Menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober, dua narasi berjalan bersamaan. Politikus oposisi Avigdor Lieberman memperingatkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mungkin memerintahkan serangan militer, termasuk ke Iran. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menahan diri dari dukungan terbuka kepada Netanyahu.
Analisis ini membaca kedua perkembangan itu berdampingan, berdasarkan laporan iNews dan CNBC Indonesia. Keduanya belum memuat rencana serangan yang dikonfirmasi pihak mana pun.
Peringatan Lieberman soal langkah militer sebelum pemilu
Lieberman, pemimpin Partai Yisrael Beiteinu dan mantan Menteri Pertahanan, menyatakan Netanyahu secara aktif mengupayakan langkah militer sebelum pemilu, baik terhadap Iran, Hizbullah, maupun Hamas. Pernyataan itu dikutip iNews dari surat kabar Israel Hayom pada Rabu (14/10/2026).
Dalam narasi pembukanya, iNews merumuskan bahwa Netanyahu mungkin menyerang Iran, Lebanon, hingga Jalur Gaza. Rumusan itu berasal dari penulis iNews, bukan kutipan langsung Lieberman, yang menyebut Iran, Hizbullah, dan Hamas.
Lieberman menuduh Netanyahu lebih mengutamakan kelangsungan karier politik daripada keamanan nasional. Menurut dia, kesediaan Netanyahu melanjutkan atau memperpanjang konflik didorong hasrat tetap berkuasa, bukan pertimbangan keamanan.
Ini adalah tuduhan dari lawan politik, bukan informasi resmi tentang rencana operasi. Sumber yang tersedia tidak memuat tanggapan Netanyahu atas tudingan tersebut. Karena itu, peringatan Lieberman lebih tepat dibaca sebagai bagian dari persaingan menjelang pemilu.
Trump menjaga jarak dari Netanyahu
CNBC Indonesia, mengutip Al Jazeera edisi Selasa (13/10/2026), melaporkan Trump bersikap ambivalen. Dalam wawancara dengan majalah Time, ia tiga kali mengelak memberi dukungan langsung kepada Netanyahu, meski sempat membela kepemimpinan sang perdana menteri sebelum serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
Terhadap Gadi Eisenkot, pemimpin partai Yashar yang tengah membangun blok oposisi, Trump tidak memberi dukungan maupun hujatan. Menurut laporan itu, Likud pimpinan Netanyahu dan koalisi sayap kanannya menghadapi ancaman besar dari Eisenkot.
Sikap itu mencolok karena kedekatan keduanya. Pada masa jabatan pertama (2017–2021), Trump memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem, mengakui aneksasi Dataran Tinggi Golan, dan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, ia menjamu Netanyahu setidaknya tujuh kali, lebih sering daripada pemimpin dunia lain.
Laporan itu juga mencatat bahwa pada masa jabatan kedua, Trump terus memasok senjata ke Israel di tengah kondisi Gaza dan menindak Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Rekam jejak tersebut membuat sikap menahan diri saat ini terlihat kontras.
Perbedaan tafsir para analis
Yousef Munayyer dari Arab Center Washington DC menilai Trump tampak menjaga jarak lebih jauh daripada yang diperkirakan, mengingat sejarah kedekatan kedua pemimpin. Ia mengaitkannya dengan perubahan angin politik di AS dan Israel serta dinamika hubungan pribadi mereka.
Michael Omer-Man dari lembaga kajian DAWN menafsirkan berbeda. Hubungan keduanya, menurut dia, diatur hati-hati untuk konsumsi publik, dan Trump pada dasarnya realis yang sadar kandidat pilihannya bisa menang atau kalah.
“Saya tidak berpikir Trump meninggalkan Netanyahu,”
— Michael Omer-Man, Direktur Israel-Palestina di lembaga think tank DAWN
Omer-Man menambahkan, pemerintahan Eisenkot mungkin mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza dan berhenti mengambil alih setiap puncak bukit di Tepi Barat. Namun, kata dia, langkah yang sudah diambil tidak akan dibalikkan. Dengan kata lain, pergantian pemerintahan tidak otomatis mengubah arah kebijakan secara drastis.
Mairav Zonszein, analis senior Israel di International Crisis Group, melihat keraguan Trump sebagian mencerminkan perpecahan di pemerintahannya dan Partai Republik menjelang pemilu sela AS. Ia menyebut Wakil Presiden JD Vance sangat menentang peran Netanyahu dalam mendorong AS menyerang Iran.
Mengapa ini penting bagi kampanye
Survei Institut Demokrasi Israel pada Juni menunjukkan pergeseran sentimen. Hanya 44 persen warga Yahudi Israel yang menganggap keamanan Israel pertimbangan utama bagi Trump, turun dari 61 persen pada Maret, tak lama setelah AS dan Israel memulai perang dengan Iran. Survei ini hanya mencakup warga Yahudi Israel, bukan seluruh penduduk.
Kritik di Israel juga menguat karena AS dinilai membatasi operasi Israel di Lebanon. Kondisi ini, menurut laporan tersebut, memaksa Netanyahu merombak strategi kampanyenya.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Netanyahu kini sengaja menghindari papan reklame yang memamerkan kedekatannya dengan Trump. Ia lebih menonjolkan figur yang dianggap musuh Israel, yakni Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani.
“Musuh-musuhnya versus teman-temannya,”
— Mairav Zonszein, Analis Senior Israel di International Crisis Group
Apa yang perlu dicermati
Dua hal layak dipantau hingga 27 Oktober. Pertama, apakah peringatan Lieberman berbuah tindakan militer nyata, yang saat ini belum didukung bukti di sumber kami. Kedua, apakah Trump tetap menahan dukungan terbuka atau mengubah sikap menjelang pemungutan suara.
Perbedaan tafsir para analis juga patut diikuti. Sebagian melihat jarak Trump sebagai pergeseran nyata, sebagian lain menilainya pengaturan citra untuk publik. Hasil pemilu dan sikap Washington sesudahnya akan menunjukkan tafsir mana yang lebih mendekati kenyataan.



