Presiden Amerika Serikat Donald Trump menampik tawaran Iran yang menjanjikan Selat Hormuz dibuka kembali dalam sepekan. Penolakan itu terjadi pada Sabtu (26/9/2026), menurut laporan Tribunnews, di tengah ketegangan Teheran dan Washington yang sudah berjalan hampir tujuh bulan.

Sehari kemudian, Minggu (27/9/2026), Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia berharap pembicaraan segera berlanjut. Namun, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan pada Senin (28/9/2026) bahwa Teheran belum menjadwalkan perundingan baru dengan AS.

Iran: Tak Ada Rencana Berunding di New York

IRNA mengutip sumber anonim yang dekat dengan delegasi Iran. Menurut laporan itu, rombongan Iran yang menghadiri Majelis Umum PBB di New York tidak berniat berunding dengan pihak AS.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dalam wawancara dengan stasiun televisi AS, CBS, bahwa rencana pembukaan Selat Hormuz sudah dibicarakan dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Pernyataan itu dikutip IRNA pada Sabtu (26/9).

“Jika AS menerimanya dan memenuhi kewajibannya, kami akan melakukan hal yang sama, dan tidak akan ada masalah dalam hal ini”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Pezeshkian menyebut Iran sudah membentuk tim enam orang untuk membahas rencana itu. Anggotanya datang dari unsur militer, parlemen, dan pemerintah, dan tim tersebut disebut berwenang mengambil keputusan.

Isi Proposal dan Tuntutan Teheran

Salah satu butir proposal adalah seruan agar semua aksi permusuhan di Timur Tengah dihentikan. Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan syarat-syaratnya identik dengan nota kesepahaman yang diteken Iran dan AS pada Juni.

Teheran juga menuntut Washington mencairkan aset Iran yang dibekukan, dengan nilai minimal US$12 miliar. Selain itu, Iran mengajukan pencabutan sanksi atas sektor minyaknya dan pengakhiran blokade angkatan laut AS.

Baca jugaTrump Tolak Proposal Iran soal Selat Hormuz, Teheran Klaim Siap Kembali Berperang

Klaim AS soal Tekanan Ekonomi

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (27/9/2026), mengatakan minyak Iran yang siap dikirim tinggal sekitar 15 juta barel akibat blokade. Ia memperkirakan pengiriman terakhir ke China rampung dalam dua minggu.

Bessent menilai Iran merasakan tekanan sehingga kembali tertarik pada kesepakatan. Ia juga menyatakan Selat Hormuz sudah terbuka, dan menyebut ekspor AS rata-rata 15 hingga 22 juta barel per hari, seperti dikutip Tribunnews.

Mengapa Penting

Selat Hormuz adalah lintasan vital bagi suplai minyak global dan menjadi inti pertikaian Teheran dengan Washington, menurut CNN Indonesia. Klaim kedua pihak berbeda: Bessent menyatakan selat itu sudah terbuka, sedangkan Iran mengajukan proposal untuk membukanya kembali dengan sejumlah syarat.