Washington dikabarkan telah meminta Departemen Perang merumuskan beberapa pilihan aksi militer atas Iran sebelum pemilu paruh waktu Kongres. Informasi dari The Atlantic pada Rabu itu beriringan dengan naiknya harga minyak dunia pada Kamis (8/10), saat Brent mencapai US$ 101,19 per barel.
Apa yang dilaporkan The Atlantic
The Atlantic mengutip dua pejabat pemerintahan yang menyebut Komando Pusat AS (CENTCOM) tengah menyiapkan rancangan itu. Keputusan akhir soal ada-tidaknya serangan belum diambil, dan diskusi mengenai luas serta tujuan operasi masih berjalan.
Menurut laporan tersebut, langkah ini menggambarkan keinginan Presiden Donald Trump menekan harga bensin dan memperlihatkan kemajuan dalam konflik sebelum warga memilih. Pada Selasa, Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran harus diakhiri, entah lewat cara baik atau cara yang tidak baik.
Katadata, merujuk laporan yang sama, menulis bahwa operasi terbatas dapat disusul tindakan lebih besar setelah pemilu. ANTARA juga mencatat bahwa skenario serangan pascapemilu turut dipertimbangkan. Seluruh informasi ini bersumber dari pejabat anonim dan belum dikonfirmasi secara resmi.
Latar konflik dan jadwal politik
Perang bermula ketika AS dan Israel menggempur sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari. Teheran lalu menyerang target Amerika di kawasan. Pada pertengahan Juni, kedua negara meneken nota kesepahaman gencatan permusuhan, namun bentrokan kembali terjadi sesudahnya.
Sengketa itu belum tuntas dan jalur diplomasi disebut masih ditempuh. Pemilu paruh waktu dijadwalkan pada 3 November untuk menentukan susunan Kongres periode berikutnya. Kaitan antara tanggal itu dan opsi militer adalah tafsiran The Atlantic berdasarkan pejabat yang dikutipnya, bukan pernyataan resmi pemerintah.
Dari sini tampak dua lapis perhitungan yang saling bertaut dalam laporan tersebut. Lapis pertama bersifat militer, yakni cakupan dan tujuan serangan yang masih dibahas. Lapis kedua bersifat politik domestik, yaitu harga bensin dan citra kemajuan konflik menjelang pemungutan suara. Karena belum ada keputusan final, keduanya sebaiknya dibaca sebagai opsi yang sedang dipertimbangkan, bukan rencana yang sudah pasti dijalankan.
Harga minyak di tengah laporan itu
Katadata mencatat Brent naik 1% ke US$ 101,19 per barel pada pukul 08.04 waktu Singapura, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% ke US$ 89,10 per barel. Sepanjang tahun ini harga minyak melonjak tajam karena konflik AS-Iran mengganggu ekspor, menggerus persediaan energi, dan mendorong inflasi global.
Di saat yang sama, pasokan Amerika sedang terganggu cuaca. Menurut Katadata, Badai Tropis Isaias membuat para produsen di Teluk Meksiko menyetop lebih dari 510.000 barel minyak mentah per hari, sekitar seperempat pasokan di wilayah itu. Badai tersebut diperkirakan menguat menjadi kategori 2 dalam beberapa hari ke depan. Sumber tidak merinci seberapa besar masing-masing faktor memengaruhi pergerakan harga hari itu.
“Arus pasokan dari Timur Tengah telah pulih, tetapi keterbatasan pasokan produk, biaya logistik yang ekstrem, dan tingginya risiko eskalasi Iran membuat harga tetap tinggi”
— Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee
CENTCOM menyatakan 20 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz, angka yang sama dengan volume harian sebelum perang. Meski begitu, ekspor yang meningkat diiringi bertambahnya serangan terhadap kapal. Yang terbaru menimpa sebuah tanker di perairan lepas Qatar dan melukai sejumlah orang.
Ongkos angkut ikut membengkak. Carter kapal tanker raksasa (VLCC) untuk membawa minyak AS ke Asia kini US$ 77 juta, jauh di atas rata-rata US$ 9,2 juta tahun lalu. Katadata menyebut risiko perang yang melebar, serangan terhadap kapal, dan permintaan dari titik pemuatan yang lebih jauh sebagai pendorong tarif angkutan laut yang bersejarah itu.
Dari sisi Amerika, data resmi menunjukkan ekspor minyak mentah dan produk minyak pekan lalu menyentuh level tertinggi sejak Mei, sekaligus rekor musiman. Persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel. Menurut Katadata, angka itu menunjukkan permintaan luar negeri yang kuat.
Sikap Iran dan eskalasi di kawasan
Reza Talaei-Nik, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, menegaskan bahwa agresi baru akan dibalas lebih keras. Menurut iNews, ia mengatakan militer sudah menetapkan target potensial dan menaikkan kapasitas produksi senjata guna menghadapi perang berkepanjangan.
Ditanya tanggapan atas serangan ke Gunung Pickaxe, yang menurut AS menjadi tempat penyimpanan nuklir, Talaei-Nik menyebut militernya sudah mengantongi sasaran musuh yang sepadan. Ia juga menyinggung kemampuan rudal dan drone, pertahanan udara yang ditingkatkan, serta kekuatan laut, darat, dan udara.
Di Arab Saudi, kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang dua bandara dan menewaskan tiga orang, menurut Katadata. Koalisi pimpinan Saudi membalas dengan klaim telah menghancurkan 82 target di Saada, Hodeida, Jawf, dan Marib.
Apa yang perlu dicermati
Sejauh ini yang terkonfirmasi hanyalah laporan media berbasis pejabat anonim: rencana masih disusun dan belum diputuskan. Harga minyak naik di tengah laporan itu, sementara Teheran telah memberi sinyal balasan. Perkembangan berikutnya bergantung pada keputusan Washington dan jalur diplomasi yang disebut masih berlangsung.
Ada beberapa hal yang belum terjawab dari sumber yang tersedia: apakah serangan benar-benar akan dilakukan, seberapa luas sasarannya, dan kapan waktunya. Pertanyaan yang sama berlaku bagi pasar. Pelaku usaha masih harus menimbang pasokan Timur Tengah yang disebut pulih terhadap risiko eskalasi yang dinilai analis tetap tinggi.



