Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Iran tetap siap menempuh diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat, tetapi tidak akan tunduk pada tekanan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pidato di Sidang Umum PBB, New York, Rabu (23/9) waktu setempat. Delegasi AS dilaporkan meninggalkan ruang sidang begitu ia mulai berbicara.

Delegasi AS walk out saat Pezeshkian berpidato

CNN Indonesia melaporkan, satu-satunya pejabat AS yang duduk di bangku delegasi berdiri, mengambil tasnya, lalu keluar ruangan saat Pezeshkian membuka pidato. Bangku delegasi AS kosong sepanjang pidato, dan Pezeshkian tetap melanjutkan bicara.

Pidato itu disampaikan di hadapan 193 anggota Majelis Umum, sehari setelah Presiden AS Donald Trump di forum yang sama mengancam Iran dengan pemusnahan bila kesepakatan gagal tercapai. Menurut Reuters yang dikutip Republika, Trump pada saat yang sama juga menyatakan yakin Washington dan Teheran pada akhirnya mencapai penyelesaian.

Siap berunding, tolak tekanan militer

Menurut laporan Reuters, Pezeshkian berulang kali menekankan kesiapan Teheran menyelesaikan ketegangan lewat negosiasi. Namun ia menolak perundingan yang berlangsung di bawah tekanan militer dan menyebut Iran tak akan menerima bahasa kekerasan.

“Pernyataan yang dibuat oleh presiden AS kemarin adalah tanda mentalitas penindas”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Pezeshkian juga menolak sebutan Iran sebagai sponsor terorisme. Ia menegaskan rakyat Iran justru menjadi korban serangan AS dan Israel.

“Mereka yang merupakan teroris serta melatih dan melindungi teroris justru melabeli kami demikian. Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris,”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Dalam pidatonya, Pezeshkian memperlihatkan foto pelajar dari Minab dan Lamerd yang menurut dia tewas akibat serangan udara AS-Israel, serta foto mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia menuduh AS dan Israel menyasar warga sipil, sekolah, universitas, dan fasilitas kesehatan.

Menurut pejabat Iran, serangan rudal AS-Israel di sebuah sekolah dasar di Minab pada 28 Februari menewaskan sedikitnya 175 anak dan guru. CNBC Indonesia, mengutip Reuters, menyebut Pentagon belum merilis temuan investigasinya secara publik, sedangkan penyelidikan internal awal militer AS dilaporkan menemukan pasukan AS kemungkinan besar bertanggung jawab.

Soal program nuklir, Pezeshkian mengeklaim Iran tidak berniat memiliki bom nuklir, tetapi tidak akan melepaskan haknya atas program nuklir damai.

“Tidak akan ada senjata nuklir, maupun melepaskan pengetahuan nuklir,”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Selat Hormuz jadi pusat ketegangan

CNBC Indonesia menyebut konflik kini memasuki bulan ketujuh dan pusat ketegangan bergeser ke Selat Hormuz, jalur yang dilewati seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Menurut sumber-sumber internal yang dikutip media itu, Teheran telah menyampaikan sejumlah persyaratan kepada AS lewat perantara untuk membuka kembali selat tersebut.

Baca jugaDonald Trump Catat Kepuasan Publik Terendah 32 Persen di Tengah Perang dengan Iran

Di hadapan sidang, Pezeshkian mempersoalkan akses Iran ke jalur itu. Ia juga menilai penempatan armada permusuhan secara permanen dan perluasan perang tidak akan membawa perdamaian.

“Tidak bisa dibiarkan bahwa semua orang mendapat manfaat dari Selat Hormuz sementara kami ditolak aksesnya untuk pengiriman pelayaran melalui jalur air ini,”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Latar: tekanan ekonomi dan sikap Teheran

CNBC Indonesia menulis bahwa Washington kini menempuh tekanan ekonomi setelah aksi militer gagal memaksa Teheran menyerah. Para pemimpin Iran disebut khawatir memburuknya ekonomi, yang ditandai lonjakan harga, dapat memicu kembali kerusuhan di dalam negeri.

Pada Selasa (22/9), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Iran tak akan menyerah menghadapi tekanan AS. Menurut Tribunnews yang mengutip Al Mayadeen, ia juga mengatakan diplomasi tidak berarti menyerah. Sementara itu, Trump berulang kali menyebut Iran sangat ingin berdamai dan kesepakatan kemungkinan tercapai setelah pemilu sela AS pada 3 November, menurut VIVA yang mengutip CNBC Internasional.

Apa selanjutnya

Belum ada tanggapan resmi AS atas pidato Pezeshkian dalam sumber yang tersedia. CNN Indonesia mencatat AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata dan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang, tetapi Washington disebut berulang kali melanggarnya.