CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa dunia perlu menerima sebagian dampak buruk kecerdasan buatan (AI) agar manfaat teknologi itu bisa dirasakan. Ia menyampaikannya dalam wawancara podcast Decoded, yang dikutip sejumlah media pada 5 dan 6 Oktober 2026.

Pernyataan Altman soal risiko AI

Dalam wawancara itu, Altman ditanya soal perbedaan pendekatan keselamatan OpenAI dengan pesaingnya, Anthropic. Ia menyebut peretasan, penipuan, dan penyalahgunaan teknologi sebagai konsekuensi yang menurutnya tidak realistis dihapus seluruhnya.

“Saya tidak akan memilih kesepakatan yang menjamin tidak ada peretasan besar, tidak ada penyalahgunaan teknologi, tidak ada penipuan, atau hal buruk lainnya”

— Sam Altman, CEO OpenAI

Altman menilai sikap regulasi yang lebih ringan, yang dianjurkan OpenAI, berarti menerima bahwa sebagian hal buruk akan terjadi selagi masyarakat membangun ketahanan. Menurut dia, masyarakat akan menghasilkan jauh lebih banyak manfaat daripada keburukan.

Menurut Investor Daily, Altman juga menyebut ada "jarak yang sangat lebar" antara filosofi OpenAI dan Anthropic. Ia mengaku memahami pandangan bahwa teknologi ini terlalu berbahaya sehingga hanya satu laboratorium di San Francisco yang boleh memegangnya, tetapi menolak pendekatan pembatasan akses seperti itu.

Kritik dari DeSantis dan Gary Marcus

Gubernur Florida Ron DeSantis menolak gagasan bahwa perusahaan teknologi menentukan batas risiko AI bagi masyarakat.

“Saya tidak setuju dengan gagasan bahwa segelintir oligarki teknologi dapat membuat keputusan itu untuk kita semua”

— Ron DeSantis, Gubernur Florida

Menurut Jawa Pos dan CNN Indonesia, pemerintah Florida juga meminta pengadilan melarang OpenAI mengembangkan model AI baru tanpa pengaman yang disetujui pihak ketiga. Jawa Pos menyebut permintaan itu diajukan pekan lalu.

Gary Marcus, akademisi sekaligus pengkritik AI, menilai sikap Altman pada dasarnya meminta masyarakat menerima dampak buruk agar perusahaan teknologi makin kaya dan berkuasa. CNN Indonesia menyebut Marcus sebagai profesor emeritus di New York University.

Latar perdebatan keselamatan AI

Menurut CNN Indonesia, sorotan terhadap keselamatan AI meningkat setelah kesaksian Jacob Coxon, mantan ilmuwan Anthropic dan OpenAI, yang menyebut teknologi ini dapat memusnahkan manusia. Investor Daily menulis bahwa Coxon, peneliti Anthropic, mundur pada September 2026 dan memperingatkan risiko eksistensial sebelum akhir dekade ini.

Ada perbedaan keterangan soal seruan memperlambat pengembangan AI. CNN Indonesia menyebut Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei sama-sama menyerukannya, sedangkan Jawa Pos dan Investor Daily hanya mengaitkannya dengan Anthropic atau Amodei.

Presiden AS Donald Trump menolak seruan itu. Investor Daily menulis bahwa Trump menilai regulasi ketat akan melemahkan daya saing perusahaan teknologi AS terhadap China dan menganggap penegakan hukum yang ada sudah cukup. CNN Indonesia menyebut Trump menilai peringatan para pakar sebagai hoaks.

Investor Daily menambahkan, tanpa undang-undang federal baru yang membatasi pengembangan AI, batas keselamatan kini bertumpu pada keputusan masing-masing laboratorium pengembang. Dalam wawancara terpisah dengan Vanity Fair, menurut Jawa Pos, Altman kembali menyinggung hubungannya dengan Elon Musk, yang ikut mendirikan OpenAI pada 2015.