Tingkat kepuasan publik Amerika Serikat terhadap Presiden Donald Trump turun ke 32 persen. Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang selesai pada Minggu (20/9) itu menjadi angka terendah sepanjang karier politik Trump, di tengah kekecewaan atas biaya hidup dan perang yang dilancarkan Washington terhadap Iran.

Survei berlangsung empat hari dan dilakukan secara daring terhadap 1.277 orang dewasa di seluruh AS. Margin kesalahannya 3 poin persentase. Menurut detiknews, pengambilan data dimulai pada Kamis (17/9).

Kepuasan terhadap Trump turun, dukungan Partai Republik ikut melemah

Sepekan sebelumnya, kepuasan publik terhadap Trump masih berada di level 35 persen. Penurunan paling mencolok datang dari basis pendukungnya sendiri. Persetujuan dari kalangan Partai Republik merosot dari 82 persen menjadi 73 persen dalam kurun satu minggu.

Angka ini jauh dari posisi Trump ketika kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Saat itu ia membawa janji menekan inflasi dan mengakhiri perang di luar negeri, dan menurut survei Reuters/Ipsos tingkat persetujuannya mencapai 47 persen.

CNBC Indonesia, mengutip Reuters, mencatat peringkat 32 persen itu juga lebih rendah daripada titik terburuk pendahulunya, Joe Biden. Presiden dari Partai Demokrat itu pernah menyentuh 35 persen pada akhir Oktober 2024.

Biaya hidup dan perang Iran jadi sumber kekecewaan

Urusan biaya hidup menjadi titik terlemah pemerintahan Trump. Hanya 17 persen responden yang menyetujui caranya menangani persoalan tersebut. Untuk pertama kalinya, pemilih Republik yang tidak setuju lebih banyak daripada yang setuju, yakni 51 persen berbanding 44 persen.

Ketidakpuasan itu terus membesar sejak Trump memulai serangan militer ke Iran pada Februari. Konflik tersebut membuat harga bensin dan solar melonjak tajam. Menurut CNBC Indonesia, perang itu juga memutus sebagian besar pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah sehingga berisiko mendorong inflasi yang lebih tinggi.

Angka dukungan terhadap kebijakan Iran berbeda antarsumber. CNBC Indonesia melaporkan hanya 34 persen responden yang menyetujui serangan terhadap Iran. Adapun detiknews menyebut hanya 24 persen warga AS yang mendukung pendekatan Trump terhadap konflik tersebut.

Pada awal bulan ini, Trump sempat menjanjikan perang akan segera usai.

Perang ini akan berakhir segera setelah pemilu. Konflik ini hanya akan berlangsung selama beberapa minggu,

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Meski begitu, sekitar 82 persen responden memperkirakan konflik akan berlangsung lama, termasuk tiga perempat pemilih Republik. Pekan lalu Trump menyebut AS sudah "mendekati akhir" perang dan membuka peluang kembali ke jalur diplomasi. Namun, pihak Teheran belum memastikan apakah perundingan langsung sudah dimulai lagi.

Dampak ke pemilu sela 3 November

Merosotnya popularitas Trump mulai terlihat dalam preferensi pemilih menjelang pemilu sela 3 November. Partai Republik berupaya mempertahankan keunggulan tipisnya di Kongres. Pemilih terdaftar kini lebih memilih Partai Demokrat dengan 43 persen, sementara Partai Republik mendapat 35 persen.

Selisih 8 poin itu merupakan keunggulan terbesar Demokrat dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos tahun ini. Meski demikian, CNBC Indonesia mencatat angka nasional ini tidak sepenuhnya mencerminkan persaingan di tingkat distrik dan negara bagian, yang pada akhirnya menentukan penguasaan Senat dan DPR.

Di bidang imigrasi, Trump masih didukung 79 persen pemilih Republik. Namun secara keseluruhan hanya 36 persen warga AS yang mendukung pendekatannya, sedangkan 55 persen menolak. Sejumlah sekutunya di Kongres memperingatkan bahwa kampanye deportasi yang agresif bisa menjauhkan pemilih dari keluarga imigran baru, seperti sebagian warga Hispanik.

Untuk penanganan kejahatan, 35 persen responden menyatakan setuju dan 50 persen tidak setuju. Pengambilan data survei juga bertepatan dengan langkah Trump mengusir tiga organisasi berita utama dari Gedung Putih, demikian laporan CNBC Indonesia.