Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Senin (5/10/2026). Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi yang terburuk pagi itu dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 4.031.

Asap dari kebakaran tersebut juga terbawa ke luar negeri. Otoritas Singapura melaporkan udara di beberapa wilayah negara itu kembali berstatus tidak sehat.

Palangka Raya, Murung Raya, dan Palembang terburuk

Menurut KLH, sejumlah daerah di Kalimantan dan Sumatra masih diselimuti asap dengan kualitas udara pada level "tidak sehat" hingga "berbahaya". Selain Palangka Raya, ISPU di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, tercatat 1.333. Di Kota Palembang, Sumatra Selatan, nilainya 1.020.

Di sisi lain, KLH mencatat sebagian wilayah berudara baik. Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi yang paling sehat dengan ISPU hanya 5.

Kategori ISPU "berbahaya" berlaku untuk nilai di atas 300. KLH menyatakan pada level itu semua orang dianjurkan menghindari aktivitas di luar ruangan, dan kelompok sensitif sebaiknya tetap di dalam ruangan.

Asap pekat di Palembang

Di Palembang, kabut asap pada Minggu (4/10) semakin pekat dan mengurangi jarak pandang. Menurut BMKG, level udara di kota itu berada pada kategori berbahaya. Di Jalan Soekarno Hatta, sejumlah pengendara menyalakan lampu kendaraan agar terlihat, dan asap membuat mata perih.

Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG mencatat kategori berbahaya sejak pukul 02.00 WIB dengan angka 358,7 µg/m³. Angka itu naik menjadi 641,4 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB dan 784,8 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB, lalu mencapai puncak 903,6 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.

“Iya, masih dalam kategori berbahaya, sejak dini hari hingga pagi ini. Angkanya mencapai angka tertinggi pada pukul 05.00 WIB sebesar 903,6 µg/m³, dimana angka tersebut menjadi nilai tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini”

— Wandayantolis, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Angka PM2.5 kemudian turun menjadi 673,4 µg/m³ pukul 06.00 WIB dan 271,7 µg/m³ pukul 08.00 WIB. Pada pukul 16.00 WIB, angkanya kembali naik ke level berbahaya, yakni 495,6 µg/m³.

Baca jugaBMKG Makassar: Kualitas Udara Sulsel Memburuk, Asap Karhutla Kalimantan Diduga Terbawa Angin

Dampak kesehatan dan korban jiwa

CNN Indonesia melaporkan kabut asap telah menyelimuti sejumlah wilayah Sumatra Selatan selama hampir dua bulan terakhir. Seorang pengemudi ojek online, Ardiansyah (41), warga Palembang, meninggal setelah mengalami sesak napas.

Pihak keluarga menduga kondisi itu berkaitan dengan paparan asap karhutla. Istrinya, Rita Yunita, mengatakan Ardiansyah punya riwayat asma dan lebih sering batuk serta sesak setelah beraktivitas di luar rumah sejak asap mulai menyelimuti kota.

Asap ikut mengganggu udara Singapura

Menurut Tribunnews, udara di beberapa wilayah Singapura kembali tidak sehat pada Senin dini hari, 5 Oktober 2026. Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura mengamati asap dengan kepadatan sedang hingga pekat bergerak dari Sumatra bagian selatan, serta kabut asap dari kebakaran lahan di Kalimantan.

Pukul 06.00, angka PSI 24 jam di wilayah tengah Singapura mencapai 110 dan di wilayah barat 102. Kategori tidak sehat berlaku pada rentang 101 hingga 200. Angka tertinggi tahun ini, 167, tercatat di wilayah tengah pada 29 September.

NEA memperkirakan kondisi kering berlanjut pada 5 Oktober. Angin yang diperkirakan bertiup dari tenggara atau barat daya membuat risiko kabut asap tetap ada.