Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year). Data itu diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10/2026). Kenaikan harga cabai dan daging ayam ras menjadi salah satu pendorong utamanya.

Angka inflasi tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang berada di level 2,65 persen. Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat 0,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,17 persen.

Indeks Harga Konsumen dan inflasi bulanan

Inflasi bulanan itu tecermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September 2026.

Menurut CNBC Indonesia, angka bulanan tersebut sejalan dengan konsensus pasar dari 12 institusi yang memperkirakan inflasi 0,30 persen secara bulanan. Untuk inflasi tahunan, konsensus yang sama memperkirakan 3,30 persen, sedikit di atas realisasi.

CNBC Indonesia juga menyebut kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan, terutama daging ayam ras dan cabai, sebagai salah satu sumber tekanan terbesar terhadap inflasi secara umum.

Makanan, minuman, dan tembakau jadi pendorong utama

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai pendorong utama inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi 0,88 persen dan memberikan andil 0,26 persen.

Dalam kelompok tersebut, cabai rawit menyumbang andil 0,08 persen dan cabai merah 0,06 persen. Daging ayam ras memberi andil 0,05 persen, beras 0,03 persen, serta telur ayam ras 0,02 persen. Kangkung disebut menyumbang 0,01 persen, dan CNN Indonesia mencatat ikan segar dengan andil yang sama.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama cabai rawit dengan andil sebesar 0,08 persen, cabai merah andil sebesar 0,06 persen, daging ayam ras dengan andil sebesar 0,05 persen, beras dengan andil sebesar 0,03 persen, telur ayam ras andil 0,02 persen, serta ikan segar dan kangkung dengan andil masing-masing sebesar 0,01 persen”

— Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS

Inflasi inti, harga diatur pemerintah, dan sebaran wilayah

Inflasi inti tercatat 0,10 persen dengan andil 0,06 persen. Komoditas yang dominan memberi andil adalah biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Adapun inflasi komponen harga yang diatur pemerintah sangat rendah atau mendekati nol. Pada komponen itu, bensin menjadi komoditas dominan yang memberi andil inflasi, sedangkan tarif angkutan udara menyumbang deflasi.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,14 persen dengan andil 0,01 persen. Emas perhiasan menjadi komoditas dominan penyumbang deflasi di kelompok ini.

Menurut sebaran wilayah, 36 provinsi mengalami inflasi bulanan dan 2 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 3,53 persen, sedangkan deflasi terdalam tercatat di Nusa Tenggara Timur sebesar 0,35 persen.