Polisi mengevakuasi 75 tenaga kerja asing (TKA) ke Markas Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk diperiksa. Evakuasi dilakukan seusai bentrokan antara warga dan pihak PT Astima Konstruksi (Askon) di Desa Matarape, Kabupaten Morowali, pada Jumat (2/10/2026).
Evakuasi dan pemeriksaan 75 pekerja asing
Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini menjelaskan, para pekerja asing itu dibawa ke Polda Sulteng agar polisi dapat menggali apa yang memicu bentrokan. Keterangan tersebut disampaikan Reza pada Minggu (4/10/2026).
“Kami telah mengevakuasi dan mengamankan 75 WNA. Saat ini telah dibawa ke Polda Sulteng untuk dilakukan pemeriksaan mendalam terkait penyebab konflik antara perusahaan dan warga.”
— AKBP Reza Khomeini, Kapolres Morowali
Menurut Reza, ke-75 TKA juga didata bersama pihak Imigrasi. Hingga kini mereka masih berstatus sebagai saksi.
VIVA melaporkan para pekerja itu berasal dari China dan bekerja di perusahaan yang disebut PT AK. Polisi turut bekerja sama dengan Imigrasi untuk memeriksa dokumen serta kelengkapan administrasi mereka.
Pemicu bentrokan dan jumlah korban luka
Bentrokan pecah di Desa Matarape, Kecamatan Sambori Kepulauan, setelah warga menggelar aksi protes soal dampak lingkungan dari kegiatan perusahaan. Menurut JPNN, warga antara lain mengeluhkan debu dari pengangkutan material di dekat permukiman.
Angka korban luka berbeda dalam dua laporan. JPNN menyebut enam orang terluka oleh senjata tajam. Mereka adalah lima warga setempat dan satu orang asing.
VIVA, mengacu pada data sementara hingga Sabtu (3/10/2026), mencatat empat orang terluka, yakni tiga WNI dan satu WNA. Polisi menyebut WNA yang terluka itu sedang dirawat. Kedua sumber tidak menjelaskan penyebab perbedaan angka tersebut.
Penyelidikan masih berjalan
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Morowali, Ipda Yunus, menyampaikan bahwa kabar awal yang sampai ke polisi menunjukkan kericuhan berawal dari unjuk rasa warga di area operasional perusahaan. Ia menyebut ada dugaan miskomunikasi yang membuat aksi berubah menjadi kacau, tetapi hal itu masih perlu dibuktikan.
Tim Reskrim Polres Morowali memanggil sejumlah pihak guna menyusun kronologi dan mengenali siapa saja yang terlibat. Penyelidikan dikoordinasikan dengan Polda Sulteng.
“Pemeriksaan juga dilakukan untuk memastikan kronologi dan pihak-pihak yang terlibat.”
— Ipda Yunus, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Morowali
Yunus menegaskan polisi menahan diri dari menyampaikan informasi yang belum terverifikasi, sebab hal itu dikhawatirkan justru menimbulkan masalah baru.
Pengamanan di lokasi
Guna mengantisipasi bentrokan lanjutan, aparat gabungan masih disiagakan di sekitar lokasi. Polisi memantau perkembangan situasi supaya suasana tidak kembali tegang.


