Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengundurkan diri pada Minggu (4/10/2026). Pengunduran diri itu terjadi di tengah blokade Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor minyak Iran. Posisinya kini diisi sementara oleh Hamid Bovard.

Bovard ditunjuk sebagai menteri sementara

Kantor Presiden Iran menyampaikan bahwa pengunduran diri Paknejad telah diterima. Lewat siaran stasiun televisi pemerintah, IRIB, disebutkan bahwa Bovard, CEO Perusahaan Minyak Nasional Iran, diangkat sebagai menteri perminyakan sementara berdasarkan dekrit presiden.

Menurut iNews, Bovard sebelumnya menjabat direktur perusahaan minyak negara itu dan menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang operasi ladang minyak. Wakil Kepala Komunikasi Kantor Kepresidenan Iran, Mehdi Tabatabaei, mengatakan Presiden Masoud Pezeshkian menerima pengunduran diri tersebut.

Alasan mundur: ada perbedaan keterangan

Tribunnews melaporkan, televisi pemerintah menayangkan wawancara dengan seorang pejabat kantor kepresidenan. Pejabat itu menyebut Paknejad sempat menawarkan mundur beberapa waktu lalu dengan alasan masalah pribadi, tetapi tawaran itu ditolak. Saat itu Pezeshkian memintanya tetap menjabat.

Pezeshkian kini menerima keputusan tersebut karena Paknejad bersikeras mundur. Presiden disebut memuji upaya dan pengabdian tulus sang menteri. Sebaliknya, iNews menulis tidak ada alasan yang disampaikan terkait pengunduran diri itu.

Latar blokade dan Selat Hormuz

Menurut Tribunnews, Selat Hormuz menjadi titik fokus perang Timur Tengah. Seperlima minyak dan LNG dunia melewati jalur itu sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026. Teheran memblokir pelayaran kapal komersial dan menembaki kapal yang dituduh melintas tanpa izin.

Washington membalas dengan memblokade pelabuhan Iran agar Teheran tidak dapat mengekspor minyaknya. Pada awal perang, Teheran dan kota-kota lain di Iran sempat mengalami antrean panjang di SPBU.

Baca jugaIEA: 325 Juta Barel Cadangan Minyak Strategis Sudah Dilepas, G7 Umumkan Rencana Lepas hingga 100 Juta Barel

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, pada Sabtu pekan lalu, mengatakan Iran tidak lagi mengirim minyak. Ia merujuk pada tidak adanya kapal tanker yang keluar, dan menyebut Iran tidak menghasilkan apa pun dari program minyaknya. Departemen Keuangan AS juga mengumumkan Operasi Ekonomi terhadap Iran pada 25 Agustus. Kampanye sanksi itu bertujuan mengisolasi Iran dari sistem keuangan dan perdagangan global.

Selat Hormuz dalam negosiasi

Selat Hormuz menjadi fokus utama negosiasi Iran untuk mengakhiri perang dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pemulihan keamanan jalur air itu membutuhkan langkah spesifik dari pihak Amerika. Menurut kantor berita IRNA, ia menyebut langkah itu mencakup penghentian campur tangan terhadap pelayaran komersial Iran dan berakhirnya sanksi.