Arab Saudi, Pakistan, dan Turki sepakat mengaktifkan langkah pertahanan kolektif dan menyiapkan pasukan yang akan dikirim ke wilayah Saudi. Keputusan itu diambil dalam pertemuan darurat di Riyadh, menyusul rentetan serangan kelompok Houthi dari Yaman. Menurut CNBC Indonesia, pasukan belum dikerahkan.
Isi kesepakatan Aliansi Pertahanan Makkah
Kesepakatan dicapai dalam pertemuan darurat Komite Strategis Politik dan Pertahanan Aliansi Makkah. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Senin, seperti dikutip CNBC Indonesia dari Al Jazeera, ketiga negara menyebut serangan Houthi sebagai aksi keji.
Masing-masing negara berjanji menyiapkan pasukan serta kemampuan militer sesuai kesepakatan, lalu akan mengirimkannya ke Arab Saudi dengan cepat. Pelaksanaannya mengikuti pengaturan yang telah disetujui dan hukum yang berlaku di masing-masing negara.
Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman menyatakan, negara anggota aliansi yang kerap dijuluki "NATO Muslim" itu sepakat mengaktifkan pengerahan pasukan sebagai respons atas serangan dan semua pihak yang bertanggung jawab.
Serangan Houthi dan respons koalisi Saudi
CNN Indonesia melaporkan Houthi menyatakan telah menyerang bandara internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco milik Arab Saudi. Seorang juru bicara Houthi menyebut serangan juga menyasar lokasi lain di wilayah selatan Saudi. Sehari sebelumnya, Houthi disebut menyerang infrastruktur minyak Riyadh hingga pemompaan di pipa Timur-Barat terhenti.
Baca jugaFasilitas Aramco di Riyadh Terbakar, Houthi Klaim Serang dengan Rudal Balistik dan Drone
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah menghancurkan situs Houthi di pesisir Laut Merah. Sasarannya mencakup gudang senjata, fasilitas penyimpanan kapal bermuatan bahan peledak, dan ranjau laut.
Ketegangan kembali meningkat setelah bandara di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, diserang militer Yaman pada 13 Juli. Houthi menuduh Saudi berada di balik serangan itu. Gencatan senjata kedua pihak pada 2022 pun berakhir.
Latar belakang pakta dan pertanyaan soal pelaksanaan
Kesepakatan pembentukan aliansi diteken pada 7 Agustus 2026. Salah satu poin utamanya menyatakan serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap seluruh anggota, prinsip yang mirip pertahanan kolektif NATO. Kesepakatan awal belum merinci kewajiban militer maupun bentuk bantuan tiap negara.
Tekanan terhadap pakta meningkat setelah Houthi meluncurkan rentetan rudal ke Arab Saudi pada awal September. Saat itu Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan kepada Geo News bahwa perluasan konflik Yaman ke Saudi akan memberlakukan kesepakatan.
“Jika terjadi agresi yang tidak beralasan, atau apa pun yang terjadi di Yaman meluas ke Arab Saudi, tentu saja kesepakatan Mekkah akan mulai berlaku,”
— Khawaja Asif, Menteri Pertahanan Pakistan
Menurut CNBC Indonesia, hingga kini belum ada pengerahan pasukan. Analis menilai Pakistan dan Turki masih berupaya menjaga peran sebagai mediator dalam konflik Amerika Serikat dan Iran. Houthi diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran.
Keputusan ini berlangsung saat pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Dalam hitungan Global Firepower Index 2026, gabungan kekuatan ketiga negara anggota mencakup hampir 1,4 juta personel aktif, sekitar 3.400 pesawat, 6.000 tank, dan lebih dari 340 aset angkatan laut.
Baca jugaRashad Al Alimi Umumkan Operasi Militer Yaman untuk Rebut Kembali Wilayah yang Dikuasai Houthi
Kedua media menulis tanggal serangan hari Senin dengan angka berbeda, yakni 4 dan 5 Oktober, sehingga artikel ini hanya merujuk pada hari Senin.



