Pemerintah Singapura menanggapi dugaan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa sebagian gas alam cair (LNG) asal Indonesia dijual lagi ke negara lain. Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura (METI) menyatakan kargo LNG yang diperdagangkan perusahaan di negara itu umumnya tidak singgah secara fisik di Singapura. Pernyataan itu dikutip CNBC Indonesia pada Minggu (1/11/2026).

Tanggapan Singapura soal LNG

Juru bicara METI menjelaskan bahwa Singapura adalah salah satu pusat perdagangan internasional, termasuk untuk LNG. Menurut METI, lebih dari 50 perusahaan yang berkantor di Singapura aktif membeli, memasarkan, dan menjual LNG dari banyak pasar dunia. Pemasok utamanya antara lain Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia.

Kepada Channel News Asia, METI menyatakan para pedagang di Singapura memang memegang keputusan komersial atas kargo. Namun secara fisik, kapal pengangkut umumnya berlayar langsung dari negara sumber ke negara tujuan.

METI juga menegaskan bahwa gas yang diimpor Singapura dari Indonesia lewat pipa dipakai untuk kebutuhan dalam negeri Singapura dan tidak diekspor lagi.

Dugaan Bahlil soal ekspor ulang

Bahlil sebelumnya mengatakan Indonesia telah mengirim 148 kargo LNG ke Singapura, yang menurutnya setara dengan 1.480 MM. Ia menilai sebagian kemungkinan diperdagangkan kembali ke negara lain, sementara sebagian lain dipakai untuk konsumsi domestik Singapura. Keterangan itu disampaikan usai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, yang ditulis Republika terjadi pada Kamis (29/10/2026) dan JPNN menulis Kamis (30/10).

Menurut iNews, Bahlil juga menyatakan Indonesia tetap memegang komitmen kontrak, sambil meminta prinsip perlakuan setara dan saling menghargai dalam hubungan bilateral.

Baca jugaKadin Sebut Investasi Dalam Negeri Hampir Rp2.000 Triliun di Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Pemangkasan gas pipa dan batas kontrak

CNBC Indonesia melaporkan Indonesia mulai menurunkan ekspor gas pipa ke Singapura sejak 24 Oktober demi memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Menurut Republika dan JPNN, Bahlil menyebut pemangkasan sebesar 31 MMSCFD dari total sekitar 409,5 MMSCFD yang bersumber dari Laut Natuna dan Sumatera.

Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA), seperti dikutip CNBC Indonesia, menyebut volume yang dipangkas sekitar 17 miliar Btu per hari dan berlangsung 18 hari. Angka itu kurang dari 2% dari kebutuhan gas harian Singapura.

Bahlil menyatakan kebijakan tersebut belum melampaui batas minimum pasokan dalam perjanjian dan Indonesia tidak melanggar kewajiban kontrak. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada 25 Oktober mengatakan pemerintahnya berharap semua pihak menepati komitmen kontrak komersial yang sudah disepakati.

“Kan kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita, tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain”

— Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM

Apa selanjutnya

Bahlil menyatakan pemerintah masih menimbang perkembangan kebutuhan energi nasional dalam menentukan arah ekspor gas, termasuk kemungkinan penyesuaian pengiriman LNG. Sumber yang tersedia belum memuat tanggapan Bahlil atau Kementerian ESDM atas penjelasan METI, dan tidak menyebut langkah lanjutan terkait dugaan ekspor ulang tersebut.