Kopilot penerbangan Flydubai FZ1073 yang diduga menyerang kapten pesawat dengan kapak darurat diidentifikasi sebagai Hamam al-Hammami, warga negara Oman. Menurut laporan media, ia pernah bermasalah di maskapai Oman Air karena kekhawatiran atas pandangan ekstremis atau radikalnya. Rumusan laporan itu berbeda antara satu media dan lainnya.
Identitas itu berasal dari tiga orang yang mengetahui situasi, termasuk seorang diplomat negara Teluk dan seorang diplomat Barat, seperti dikutip dari AP News pada Minggu (4/10/2026). Otoritas Uni Emirat Arab (UEA) belum mengumumkannya secara resmi.
Apa yang terjadi di penerbangan Flydubai
Insiden terjadi pada Rabu (30/9/2026) dalam penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv. Jumlah orang di pesawat disebut berbeda: sebagian sumber menulis lebih dari 170 penumpang dan awak, sedangkan laporan AP menyebut 182 orang.
Jaksa Agung UEA, Hamad Saif Al Shamsi, mengatakan kopilot berupaya melakukan serangan teroris. Menurut kantor berita pemerintah WAM, kopilot menyerang pilot di kokpit dengan kapak darurat dan mencoba mengambil alih kendali pesawat.
Pesawat sempat menukik tajam. Data Flightradar24 menunjukkan pesawat kehilangan ketinggian sekitar 16.625 kaki dalam waktu lebih dari 30 detik saat melintasi wilayah udara Arab Saudi. Penumpang dan awak kemudian melumpuhkan kopilot.
“Saya berkata kepada diri sendiri untuk melakukan satu upaya terakhir guna membuka pintu dari dalam,”
— Smit Machchhar, kapten Flydubai
Machchhar, yang terluka dalam serangan itu, membuka pintu kokpit sehingga penumpang bisa masuk. Seorang pilot Flydubai yang menjadi penumpang lalu mengambil alih kendali dan mendaratkan pesawat di Bandara Tabuk, Arab Saudi, menurut BeritaSatu.
Baca jugaFlydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Tabuk, Kopilot Diduga Serang Pilot dengan Kapak Darurat
Latar belakang kopilot dan pertanyaan keamanan
Rumusan soal riwayat di Oman Air berbeda antarlaporan. AP, berdasarkan pejabat UEA yang dikutip Viva, menyebut ia dilarang menerbangkan pesawat milik Oman Air karena kekhawatiran atas pandangan ekstremis. Media AS yang dikutip BBC News Indonesia melaporkan ia dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena kekhawatiran terkait pandangan radikalnya, lalu diberi posisi lain di maskapai itu. Kedua versi belum dikonfirmasi secara resmi.
Otoritas Australia mengonfirmasi sedang menyelidiki keterkaitan Al-Hammami dengan negara itu tanpa memberi rincian. Menurut ABC, ia memperoleh visa pelajar pada 2014 dan belajar di Australia antara 2015 dan 2017. Visanya dibatalkan pada 2019.
Buckinghamshire New University di Inggris menyatakan ia lulus program jarak jauh bergelar manajemen penerbangan pada 2023. Pihak universitas menegaskan ia tidak menjalani pelatihan pilot di sana.
Informasi baru ini memunculkan pertanyaan tentang ketatnya seleksi pegawai Flydubai. Muncul pula pertanyaan mengapa kopilot itu bisa bertugas di penerbangan yang dipenuhi penumpang Israel.
Menurut laporan tersebut, Israel mengaku punya kesepakatan dengan maskapai asing agar pilot dari negara yang tidak menjalin hubungan diplomatik dengannya tidak ditugaskan ke rute menuju Israel. Oman termasuk negara yang tidak punya hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Penyelidikan dan tanggapan pihak terkait
UEA memimpin penyelidikan untuk mengungkap kronologi, motif, kemungkinan keterkaitan dengan pihak lain, serta bukti fisik dan digital. Seorang pejabat Israel mengatakan penyelidik Israel akan bergabung dalam proses itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Israel menyelidiki kemungkinan kopilot bertindak atas arahan pihak lain. Ia juga mengatakan pelaku telah mengalami indoktrinasi Islam radikal, tetapi menegaskan motifnya belum ditetapkan. Pemerintah Oman belum berkomentar, dan Flydubai menyatakan belum bisa memberi keterangan lebih lanjut.
Kejadian ini berlangsung kurang lebih seminggu menjelang peringatan 7 Oktober 2023, saat Hamas memimpin serangan yang memicu perang di Gaza. Waktunya juga berdekatan dengan pemilu Israel yang akan digelar dalam beberapa pekan.



