Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi pengiriman 7 ton cabai rawit dari Jawa Timur ke Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Langkah ini bertujuan menekan harga cabai yang tinggi di daerah tujuan dan menjaga pasokan menjelang Natal 2026 serta Tahun Baru 2027.
Apa yang dikirim dan dari mana
Menurut keterangan tertulis Kemendag pada Senin (2/11/2026), cabai rawit itu berasal dari Probolinggo, Jawa Timur. Pengiriman dilakukan bersama Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara dan mendapat dukungan Badan Pangan Nasional (Bapanas) lewat program Fasilitasi Distribusi Pangan.
Saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/11), Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut pengiriman itu juga melibatkan pemerintah daerah. Ia mengatakan Jawa Timur sedang surplus cabai.
Harga cabai di Halmahera Utara dan nasional
Kemendag memantau harga lewat Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP). Data SP2KP per 27 Oktober 2026 mencatat harga cabai rawit di Halmahera Utara sekitar Rp150.000 per kilogram.
Pada 3 November, rata-rata nasional cabai rawit merah menurut SP2KP berada di Rp71.662 per kg, sedangkan harga acuan Rp57 ribu per kg. Cabai merah keriting rata-rata Rp67.480 per kg dengan harga acuan Rp55 ribu per kg.
Budi menjelaskan, kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah belakangan terutama dipicu cuaca yang mengganggu panen petani.
“Ya, faktor cuaca sih. Ya cuacanya seperti ini, jadi produksinya menurun”
— Budi Santoso, Menteri Perdagangan
Tanggapan pemerintah daerah
Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua menyambut baik tambahan pasokan itu. Menurutnya, pengiriman dari Jawa Timur dapat melancarkan distribusi dari daerah penghasil dan membantu memenuhi kebutuhan warga. Ia berharap harga bisa turun hingga di bawah Rp100.000 per kg.
Kerja sama antardaerah dan jalur distribusi
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan mengatakan, Kemendag mempertemukan daerah yang harga komoditasnya di atas harga acuan atau harga eceran tertinggi dengan daerah sentra produksi. Pada Senin (19/10), Kemendag memfasilitasi penandatanganan kerja sama Pemkab Halmahera Utara dan Pemkab Malang, yang didukung Bank Indonesia lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
Untuk kelancaran logistik, Kemendag berkoordinasi dengan Bapanas dan penyedia jasa transportasi. Pilihan moda angkutan disesuaikan dengan kebutuhan pasokan, waktu tempuh, dan efisiensi biaya.
Kemendag juga menjalankan program Gerai Maritim lewat Tol Laut dan Jembatan Udara untuk wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan. Program itu telah menjangkau 63 kota/kabupaten lewat Tol Laut dan 12 kabupaten lewat Jembatan Udara. Kemendag mencatat penurunan harga rata-rata 11,22 persen, terdiri atas bapok 11,63 persen dan barang penting 8,04 persen.
Pada Januari–September 2026, pelaporan angkutan barang lewat Indonesia National Single Window mencakup 244 pelabuhan dengan volume 541,26 juta ton. Lewat INATRADE, 253 pelaku usaha melapor untuk 16 komoditas, dan koordinasi kerja sama antardaerah menjangkau 18 provinsi serta 301 kabupaten/kota.
“Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pasokan di daerah yang membutuhkan, menekan kesenjangan harga antarwilayah, serta menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat”
— Iqbal Shoffan Shofwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag
Rencana berikutnya: telur
Budi mengatakan Kemendag segera menyiapkan pola serupa untuk komoditas lain, antara lain telur. Telur ayam secara nasional disebutnya surplus, dengan rata-rata harga Rp26.400 per kg, di bawah harga acuan Rp30 ribu per kg. Data SP2KP pada 3 November mencatat rata-rata telur ayam ras Rp26.254 per kg.
Menurut Budi, distribusi yang tersendat membuat harga di sejumlah daerah naik, sehingga pasokan akan dikirim ke daerah yang harganya lebih tinggi. Ia menyebut harga yang stabil sesuai acuan juga membantu peternak tetap berproduksi.



