Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat pagi, 9 Oktober 2026. Rupiah naik 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.896 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.915.
Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan
Dengan posisi itu, rupiah kembali bergerak di bawah level Rp17.900 per dolar AS, menurut VIVA. Katadata merujuk data Bloomberg untuk angka pembukaan tersebut.
Katadata mencatat, pada pukul 09.08 WIB rupiah berada di level Rp17.901 per dolar AS. CNN Indonesia melaporkan rupiah di level Rp17.900 pada pagi yang sama, menguat 15 poin atau 0,08 persen. Tiap media melaporkan angka yang berbeda, dan sumber tidak menjelaskan penyebab selisih tersebut.
VIVA menyebut data yang tersedia baru menunjukkan posisi pembukaan. Pergerakan sepanjang sesi perdagangan belum dapat dipastikan.
Faktor pendorong penguatan
Analis DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan penguatan rupiah dipicu meredanya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan melemahnya indeks dolar AS.
Menurut Katadata, yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun sempat menembus 5,365% pada Rabu (7/10) waktu setempat, level tertinggi sejak April 2002. Imbal hasil tenor 30 tahun mencapai 5,732%, tertinggi sejak Mei 2002. Yield tenor 10 tahun kemudian menjauh dari level puncaknya setelah Departemen Keuangan AS melelang obligasi 10 tahun senilai US$ 39 miliar.
Menurut Lukman, optimisme akan tercapainya damai di Timur Tengah ikut menopang pasar. Optimisme itu muncul karena Presiden AS Donald Trump mengungkap kemajuan positif dalam negosiasi dengan Iran.
“Sentimen positif ini didorong oleh meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah, menyusul pernyataan Trump mengenai adanya perkembangan positif dalam perundingan dengan Iran,”
— Lukman Leong, analis Doo Financial
Mata uang Asia dan faktor domestik
Menurut CNN Indonesia, rupiah bergerak sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Yuan China naik 0,07 persen, peso Filipina 0,15 persen, ringgit Malaysia 0,07 persen, dolar Singapura 0,11 persen, dan yen Jepang 0,01 persen. Won Korea Selatan melemah 0,03 persen, sedangkan dolar Hong Kong stagnan.
Mata uang utama negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Euro naik 0,13 persen, poundsterling 0,12 persen, dolar Australia 0,24 persen, dolar Kanada 0,11 persen, dan franc Swiss 0,18 persen.
Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu publikasi data penjualan ritel bulan Agustus. Untuk hari ini, Lukman memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.



