Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa serangan lanjutan terhadap Iran mungkin akan dilancarkan. Pernyataan itu ia sampaikan kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (22/10/2026), ketika perundingan kedua negara untuk mengakhiri perang disebut berjalan di tempat.

Di waktu yang berdekatan, NBC News melaporkan bahwa militer AS mulai memindahkan pasukan dari sejumlah pangkalan di Timur Tengah. Berikut rangkuman apa yang diketahui dari dua laporan itu dan apa yang belum jelas.

Latar belakang singkat konflik AS dan Iran

Perang antara AS dan Iran berlangsung sejak Februari lalu. Menurut laporan NBC yang dikutip Okezone, serangan awal AS-Israel dilancarkan pada 28 Februari. Sejak itu kedua pihak disebut berupaya merundingkan akhir perang, tetapi proses tersebut kini mandek.

Sebelum serangan awal itu, Pentagon memindahkan banyak pasukan dari pangkalan yang dianggap rentan. Tujuannya melindungi mereka dari kemungkinan pembalasan Iran. Pola inilah yang kini dibandingkan oleh sumber NBC dengan situasi terbaru.

Apa yang dikatakan Trump soal serangan lanjutan

Menurut CNN Indonesia, Trump menyatakan AS telah menghantam Iran habis-habisan dan masih mungkin melancarkan serangan lebih lanjut. Ia juga sempat mengatakan bahwa saat ini tidak ada pembicaraan apa pun dengan Iran.

Trump selama ini membela keputusannya menyerang Iran dengan alasan ingin mencegah Teheran mengembangkan dan memiliki senjata nuklir.

Saat ditanya tentang dampak perang terhadap pemilihan paruh waktu AS, seperti dikutip dari Al Jazeera, Trump mengeklaim memperoleh dukungan publik. Menurut dia, sebagian pemilih menyukai langkahnya karena ia melakukan sesuatu yang menurutnya seharusnya sudah dilakukan presiden-presiden terdahulu. Ia mengakui pula bahwa sebagian lain mungkin menentang.

Trump menyebut keputusan itu membawa konsekuensi yang sudah ia sadari sejak awal. Klaim dukungan publik tersebut merupakan pernyataan Trump sendiri; sumber yang tersedia tidak memuat data survei yang mendukung atau membantahnya.

“Namun, kita tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”

— Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Laporan penarikan pasukan dari pangkalan regional

NBC News, pada Rabu (21/10/2026), melaporkan bahwa militer AS diam-diam mulai menarik pasukan dari berbagai pangkalan di Timur Tengah. Laporan itu mengutip dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui masalah tersebut, sebagaimana dikutip Okezone.

Pasukan yang ditempatkan di Yordania, Qatar, dan Kuwait disebut termasuk yang dipindahkan. Washington dikabarkan tetap mempertahankan kehadiran terbatas di pangkalan-pangkalan itu, antara lain personel untuk pertahanan udara dan keamanan.

Menurut laporan tersebut, pola ini menyerupai persiapan Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS menjelang serangan awal AS-Israel pada 28 Februari. Perbandingan itu berasal dari para pejabat dan sumber yang dikutip NBC, bukan pernyataan resmi pemerintah AS.

Baca jugaIRGC Sebut Target Baru Akan Diungkap, Soroti Tujuh Kabel Internet Bawah Laut Selat Hormuz

Tanggapan dan klaim para pihak

Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Timothy Hawkins, menolak membahas laporan tentang pergerakan pasukan itu. Ia hanya menyatakan bahwa pasukan AS secara berkala diposisikan ulang untuk mengoptimalkan kesiapan misi dan tetap siaga melindungi personel serta kepentingan AS.

Dari pihak Iran, Okezone mencatat bahwa menjelang serangan 28 Februari Teheran menuduh Washington memakai wilayah di negara-negara Teluk sebagai perisai manusia. Tuduhan itu muncul setelah ribuan personel militer AS berlindung di hotel dan gedung perkantoran sipil. Sumber yang tersedia tidak memuat tanggapan AS atas tuduhan tersebut.

Perintah evakuasi diplomat dari Arab Saudi

Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan personel tidak esensial beserta keluarganya meninggalkan Arab Saudi. Alasannya, meningkatnya serangan gerakan Houthi dari Yaman terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lain.

Menurut NBC News, perintah bagi staf diplomatik untuk meninggalkan sejumlah misi di kawasan itu berjalan bersamaan dengan penarikan pasukan. Laporan tersebut menggambarkan kedua langkah itu sebagai bagian dari pertimbangan Trump untuk melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran.

Baca jugaKemenhaj Imbau Jemaah Umrah Pilih Penerbangan Langsung; Aramco Minta Staf Dhahran Kerja dari Jarak Jauh

Mengapa ini penting dan apa yang belum jelas

Dua informasi ini, isyarat politik dari Presiden dan laporan pergerakan militer, berjalan bersamaan dengan negosiasi yang mandek. Namun keduanya belum menunjukkan keputusan final. Trump menyebut serangan lanjutan sebagai kemungkinan, bukan perintah, dan CENTCOM tidak mengonfirmasi maksud penarikan pasukan.

Apakah serangan sudah diputuskan?

Belum ada konfirmasi dalam sumber. Pernyataan Trump menggunakan kata "mungkin", dan laporan NBC menyebut presiden masih mempertimbangkan opsi tersebut.

Apakah penarikan pasukan berarti AS mundur?

Tidak selalu. Laporan menyebut AS tetap mempertahankan kehadiran terbatas di pangkalan-pangkalannya. CENTCOM menggambarkan pergeseran itu sebagai pemosisian ulang berkala, sedangkan NBC membandingkannya dengan persiapan menjelang serangan Februari.

Apa yang belum terjawab?

Jumlah pasukan yang dipindahkan, waktu pasti kemungkinan serangan, dan sikap resmi Iran atas pernyataan terbaru Trump tidak dijelaskan dalam sumber. Perkembangan lanjutan perlu dipantau dari pernyataan resmi Washington dan Teheran.