Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota besar paling berpolusi di dunia pada Jumat pagi (16/10/2026), menurut data situs pemantau kualitas udara IQAir. Pada saat yang sama, langit ibu kota tampak berkabut dan memicu pertanyaan warga di media sosial. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan, berdasarkan data dan pemodelan hingga 14 Oktober, belum ada indikasi kondisi itu dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Apa yang tercatat pada Jumat pagi

Berdasarkan data IQAir pukul 06.45 WIB yang dikutip ANTARA, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta berada di angka 186. Angka itu masuk kategori tidak sehat. Polutan yang disorot adalah PM2.5 dengan konsentrasi 107 mikrogram per meter kubik.

Di urutan pertama ada Singapura dengan indeks 228, disusul Kuala Lumpur, Malaysia, dengan indeks 189. Jakarta di posisi ketiga. Medan menempati urutan keempat dengan indeks 168, lalu Milan, Italia, di urutan kelima dengan indeks 167.

Dalam laporannya, ANTARA menyarankan masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan. Bila harus keluar, warga dianjurkan memakai masker dan menutup jendela agar udara luar yang kotor tidak masuk.

Memahami kategori kualitas udara

PM2.5 adalah partikel halus di udara yang menjadi parameter utama pemantauan polusi. Dalam penjelasan ANTARA, kategori baik berada pada rentang 0–50 dan kategori sedang pada rentang 51–100. Kategori sangat tidak sehat berada pada rentang 200–299, sedangkan kategori berbahaya pada rentang 300–500.

Angka 186 berada di antara batas-batas itu dan dikategorikan tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif. Menurut ANTARA, pada tingkat ini kualitas udara dapat merugikan manusia maupun hewan yang sensitif, serta merusak tumbuhan dan nilai estetika.

Sebagai pembanding, ANTARA menjelaskan bahwa kategori baik tidak memberi efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak memengaruhi tumbuhan maupun bangunan. Pada kategori berbahaya, kualitas udara secara umum dapat merugikan kesehatan serius pada populasi.

Penjelasan DLH DKI: belum ada indikasi pengaruh karhutla

Menurut detikNews, warga di platform Threads mempertanyakan langit Jakarta yang berkabut, dan sebagian menduga hal itu berkaitan dengan karhutla. Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menanggapi dengan merujuk pada data pemantauan dan pemodelan arah angin hingga 14 Oktober 2026. Menurutnya, belum ada indikasi polusi udara Jakarta dipengaruhi asap karhutla dari Sumatera dan Kalimantan.

Yogi menyebut data stasiun Reference DKI Jakarta untuk PM2.5 menunjukkan pola naik-turun yang cukup normal, seperti keseharian di ibu kota. Sepanjang 1–14 Oktober, konsentrasi terendah hingga tertinggi berada di rentang 35–75 ug/m3. Hingga 14 Oktober, kata dia, belum terlihat lonjakan tajam pada parameter tersebut.

Baca jugaSingapura Buka Opsi Tindak Perusahaan Penyebab Kabut Asap Karhutla Lintas Batas, Data Masih Dikumpulkan

Peran pemodelan arah angin HYSPLIT

DLH DKI juga memakai pemodelan Hybrid Single-Particle Lagrangian Integrated Trajectory (HYSPLIT) dengan data global periode 1–14 Oktober 2026. Pemodelan ini dipakai untuk menelusuri kemungkinan polutan dari luar Jakarta terbawa angin ke ibu kota. Hasilnya, menurut Yogi, belum ada arah angin yang berpotensi membawa polutan dari titik karhutla di Sumatera dan Kalimantan ke Jakarta.

Pada ketinggian permukaan, 1.000 meter, dan 2.000 meter, lintasan polutan skala besar masih berasal dari timur hingga tenggara. Yogi mengaitkannya dengan pola angin global di Indonesia saat ini, yakni monsun Australia. Atas dasar itu ia menilai kecil kemungkinan polusi Jakarta pada 14–15 Oktober 2026 dipengaruhi karhutla di dua pulau tersebut.

Hal yang perlu dicermati pembaca

Ada perbedaan cakupan data. Penjelasan DLH bertumpu pada pengukuran dan pemodelan sampai 14–15 Oktober, sedangkan peringkat IQAir dan kabut yang dipertanyakan warga tercatat pada Jumat pagi, 16 Oktober. Kedua sumber juga memakai metode dan alat ukur berbeda, yakni stasiun Reference milik DLH dan platform pemantau IQAir.

Dalam kutipan yang tersedia, DLH belum menyebut faktor spesifik yang membuat langit tampak berkabut pada Jumat pagi. Pernyataan yang disampaikan baru menyatakan belum ada indikasi pengaruh asap karhutla dari Sumatera dan Kalimantan berdasarkan data hingga pertengahan Oktober.

Upaya Pemprov DKI memperbaiki kualitas udara

ANTARA melaporkan Pemprov DKI sebelumnya menjalankan tiga strategi utama. Pertama, memperluas layanan bus Transjabodetabek untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi, antara lain rute Blok M–Alam Sutera, Blok M–PIK 2, dan Blok M–Bandara Soekarno Hatta.

Kedua, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak warga memakai transportasi publik. Pemprov juga telah menerbitkan aturan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat. Ketiga, Pemprov mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah Refused Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara.

Apa selanjutnya

Warga dapat memantau indeks kualitas udara secara berkala dan mengikuti anjuran mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Pembaruan data DLH yang mencakup periode setelah 14 Oktober akan menentukan apakah penilaian soal peran karhutla tetap sama.