Riwayat kerja kopilot pesawat Flydubai FZ1073 menjadi sorotan media setelah ia diduga menyerang kapten dengan kapak darurat di kokpit pada 30 September 2026. Pesawat rute Dubai-Tel Aviv itu mendarat darurat di Arab Saudi. Otoritas Australia mengonfirmasi tengah menyelidiki keterkaitan sang kopilot dengan negara itu.

Kronologi singkat insiden FZ1073

Menurut BBC News Indonesia, pesawat membawa lebih dari 170 orang dan menukik sekitar 17.000 kaki (5.200 meter) dua setengah jam setelah lepas landas. detikNews menyebut ada 174 penumpang dan ketinggian jelajah sekitar 34.000 kaki saat insiden terjadi.

Kapten Smit Machchhar terluka dalam serangan itu, tetapi berhasil membuka pintu kokpit dari dalam. Penumpang lalu masuk dan melumpuhkan pelaku, sementara dua pilot cadangan menerbangkan dan mendaratkan pesawat. Machchhar dibawa ke rumah sakit terdekat, kemudian diterbangkan ke Abu Dhabi, dengan kondisi dilaporkan stabil.

“Saya yakin saya akan pulih dan kembali sehat serta bugar,”

— Smit Machchhar, kapten pesawat Flydubai FZ1073

Laporan media soal jejak karier di Oman Air dan Royal Air Maroc

Sejumlah media, termasuk Reuters, CNN, dan The New York Times, menyebut kopilot itu bernama Hamam al-Hammami. BBC mencatat belum ada konfirmasi resmi mengenai identitasnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pelaku warga negara Oman.

Menurut detikNews yang merujuk profil LinkedIn atas namanya, Al-Hammami bekerja sekitar tujuh tahun di Oman Air hingga Februari 2025. CNN, mengutip dua sumber, melaporkan ia pernah dikeluarkan dari pelatihan penerbangan di sana karena kekhawatiran atas pandangan radikalnya, lalu diberi peran lain.

Baca jugaKopilot Flydubai FZ1073 Disebut Media Punya Riwayat di Oman Air terkait Kekhawatiran Pandangan Ekstremis

Ia kemudian tercatat bergabung dengan Royal Air Maroc pada Juni 2025 dan keluar pada Januari 2026. Royal Air Maroc kepada AP menyatakan ia hanya mengikuti pelatihan tiga bulan pada 2025 sebagai bagian dari proses pra-kerja, dan tidak terpilih bekerja di sana. Pejabat Israel menyebut ia baru sekitar delapan bulan di Flydubai ketika insiden terjadi.

Kaitan dengan Australia dan pendidikan di Inggris

Otoritas Australia pada Minggu mengonfirmasi tengah menyelidiki keterkaitan Al-Hammami dengan negara itu, tanpa rincian. Australian Broadcasting Corporation (ABC), mengutip sejumlah sumber, melaporkan ia mendapat visa pelajar pada 2014 dan belajar di Australia pada 2015 hingga 2017. Visanya dibatalkan pada 2019 karena ia tidak terdaftar dalam program pendidikan, menurut ABC.

ABC juga melaporkan pejabat kontraterorisme akan menyelidiki apakah ia mengalami radikalisasi di Australia. Selain itu, Buckinghamshire New University di Inggris menyatakan ia lulus program jarak jauh tiga tahun bergelar manajemen penerbangan pada 2023, dan tidak menjalani pelatihan pilot di kampus itu.

Status penyelidikan dan pertanyaan yang tersisa

Jaksa Agung Uni Emirat Arab, Hamad Saif Al Shamsi, menyebut kopilot berupaya melakukan aksi terorisme, menurut kantor berita pemerintah UEA. Ia menambahkan penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap situasi, motif, serta kemungkinan kaitan lain. Netanyahu menyatakan pelaku menjalani indoktrinasi radikal Islamis, tetapi detikNews mencatat informasi soal radikalisasi itu masih menjadi bagian dari penyelidikan.

Jenis senjata menjadi salah satu pertanyaan utama penyelidik, mengingat ketatnya pengamanan pada rute tersebut. Laporan awal sejumlah penumpang sempat menyebut pisau. Riwayat Al-Hammami di beberapa maskapai juga memunculkan perhatian terhadap pemeriksaan latar belakang calon pekerja di industri penerbangan. Flydubai belum dapat berkomentar, sedangkan CNN telah meminta tanggapan Oman Air dan kantor media pemerintah Dubai.