Kualitas udara Jakarta pada Rabu (7/10) pagi masuk kategori tidak sehat dan berada di urutan kelima kota dengan udara terburuk di dunia. Data situs pemantau IQAir pukul 06.20 WIB mencatat indeks kualitas udara (AQI) ibu kota di angka 157.
Warga dianjurkan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Peringkat kualitas udara dunia Rabu pagi
Menurut data IQAir yang dikutip ANTARA, kota dengan udara terburuk di dunia pada waktu itu adalah Kuala Lumpur, Malaysia, dengan AQI 214. Kolkata, India, berada di urutan kedua dengan angka 184, disusul Dhaka, Bangladesh, di angka 179.
Angka 157 menempatkan Jakarta dalam kategori tidak sehat. Pada kategori ini, udara dinilai tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan rentang PM2,5 66-150 menurut penjelasan dalam laporan ANTARA.
Laporan ANTARA tidak menyebut penyebab buruknya udara Jakarta pagi itu. Karena itu, kaitannya dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum dinyatakan oleh sumber yang tersedia.
Respons cepat Pemprov DKI untuk musim kemarau
ANTARA melaporkan Pemprov DKI Jakarta menyiapkan respons cepat menanggulangi pencemaran udara saat musim kemarau, yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus. Langkahnya mencakup peningkatan sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor.
Sumber tidak menyebut langkah itu sebagai tanggapan khusus atas kondisi udara Rabu pagi. Pemprov juga sedang mengevaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara dari berbagai aspek, antara lain tren PM2,5, beban emisi per sektor, dan dampak kesehatan.
Menurut Pemprov, pengendalian pencemaran udara tidak bisa dilakukan satu wilayah secara parsial. Diperlukan aksi terintegrasi antarorganisasi perangkat daerah dan kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.
Terpisah: BNPB sebut karhutla di enam provinsi gambut masih berat
Dalam laporan lain, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto menyatakan karhutla masih berat di enam provinsi berlahan gambut. Keenamnya adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Ia menyampaikan hal itu saat menerima kunjungan Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (6/10). Menurut Suharyanto, tim gabungan sedang memadamkan api di sekitar 186 hektare lahan gambut. Laporan itu tidak membahas kualitas udara Jakarta.
Kondisi terparah, kata Suharyanto, terpantau di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kabut asap pekat di dua wilayah itu dilaporkan mengganggu penerbangan.
Di Jambi, titik api baru kembali muncul di kawasan Taman Nasional Bukit Sembilan dan sempat menghanguskan hingga 300 hektare. Luas api di sana kini ditekan menjadi sekitar 140 hektare.
“Pemadaman di lahan gambut sangat sulit. Hari ini bisa dipadamkan semua, belum tentu besok sudah selesai karena bisa muncul titik kebakaran baru.”
— Suharyanto, Kepala BNPB
BNPB mengakui jumlah warga yang jatuh sakit akibat paparan asap meningkat. Lembaga itu berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, dan masker telah dibagikan secara masif di wilayah terdampak.
Suharyanto juga menyoroti El Nino 2026 yang datang lebih cepat dari siklus biasanya dan ikut berpengaruh pada karhutla. BNPB menyatakan akan terus memadamkan api dan menyalurkan peralatan bagi warga terdampak selama sebulan ke depan.



