Houthi menyatakan wilayah udara Arab Saudi sebagai zona operasi militer dan meminta maskapai internasional berhenti terbang di sana. Seruan itu mengiringi klaim kelompok Yaman tersebut telah menembakkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta kilang Aramco di Rabigh, Selasa (6/10/2026).
Apa yang diklaim Houthi
Dalam pernyataan yang dikutip dari kantor berita Saba, Houthi menyebut serangan pertamanya mengenai bandara di Riyadh dan mengacaukan lalu lintas udara. Serangan kedua, menurut mereka, menghantam kilang Aramco di Rabigh sehingga memicu kebakaran di lokasi.
Houthi menambahkan, operasi ketiga menyasar Bandara Abha, Pangkalan Udara Khamis Mushait, dan kamp Aqifa di wilayah Asir. Beberapa titik di Najran dan Jizan, yang oleh media lain ditulis Jazan, ikut disebut sebagai target.
Laporan yang dikutip Tribunnews menyatakan belum ada verifikasi independen tentang besarnya kerusakan, kebakaran, maupun durasi gangguan penerbangan di bandara. Menurut detikNews yang mengutip AFP dan Al Jazeera, ledakan keras mengguncang Riyadh pada Senin malam.
Tanggapan Arab Saudi
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada Senin (5/10) mengecam serangan Houthi terhadap warga serta fasilitas sipil dan ekonomi. Riyadh menuding Houthi juga membidik Mekah dan Madinah dengan rudal dan drone. Menurut ANTARA, tudingan itu dibantah Houthi.
Kemlu Saudi menyebut serangan ke fasilitas energi melukai warga sipil dan merusak properti. Riyadh menegaskan berhak membela wilayah dan kedaulatannya sesuai hukum internasional, serta menuduh Houthi menampik perdamaian dan memilih terus berperang.
Saudi juga memperbarui dukungan politik dan militernya kepada pemerintah Yaman. Menurut detikNews, Riyadh meminta komunitas internasional, terutama anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ikut memberi dukungan.
Turki dan Pakistan siapkan pasukan
Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman menyatakan aliansi pertahanan yang beranggotakan Riyadh, Turki, dan Pakistan sepakat menjalankan langkah pencegahan kolektif atas serangan tersebut. Ketiga negara menandatangani pakta pertahanan semacam NATO pada Agustus lalu.
Kemlu Pakistan menyatakan Islamabad dan Ankara akan mengirim pasukan serta kemampuan militer sesuai kesepakatan ke Arab Saudi, dengan pengerahan yang cepat. Informasi ini dilaporkan CNN Indonesia.
Konteks operasi di Yaman
Sikap Saudi itu menyusul pengumuman Rashad Al-Alimi, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, pada Senin (5/10) soal operasi gabungan "Fajar Yaman". Operasi tersebut bertujuan memulihkan lembaga negara, merebut Sanaa, dan mengakhiri kendali Houthi.
Militer Yaman mengaku telah menguasai Bab El-Mandeb dan kota Mokha, serta melancarkan lebih dari 1.000 serangan. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan 100 pesawat tempur beraksi saat fajar, sementara angkatan lautnya menghantam target militer Houthi di Hodeida. Menurut ANTARA, Houthi belum menanggapi klaim kemajuan pasukan Yaman.
Pada 20 Juli 2026, Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Saudi. Mereka menyebutnya balasan atas pembatasan laut dan udara Saudi di wilayah Yaman yang mereka kuasai. Koalisi pimpinan Saudi mendukung pemerintah Yaman sejak 2015, sedangkan Houthi menguasai Sanaa dan beberapa provinsi sejak 2014.



