Warga Indonesia, Malaysia, dan Singapura menceritakan dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melintasi batas negara. Kesaksian itu disampaikan dalam konferensi pers daring yang diselenggarakan Greenpeace Indonesia pada Senin (5/10).

Kesaksian warga terdampak asap karhutla

Bimpi Permata Restu, relawan Tim Cegah Api asal Pontianak, Kalimantan Barat, mengatakan kabut asap sempat mereda beberapa hari lalu tetapi kembali dalam dua hari terakhir. Menurutnya, banyak sekolah diliburkan, warga jatuh sakit karena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan ada yang meninggal saat memadamkan api. Kualitas air juga menurun hingga terasa asin, sehingga mencuci pakaian bayinya menjadi sulit.

Dari Desa Lebung Itam, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Pralensa yang akrab disapa Jay menyebut warga sudah berbulan-bulan hidup dalam asap akibat lahan gambut yang terbakar. Istrinya, yang punya riwayat asma, tak bisa keluar rumah pada musim asap.

“Yang kami rasakan setiap hari kami cuma bisa menghirup asap, udara bercampur asap.”

— Pralensa (Jay), warga Desa Lebung Itam, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan

Jay menyebut belum ada upaya yang mampu menghentikan kebakaran gambut di wilayahnya. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan air: sumur yang digali manual hingga kedalaman tiga sampai empat meter tidak mengeluarkan air.

Kartika Lestari, warga Palembang, mengatakan ISPU di kotanya pagi itu mencapai 1702, angka tertinggi yang ia alami pada 2026. Menurut kabar yang ia dengar dari teman-temannya di layanan kesehatan, banyak anak di rumah sakit Pusri harus mendapat tindakan nebulizer. Ia juga menyebut masker N95 tidak sepenuhnya menahan asap. Siswa SD, SMP, hingga SMA di Palembang kini belajar jarak jauh, dan menurutnya pemerintah kota serta provinsi belum sepenuhnya memberi rasa aman.

Baca jugaBMKG Prakirakan Asap di Palangka Raya dan Udara Kabur di Palembang pada Selasa, Usai ISPU 4.031 Senin

Dampak di Malaysia dan Singapura

Muhammad Syahir, warga Malaysia, bercerita putrinya dirawat sekitar lima hari di rumah sakit karena sesak dada dan sulit bernapas. Dokter mendiagnosisnya terkena mycoplasma dan bronkitis. Syahir menyebut biayanya hampir 10 ribu ringgit, atau sekitar Rp43 juta.

Di Singapura, Yi Feng, anggota Climate Rally, mengatakan negaranya tidak terlalu dekat dengan lokasi kebakaran utama, tetapi kualitas udaranya cukup fluktuatif. Warga disarankan tidak beraktivitas di luar ruangan saat asap parah. Ia mendengar banyak keluhan penderita gangguan pernapasan yang kambuh, dan dirinya yang memiliki rinitis alergi kesulitan bernapas dalam beberapa pekan terakhir.

Data titik panas karhutla

Dashboard Informasi Penanganan Karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (4/10) mencatat 6.999 titik panas dan 196 titik api di enam provinsi. Keenamnya adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Data kualitas udara terpisah dari IQAir

Secara terpisah, data situs pemantau IQAir pada Selasa (6/10) pukul 05.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Jakarta 165, kategori tidak sehat, dan masuk lima besar kota berudara terburuk dunia. Kota terburuk adalah Dhaka, Bangladesh (215), disusul Delhi (186), Kolkata (184), dan Kuala Lumpur, Malaysia (182).

Laporan ANTARA yang memuat data itu tidak mengaitkan kualitas udara Jakarta maupun kota-kota lain dalam daftar tersebut dengan karhutla. Masyarakat Jakarta diimbau tidak berolahraga di luar ruangan, memakai masker, dan menutup jendela.