Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz tertutup bagi kapal Amerika Serikat (AS) dan Israel, serta mengisyaratkan kabel internet bawah laut di kawasan itu bisa terdampak jika terjadi serangan. Pernyataan tersebut disampaikan sejumlah pejabat Iran pada 19–20 Oktober 2026, sebagaimana dilaporkan Tribunnews dan Republika.

Pernyataan pejabat IRGC soal Selat Hormuz

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengatakan selat itu sepenuhnya tertutup bagi kapal AS dan Israel. Menurut dia, kapal perang AS berada sekitar 700 kilometer dari selat tersebut.

Mohebbi juga membantah klaim AS bahwa pengiriman minyak masih berlangsung lewat jalur itu. Dalam wawancara dengan televisi Iran, ia menyebut klaim tersebut sepenuhnya salah. Menurutnya, keberadaan beberapa kapal kecil yang diduga menyelundupkan minyak tidak membuktikan selat telah kembali terbuka.

Isyarat ancaman terhadap kabel internet bawah laut

Wakil Komandan IRGC untuk Urusan Politik, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, menyampaikan peringatan pada Selasa (20/10/2026), mengutip Al Mayadeen. Ia mengatakan Iran memiliki teknologi untuk menyerang pangkalan militer AS di luar kawasan Asia Barat.

“Kabel-kabel vital di Selat Hormuz tidak akan aman jika infrastruktur kita menjadi sasaran”

— Yadollah Javani, Wakil Komandan IRGC untuk Urusan Politik

Dalam peluncuran publikasi di Museum Pertahanan Suci, Teheran, Senin (19/10/2026), Mohebbi menyebut ada tujuh kabel komunikasi utama di dasar selat. Ia mengatakan sasaran dan senjata baru akan diperlihatkan jika ketegangan dengan AS kembali meningkat, menurut laporan media Iran yang dikutip Republika.

Republika mencatat bahwa pernyataan IRGC itu belum merupakan pengumuman keputusan pemerintah Iran untuk menyerang atau memutus kabel. Belum ada pula laporan terkonfirmasi bahwa tujuh kabel tersebut telah diserang.

Secara terpisah, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menyatakan militer Iran akan membalas setiap agresi dengan kekuatan penuh.

Tanggapan Qatar dan konteks ketegangan

Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa (20/10/2026) memperingatkan Iran agar mempertimbangkan konsekuensi luas bila kabel komunikasi internasional diserang. Direktur Media kementerian itu, Ibrahim Al Hashmi, menyatakan pemutusan kabel dapat merugikan negara kawasan, termasuk masyarakat Iran sendiri, menurut The National yang dikutip Republika.

Al Hashmi juga menyebut gangguan kabel, ancaman ranjau laut, dan pencemaran minyak dapat merugikan negara yang bergantung pada jalur perdagangan dan infrastruktur regional. Qatar menyerukan penghormatan terhadap kebebasan navigasi. Doha menyatakan komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih berlangsung, meski perundingan belum membuahkan penyelesaian.

Republika melaporkan, perang AS-Israel melawan Iran telah memasuki bulan kedelapan. Operasi besar sebagian besar mereda setelah kesepahaman pada Juni, tetapi serangan terhadap kapal komersial kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Al Jazeera pada 13 Oktober 2026, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terhadap kabel komunikasi, pusat data, dan fasilitas AI. Andreas Krieg dari King's College London menilai ancaman itu perlu ditanggapi serius, tetapi membedakan kemampuan menimbulkan gangguan besar dari kemampuan menghancurkan infrastruktur digital secara menyeluruh.

Dalam sumber yang tersedia, belum tampak tanggapan resmi AS atau Israel atas pernyataan terbaru IRGC tersebut.