Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Iran pada Sabtu (26/9/2026), meski Teheran mengklaim usulan itu bisa membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Penolakan ini disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi satu-satunya cara mengakhiri konflik dengan AS dan Israel.

Apa yang ditolak Trump

Menurut laporan BeritaSatu, Trump menilai desakan Iran untuk segera membuka Selat Hormuz muncul karena posisi Teheran yang terjepit dalam konflik yang sudah berjalan hampir tujuh bulan. Ia menyampaikan penolakannya secara langsung kepada wartawan di luar Gedung Putih.

“Saya menolak usulan mereka. Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka Selat Hormuz karena mereka kalah sangat telak.”

— Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Meski menolak, Trump tidak menutup pintu negosiasi. Ia bahkan menyatakan ketertarikannya pada gagasan kesepakatan itu sendiri, seraya menambahkan bahwa dirinya menyukai proses membuat kesepakatan, sebagaimana dikutip BeritaSatu dari AFP.

Isi proposal yang diajukan Iran

Iran mengumumkan usulan perdamaian ini di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan lalu, dan disampaikan kepada pihak AS lewat mediator Qatar. Araghchi menjelaskan kepada BeritaSatu bahwa skema tersebut menghendaki gencatan senjata menyeluruh di kawasan, mencakup front Lebanon maupun Yaman, dengan berpijak pada nota kesepahaman yang lebih dulu diteken kedua negara.

Selain itu, proposal itu memuat permintaan agar dana Iran yang selama ini dibekukan dicairkan, sanksi ekspor minyak dicabut, dan patroli blokade laut oleh militer AS di kawasan tersebut diakhiri. Iran meyakini normalisasi arus kapal di Selat Hormuz bisa terwujud hanya dalam waktu sepekan apabila semua tuntutan itu dipenuhi.

“Iran telah menyampaikan rencana konkret tujuh hari kepada Amerika Serikat melalui perantara Qatar. Jika syarat-syarat yang diperlukan dipenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam tujuh hari.”

— Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran

Mengapa Selat Hormuz jadi taruhan besar

BeritaSatu menyebut Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran yang sangat menentukan bagi pasokan energi global, sehingga wajar bila kawasan ini menjadi pusat pertarungan kepentingan antara Washington dan Teheran dalam kebuntuan yang sudah berjalan sekitar tujuh bulan. Katadata dan Kontan turut mencatat bahwa serangan-serangan di jalur tersebut membuat lalu lintas kapal menyusut tajam, memukul arus distribusi minyak, dan ikut menekan perekonomian dunia, kendati Trump kerap menyatakan Amerika tetap mengendalikan jalur perairan itu.

Sikap keras Trump juga tampak dari unggahannya di Truth Social berupa peta Selat Hormuz yang dilingkari dan diberi label baru "Trump Strait", seperti dilaporkan BeritaSatu. Merujuk laporan The Wall Street Journal yang turut dikutip Katadata dan BeritaSatu, Trump pribadi tidak yakin Teheran benar-benar akan memenuhi tuntutan yang diminta, dan disebut telah mengisyaratkan kepada para stafnya soal peluang melancarkan kembali serangan udara begitu masa pemilihan sela AS bulan November usai.

Baca jugaIran Tunggu Jawaban Resmi Mediator soal Hormuz Setelah Trump Tolak Proposal Tujuh Hari

Iran tetap bertahan soal nuklir

Araghchi mengatakan bahwa jika AS menyetujui proposal ini, kedua pihak berpotensi membuka pembicaraan lebih luas mengenai topik yang disepakati bersama, termasuk program nuklir Iran. Namun seorang pejabat senior Iran yang dikutip Katadata menegaskan Teheran tidak akan memberikan konsesi apa pun terkait haknya, termasuk pengayaan uranium atau pengiriman uranium berkadar tinggi ke luar negeri, meski AS menerima kesepakatan damai tersebut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan program CBS "Face the Nation", menyatakan Teheran siap berunding soal program nuklir dan isu lain, tetapi tidak akan menerima tindakan intimidasi atau paksaan.

“Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan.”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Pezeshkian juga menyebut proposal damai itu disusun atas koordinasi langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran, sebagaimana dikutip BeritaSatu, dan menegaskan proses pembukaan Selat Hormuz akan langsung dimulai sejak hari pertama AS menerima kesepakatan.

Jalan buntu diplomasi dan eskalasi di kawasan

Terlepas dari pernyataan publik Trump, Araghchi menyebut mediator yang menjembatani pembicaraan AS-Iran belum secara resmi menyampaikan penolakan Washington kepada Teheran. Menurut Katadata, Iran masih menunggu pandangan pasti para mediator sebelum mengambil keputusan lebih lanjut, sementara seorang pejabat AS sebelumnya menyebut komunikasi dengan pihak Iran lewat mediator berjalan "positif dan konstruktif".

Konflik yang meletus sejak 28 Februari akibat serangan Amerika Serikat dan Israel itu terus berlanjut lewat gelombang jeda dan serangan susulan, menelan ribuan korban jiwa sekaligus melumpuhkan kekuatan militer konvensional serta memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sebelumnya sudah tertekan.

Iran dan sekutu-sekutunya turut memperluas front konflik ke berbagai wilayah; kelompok Houthi di Yaman, misalnya, membidik kepentingan Arab Saudi. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi melaporkan berhasil menangkis dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak yang dilepaskan Houthi ke wilayah kerajaan itu pada dini hari Sabtu.

Baca jugaHouthi Luncurkan Dua Drone ke Riyadh dan Dua Rudal ke Khamis Mushait, Koalisi Saudi Klaim Cegat

Juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC), Hossein Mohebi, menegaskan pihaknya tidak akan berhenti membalas AS sampai tujuh syarat utama yang diajukan Iran dipenuhi secara utuh, menurut BeritaSatu. Situasi ini menegaskan bahwa meski kedua pihak sama-sama menyebut kata "kesepakatan", jarak antara posisi Washington dan Teheran masih lebar, terutama menyangkut syarat, waktu, dan jaminan pelaksanaan di lapangan.