Cakupan skrining untuk separuh penduduk Indonesia melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi sasaran Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ia ingin angka 50 persen itu tercapai sebelum dirinya pensiun atau berpindah jabatan. Hal tersebut ia sampaikan dalam Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/10).
“Saya kan ingin targetnya kalau bisa sebelum saya pensiun atau pindah, 50% dari populasi sudah di-screening,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Apa itu Cek Kesehatan Gratis dan apa yang diperiksa
CKG adalah program skrining kesehatan yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto. Budi menyebutnya sebagai salah satu instrumen pemerintah untuk memperkuat pencegahan penyakit.
Menurut Budi, pemeriksaan dimaksudkan agar penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi bisa diketahui lebih awal. Dengan begitu, warga dapat ditangani sebelum kondisinya semakin berat. Hasil pemeriksaan yang dimaksud mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan indeks massa tubuh (BMI).
Capaian peserta dan target 50 persen
Budi memaparkan jumlah warga yang telah ikut pemeriksaan terus bertambah. Ia menyebut angka 70 juta untuk tahun lalu, 111 juta pada Agustus, dan 130 juta pada Oktober.
“Tahun lalu 70 juta, bulan lalu (Agustus) 111 juta, bulan ini (Oktober) 130 juta,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Sumber yang dikutip tidak merinci bagaimana angka peserta itu dihitung terhadap target 50 persen populasi, dan tidak menyebut tenggat waktu pasti. Budi hanya mengaitkan target tersebut dengan masa jabatannya.
Mengapa skrining tidak cukup tanpa pengobatan
Budi menekankan bahwa pemeriksaan saja belum memadai. Warga yang terdeteksi bertekanan darah, gula darah, atau kolesterol tinggi, menurut dia, harus segera mendapat penanganan agar kondisinya terkendali.
Ia mencontohkan obat amlodipin untuk tekanan darah tinggi, metformin untuk gula darah tinggi, dan statin untuk kolesterol tinggi, sesuai kebutuhan medis. Setelah itu, kondisi pasien diukur kembali.
“Orang yang darah tinggi sekarang mulai kita kasih amlodipin setiap hari. Orang yang gula dikasih metformin setiap hari, yang kolesterol tinggi dikasih statin, kita ukur lagi,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Ia juga mengutip hasil penelitian di banyak negara. Menurut Budi, jika skrining mencapai 80 persen, 80 persen dari yang bermasalah diobati, dan 80 persen dari yang diobati terkendali, kematian akibat penyakit kardiovaskular, stroke, jantung, dan ginjal bisa turun 80 persen.
Dengan penanganan sejak dini, Budi berharap angka penyakit kardiovaskular, stroke, dan gangguan ginjal dapat turun secara signifikan. Warga pun, menurutnya, tidak perlu menunggu sakit parah untuk memperoleh layanan kesehatan.
Alasan biaya: perbandingan belanja kesehatan
Budi menilai strategi yang terlalu berorientasi pada pengobatan akan menyulitkan negara membiayai layanan kesehatan. Rumah sakit, alat kesehatan, obat, dan dokter spesialis, katanya, membutuhkan anggaran besar.
Untuk menggambarkannya, ia membandingkan beberapa negara. Di Jepang, usia harapan hidup rata-rata mencapai 84 tahun, sedangkan belanja kesehatannya sekitar USD 5.500 untuk tiap orang dalam setahun. Di Amerika Serikat, usia rata-rata 79 tahun, dan belanjanya USD 11.900 per orang setiap tahun.
“Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit, Bapak, Ibu. Singapura menjaga masyarakatnya sehat, bukan hanya mengobati saat sakit,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Untuk Indonesia, Budi menyebut belanja kesehatan kini sekitar USD 130 per penduduk tiap tahun. Bila ingin menyamai Malaysia, yang usia harapan hidupnya 76 tahun, kebutuhan anggaran kesehatan nasional diperkirakan bisa naik hingga sekitar Rp1.800 triliun. Dalam paparannya, Budi menyebut belanja kesehatan Indonesia kini 640 triliun dan akan naik 3 kali lipat.
“Kalau pendekatannya program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu, enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Kaitan dengan BPJS Kesehatan dan pemanfaatan data
Budi menyoroti penyakit jantung, ginjal, dan stroke yang membutuhkan pembiayaan besar lewat BPJS Kesehatan. Menurut dia, risiko penyakit-penyakit itu dapat ditekan lewat pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
“Kalau tekanan darah, gula darah, kolesterol darah, BMI-nya terkendali, angka BPJS enggak seseram tadi,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Data hasil CKG, kata Budi, akan dipakai pemerintah untuk memetakan risiko kesehatan masyarakat dan menjadi dasar pemberian intervensi. Data itu juga dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi warga secara berkala serta mengevaluasi efektivitas intervensi.
“Kita akan dapat tuh darah tekanan darahnya berapa, gula darahnya berapa, kolesterolnya berapa, BMI-nya berapa, semuanya datanya ada,”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Apa selanjutnya
Budi berharap skrining, pengobatan dini, dan pengendalian faktor risiko berjalan beriringan. Menurut dia, strategi itu tidak hanya menekan beban pembiayaan kesehatan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan harapan hidup masyarakat.
Dalam sumber yang dirujuk, belum ada rincian jadwal perluasan CKG maupun tanggapan dari pihak lain atas target tersebut. Informasi tambahan tentang lokasi dan cara mengikuti pemeriksaan dapat diperoleh dari kanal resmi Kementerian Kesehatan.



