunjung ke Palembang pada Rabu, meminta penanganan karhutla di Sumsel lebih masif. Ia meninjau titik karhutla di Talang Jambe dan menggelar rapat koordinasi di Kantor BPBD Sumsel bersama Gubernur Herman Deru dan 43 perusahaan perkebunan.

“Masyarakat Palembang jangan lupa pakai masker”

— Diaz Faisal Malik Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup

Dalam siaran pers yang diunggah Kamis (8/10), Kementerian Kehutanan menyebut hotspot tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera Selatan tercatat 224 titik, naik dari 71 titik sebelumnya. Kemenhut menegaskan hotspot belum tentu sama dengan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan terbakar. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, yakni 17 unit untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca serta 44 unit untuk water bombing.

Latar: data BNPB sebelumnya

Sebelumnya, BNPB melaporkan per 7 Oktober terdapat 354 titik panas berkepercayaan tinggi di Sumatera Selatan, serta 92 titik api dengan lahan terbakar 390,61 hektare. Angka 354 itu berbeda dengan 224 titik dari Kemenhut karena berasal dari lembaga dan tanggal rilis yang berbeda, yaitu BNPB per 7 Oktober dan Kemenhut dalam siaran pers 8 Oktober. Sumber-sumber yang kami rujuk tidak menjelaskan metode penghitungan masing-masing, sehingga keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung.

Satgas Darat dan Udara mengeklaim telah memadamkan 319,41 hektare hingga 7 Oktober. Menurut BNPB, operasi modifikasi cuaca belum dilakukan karena belum ada potensi pertumbuhan awan hujan, dan warga diimbau memakai masker serta berhati-hati berkendara.