Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington siap membantu Rusia setelah seorang pekerja laboratorium meninggal di institut penelitian pes di Irkutsk, Siberia. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan pada Selasa (6/10/2026), menurut laporan detikNews yang mengutip Reuters.

Belum ada konfirmasi resmi dari Rospotrebnadzor maupun Gubernur Irkutsk soal kebocoran bakteri dari laboratorium atau penyebab pes. Kepala Republik Buryatia menyebut korban meninggal akibat pes, sedangkan otoritas Irkutsk menyebut pneumonia yang belum diketahui penyebabnya.

Kronologi dan pemantauan di Irkutsk

Media lokal pada Jumat (2/10/2026) melaporkan seorang karyawan berusia 27 tahun di institut antipes jatuh sakit dengan dugaan pes paru-paru. Menurut saluran Telegram Rusia, Mash, ia baru kembali dari perjalanan kerja ke Buryatia, wilayah dekat perbatasan Mongolia.

Laporan media Rusia menyebut 189 orang dipantau di rumah sakit karena diduga terpapar. BBC News Indonesia menyebut hampir 200 orang yang pernah berkontak dengan korban berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.

Baca jugaRusia Bantah Kematian Pekerja Institut Antipes Irkutsk Akibat Pes dari Lab, Kemenkes Pastikan Pengawasan Berjalan

Versi otoritas yang belum seragam

Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, pada Minggu (4/10/2026) menyatakan korban didiagnosis pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya. Lembaga itu menyebut situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, kota Irkutsk, dan Shelekhov tetap stabil.

Gubernur Irkutsk Igor Kobzev mengatakan tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan korban dalam sampel biologisnya. Ia juga menyebut belum ada staf lain dari institut itu yang mencari pertolongan medis sejak kematian tersebut. Tim keamanan hayati, menurut Rospotrebnadzor, telah memeriksa institut dan tidak menemukan situasi darurat.

Okezone melaporkan kepala Republik Buryatia, Alexei Tsydenov, menyebut korban meninggal akibat bentuk pes yang belum ditentukan. Pernyataan ini berbeda dengan penjelasan otoritas kesehatan di Irkutsk, dan sumber yang ada belum menjelaskan perbedaan tersebut.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, meminta masyarakat tidak mendengarkan rumor dan berpegang pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor.

Tanggapan Amerika Serikat

Trump mengatakan belum membicarakan masalah ini dengan Kremlin dan menyatakan AS akan membantu pihak yang menghadapi persoalan semacam itu. Ia tidak menjelaskan bentuk bantuan yang dimaksud. Axios sebelumnya melaporkan, mengutip pejabat pemerintahan Trump, bahwa Washington memantau kemunculan wabah dan menilai berbagai pilihan.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan ada kekhawatiran infeksi menyebar setidaknya secara internal di laboratorium, dan Rusia telah melakukan karantina. Namun, ia menilai situasinya tidak perlu disikapi dengan kepanikan.

“Saya rasa ini bukan alasan untuk panik, tetapi memang perlu mendapat perhatian dan terus diawasi, dan itulah yang sedang kami lakukan.”

— Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat

Mengapa pes pneumonik jadi perhatian

Pes disebabkan bakteri Yersinia pestis, yang ditemukan pada hewan pengerat seperti marmot di kawasan tersebut. Institut antipes di Irkutsk didirikan lebih dari 100 tahun lalu sebagai respons wabah pada dekade 1920-an.

Dr Simon Clarke, profesor madya mikrobiologi seluler di University of Reading, mengatakan kepada BBC Radio 4 bahwa pes pneumonik hampir selalu fatal bila tidak diobati, tetapi bisa ditangani dengan antibiotik. Menurutnya, penyakit itu dapat menular antarmanusia, tetapi skenario seperti karantina wilayah era Covid tidak akan terjadi.

Ditanya soal kemungkinan patogen itu diteliti sebagai senjata biologis, Clarke menjawab hal tersebut mungkin, tetapi ia menilai penjelasan lain lebih mungkin. Penyebab pasti kematian korban belum dipublikasikan secara rinci.