Selat Hormuz kini sudah bisa dilalui kembali, tetapi harga bensin dan diesel di banyak negara belum turun. Menurut laporan CNN yang dikutip CNN Indonesia pada Jumat (9/10), volume minyak yang keluar dari kawasan itu hampir kembali ke level sebelum perang, namun jalurnya masih berbahaya dan ongkosnya melonjak.

Sumber-sumber yang dirujuk artikel ini membahas pasar global dengan contoh Amerika Serikat. Keduanya tidak menyebut harga BBM di Indonesia, sehingga penjelasan berikut tidak dimaksudkan sebagai rincian harga di SPBU dalam negeri.

Seberapa tinggi harga bahan bakar saat ini

Data AAA mencatat harga bensin rata-rata nasional di AS sebesar US$4,36 per galon. CNN Indonesia menghitungnya setara Rp20.607 per liter dengan kurs Rp17.891. Dalam periode yang sama setahun terakhir, harga bensin di sana belum pernah setinggi sekarang.

Harga diesel pun nyaris menyentuh puncaknya. Walau negara bagian AS dan Eropa sudah menempuh sejumlah langkah darurat, diesel hanya berjarak sekitar 20 sen dari rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat bulan lalu, menurut laporan yang dimuat RakyatPos.

Persoalan yang bermula dari terganggunya pasokan minyak akibat perang Iran kini berkembang menjadi krisis energi yang lebih luas. Pengemudi, sopir truk, dan petani di berbagai negara sama-sama merasakan akibatnya.

Mengapa membuka selat belum menurunkan harga

Dibukanya selat membantu, tetapi bahayanya belum hilang. UK Maritime Trade Operations melaporkan bahwa dalam beberapa hari belakangan sejumlah kapal dagang di perairan itu dihantam proyektil. Di antaranya ada paling sedikit dua tanker pengangkut minyak mentah.

Bahaya itu tampak pada ongkos sewa kapal. Data Clarksons menunjukkan sewa tanker raksasa Very Large Crude Carrier (VLCC) rute Teluk Persia–China sekarang US$1,6 juta per hari, atau Rp28,6 miliar. Setahun lalu tarifnya US$65 ribu per hari, dan menjelang perang Iran dimulai sudah naik menjadi US$230.000 per hari.

Pos biaya lain ikut membengkak. The Wall Street Journal, seperti dikutip dua sumber kami, melaporkan produsen minyak sekarang mengeluarkan US$30 juta hingga US$40 juta untuk sekali pelayaran pulang-pergi melewati Hormuz. Sejumlah perusahaan pelayaran juga menawarkan hingga US$25.000 per pelayaran kepada awak kapal, yang menurut laporan itu bisa melebihi gaji setahun.

Tom Kloza, chief energy adviser Gulf Oil, mengatakan ongkos membawa keluar minyak dari Teluk Persia dahulu sekitar US$2 per barel, dan kini sekitar US$33 per barel. Ia menilai volume yang berhasil keluar tampak wajar, tetapi gambaran itu bisa menyesatkan.

“Kita berhasil mengeluarkan minyak mentah dalam jumlah yang wajar, tetapi itu menyesatkan karena biaya mengeluarkan minyak itu luar biasa besar,”

— Tom Kloza, chief energy adviser Gulf Oil

Harga minyak fisik jauh di atas harga pasar berjangka

Kenaikan ongkos tersebut membantu menerangkan mengapa dua ukuran harga minyak berjarak jauh. Menurut S&P Global Platts, Dated Brent, yakni harga barel fisik untuk pengiriman segera, menyentuh US$135,74 per barel pada Kamis (8/10). Adapun Brent futures di pasar keuangan berkisar US$100 per barel.

CNN menjelaskan bahwa harga barel fisik itulah yang pada akhirnya terbawa ke harga di SPBU. RakyatPos menambahkan, Dated Brent tersebut tidak jauh dari rekor sepanjang masa yang tercatat pada April.

Baca jugaTrump Janji Tak Serang Iran Sebelum Pemilu Paruh Waktu, Blokade Laut Tetap Berlaku

“Amerika Serikat tidak hidup terisolasi. Kami hidup dengan harga global karena kami mengimpor bensin,”

— Jan Stuart, global energy strategist Piper Sandler

Konflik lain dan stok yang menipis

Perang Iran bukan satu-satunya beban pasar. Serangan Houthi menyulitkan pelayaran di Selat Bab al-Mandeb, jalur vital lain perdagangan dunia. Di sisi lain, drone Ukraina merusak kilang-kilang Rusia, padahal negara itu termasuk pengekspor diesel terbesar.

Rusia lalu menahan ekspor BBM karena pasokan domestiknya kurang. China menempuh langkah serupa demi menjaga kecukupan pasokan sendiri. Sementara itu, kilang-kilang AS beroperasi pada kapasitas penuh, dan sebagian malah menurunkan output karena menjalani pemeliharaan berkala.

Bantalan pasar pun menipis. Cadangan komersial dan darurat dunia sempat meredam guncangan pada awal tahun, tetapi sekarang terkuras cepat. Kondisi itu mengerek premi pada harga kini, walaupun arus minyak lewat Hormuz telah hampir pulih seperti sebelum perang.

“Persediaan kami sangat, sangat sedikit. Kami tidak memiliki penyangga lagi,”

— Jan Stuart, global energy strategist Piper Sandler

Apa yang dibutuhkan agar harga turun

Stuart menilai perang belum tuntas, perdamaian belum tercapai, dan sistem energi masih serba terbatas. Kloza berpendapat tekanan baru benar-benar mereda bila ketiga konflik berakhir, atau minimal dua di antaranya.

Dengan demikian, pembukaan Selat Hormuz baru mengatasi sebagian masalah. Selama bahaya pelayaran, pembatasan ekspor, dan stok tipis masih ada, harga minyak fisik dan BBM cenderung bertahan tinggi, menurut para analis yang dikutip kedua sumber tersebut.