Amerika Serikat memindahkan seluruh pesawat pengebomnya dari pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Fairford kembali ke pangkalan induk di AS. Langkah yang dilaporkan Senin (5/10/2026) itu diambil setelah muncul ancaman serangan terhadap pangkalan tersebut, yang dikaitkan dengan Iran.

Penarikan pesawat pengebom dari RAF Fairford

Seorang pejabat Pentagon kepada Al Jazeera menyatakan tak ada lagi pesawat pengebom di pangkalan itu. Ia mengatakan alasan keamanan operasional menghalangi pihaknya mengonfirmasi gerak pasukan secara langsung, tetapi pemindahan seluruh pesawat ke AS ia akui.

CNN Indonesia, mengutip dua pejabat AS, melaporkan bahwa penarikan total 12 pesawat pengebom B-1 itu sangat tidak lazim. Menurut mereka, pesawat jarang ditarik secepat ini dari pangkalan sekutu di negara yang berstatus damai. Minimal tiga pesawat sudah mendarat di pangkalan induk di South Dakota pada Minggu (4/10).

Kebutuhan memindahkan pesawat dinilai sangat mendesak. Sebagian pesawat dan awaknya langsung pulang, padahal pesawat tanker udara masih dalam proses dikerahkan untuk menopang penerbangan itu. Ada pula pesawat yang baru datang pekan lalu dalam rotasi rutin pasukan.

Kesiapan operasi disebut tidak terganggu

Pejabat Pentagon tersebut menegaskan pemindahan ini tidak mengurangi kesiapan penuh personel untuk mendukung operasi, terutama di Timur Tengah. Menurut dia, pilot pesawat pengebom B-1, B-2, dan B-52 tetap siap beraksi dari daratan AS.

“Para pilot yang mengoperasikan pasukan pengebom, termasuk B-1, B-2, dan B-52, tetap siap untuk menunjukkan kemampuan serangan global yang presisi, termasuk melalui operasi yang diluncurkan dan mendarat dari daratan Amerika Serikat, di mana saja, kapan saja”

— Pejabat Departemen Pertahanan (Pentagon) AS, kepada Al Jazeera

Para pejabat AS menolak menjelaskan isi informasi baru yang mendorong keputusan mendadak itu. Seorang sumber menyebut peringatan terbaru ini mirip dengan ancaman tiga pekan lalu, namun dalam 25 jam detail dan urgensinya melonjak tajam sehingga memicu kekhawatiran.

Latar penangkapan dan bantahan Iran

Sepekan sebelum penarikan, polisi Inggris menahan lima pria yang berada di dalam van putih di sekitar RAF Fairford. Sehari kemudian mereka keluar dengan jaminan, sebab pemeriksaan tidak menemukan bahan peledak di kendaraan itu.

CNBC Indonesia, merujuk AP, melaporkan seorang warga berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran ditangkap di London pekan lalu karena diduga merencanakan serangan teror. Total enam orang sempat ditahan dalam penyelidikan itu, lalu semuanya dilepas dengan jaminan. Otoritas Inggris mengaitkan dugaan rencana tersebut dengan Iran, sedangkan Tehran membantah terlibat.

Pada September, militer AS menyebut menerima peringatan dari intelijen AS dan negara Barat lain bahwa RAF Fairford menjadi target potensial serangan yang didukung Iran. Pangkalan itu berjarak sekitar 160 kilometer di sebelah barat London.

Ketegangan di Selat Hormuz dan sekitarnya

UKMTO melaporkan sedikitnya dua kapal terkena serangan dalam dua hari terakhir. Pada Sabtu, proyektil tak dikenal menghantam sebuah tanker minyak mentah sekitar empat mil laut dari pantai Oman. Keesokan harinya, tanker lain diserang di Selat Hormuz dan ruang mesinnya rusak.

Sebelum AS dan Israel berperang melawan Iran sejak 28 Februari, kira-kira seperlima pasokan minyak dunia melintasi selat itu. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut ada tujuh syarat sebelum selat dibuka kembali, di antaranya penghentian blokade laut atas pelabuhan Iran.

Pada penutupan perdagangan Jumat, minyak Brent turun 6 sen ke US$102,25 per barel, sedangkan WTI turun US$1,76 ke US$91,11 per barel. Di sisi lain, kelompok Houthi mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Riyadh; otoritas Arab Saudi dan Aramco belum menanggapi.

Baca jugaFasilitas Aramco di Riyadh Terbakar, Houthi Klaim Serang dengan Rudal Balistik dan Drone