Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menyebut kualitas udara di Makassar dan sekitarnya memburuk dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya diduga asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan yang terbawa angin ke Sulawesi Selatan, kata prakirawan BMKG pada Sabtu (3/10) dan Minggu (4/10).
Kualitas udara Makassar memburuk
Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, mengatakan indikator partikulat halus PM2,5 di Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, masuk kategori sedang hingga kurang sehat dalam beberapa hari ini. Dalam laporan detikcom, kategori yang disebut adalah sedang hingga tidak sehat.
Menurut detikcom, berdasarkan data di laman BMKG, angka PM2,5 untuk wilayah pemantauan Maros pada Sabtu (3/10/2026) berada di 55,7 µg/m³. Sementara itu, wartabelanegara melaporkan data dari laman qi.in.id sekitar pukul 10.25 WITA yang mencatat PM2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik, dengan kategori tidak sehat pada parameter yang ditampilkan.
Kualitas udara cenderung memburuk pada dini hari, tengah malam, hingga pagi. Asriani menyebut kondisi itu terpantau hingga menjelang siang, lalu kembali membaik ketika memasuki siang.
Arah angin dan sumber asap
Asriani menjelaskan, pola angin menjadi salah satu indikator dugaan masuknya asap dari luar Sulawesi Selatan. Ketika angin bertiup dari barat hingga barat laut, partikel asap dari Kalimantan berpotensi terbawa ke Sulsel. Jika angin dominan dari timur, asap dari Papua dan Maluku juga bisa masuk.
Wartabelanegara melaporkan pengamatan Automatic Weather Station BMKG di Paotere menunjukkan dominasi angin barat pada periode tertentu. Angin pembawa asap dalam beberapa hari terakhir disebut bergerak dari barat daya hingga barat laut, dan arahnya dapat berubah dari timur ke barat.
BMKG juga menilai asap kendaraan bermotor belum menjadi faktor dominan. Asriani menyebut kondisi lalu lintas masih normal.
“Kalau asap kendaraan kayaknya belum. Karena masih normal-normal saja. Jadi faktor utamanya asap”
— Asriani Idrus, Prakirawan BMKG Makassar
Prakiraan dan imbauan BMKG
BMKG masih memantau titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Kalimantan. Asriani menyebut jumlahnya masih banyak dan belum mereda, sehingga kondisi serupa masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan. Menurut wartabelanegara, BMKG memantau cuaca, arah angin, dan sebaran asap selama 24 hingga 72 jam ke depan.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika berada di luar rumah.
Cuaca panas dinilai masih normal
Selain soal udara, BMKG menyebut cuaca panas di Makassar dan sejumlah wilayah Sulsel masih tergolong normal karena wilayah itu berada di musim kemarau. Suhu udara berkisar 30 hingga 35 derajat Celsius.
Menurut Asriani, suhu yang dirasakan tubuh bisa lebih tinggi karena dipengaruhi indeks panas, yakni kombinasi suhu udara, kelembapan, arah angin, dan radiasi matahari.



