Iran menyatakan telah memberi tahu Amerika Serikat (AS) mengenai syarat yang harus dipenuhi agar proses diplomatik kedua negara bisa berlanjut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan hal itu pada Rabu (23/9/2026), bersamaan dengan berlangsungnya Sidang Umum PBB di New York.

Menurut laporan ANTARA yang mengutip Sputnik/RIA Novosti, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada Selasa menyampaikan ketentuan yang berkaitan dengan Selat Hormuz kepada Steve Witkoff, utusan khusus AS.

Terpisah dari itu, Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyebut perwakilan negaranya telah berkontak dengan AS di sela Sidang Umum PBB melalui perantara Qatar.

Syarat Iran untuk melanjutkan diplomasi

Baghaei menulis di platform X bahwa interaksi dengan perwakilan AS yang berlangsung sekitar dua jam itu menghasilkan penyampaian syarat yang, menurut dia, jelas dan tanpa ruang tafsir ganda bagi pihak Amerika.

Ia merinci daftar tuntutan itu. Iran meminta blokade laut dicabut, agresi AS berhenti, dan apa yang disebut Teheran sebagai "terorisme ekonomi" dihentikan. Iran juga menuntut perang "di semua front" diakhiri serta blokir atas asetnya dibuka. Tuntutan terakhir, AS diminta mengakui jalur pelayaran aman di Selat Hormuz yang sudah dibuat bersama Oman.

Sumber yang tersedia belum memuat tanggapan resmi Washington atas syarat-syarat tersebut. Keterangan ini merupakan versi pihak Iran.

Latar konflik AS-Iran

Menurut ANTARA, konflik bermula ketika AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, lalu dibalas Teheran. Pada pertengahan Juni, kedua negara meneken nota kesepahaman guna mengakhiri permusuhan. Tak lama berselang, pertempuran kembali berlanjut.

Baca jugaPidato Pezeshkian di Sidang Umum PBB: Iran Buka Pintu Dialog, Tolak Tekanan AS dan Soroti Selat Hormuz

VIVA mencatat, sebelum nota kesepahaman itu sudah ada gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada April. Dokumen yang dikenal sebagai MoU Islamabad pada Juni tersebut memberikan tenggat 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan jangka panjang. Setelah saling serang kembali terjadi, Washington menerapkan lagi blokade militer di pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Teheran menutup Selat Hormuz.

Akibat eskalasi itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz nyaris berhenti. ANTARA melaporkan gangguan tersebut menekan pasokan minyak mentah, produk turunannya, dan gas alam cair, sehingga harga bahan bakar di dunia ikut terdorong naik.

Perang kata di forum PBB

Di tengah upaya diplomasi itu, pernyataan keras juga mengemuka di forum PBB. VIVA, mengutip Anadolu Agency, melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya sehari sebelumnya menyebut Iran sebagai pendukung teror nomor satu.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang hadir di Markas Besar PBB pada Rabu waktu setempat, membantah tudingan itu.

Kami bukan teroris, kami adalah korban terorisme.

Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Pezeshkian juga menyebut pemimpin Iran dibunuh tanpa alasan apa pun, merujuk pada serangan militer AS dan Israel yang dimulai awal tahun ini. Menurut dia, rakyat Iran telah mempertahankan negaranya selama tujuh bulan terakhir.

Apa selanjutnya

Belum ada keterangan dalam sumber mengenai jadwal pertemuan lanjutan antara Iran dan AS. Konflik tersebut hingga kini belum terselesaikan. Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, kontak dengan AS di sela Sidang Umum PBB dilakukan lewat perantara Qatar.