Gerakan Ansar Allah Yaman, yang dikenal sebagai Houthi, mengklaim meluncurkan serangan balasan ke sasaran strategis Arab Saudi di Riyadh dan kota pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Klaim itu disampaikan juru bicara militer Houthi pada Kamis (24/9).
Di tengah serangan Houthi ke Saudi belakangan ini, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan akan menggelar pertemuan darurat para kepala staf. Rencana itu diumumkan Kementerian Luar Negeri Saudi pada Jumat (25/9). Sumber yang tersedia tidak mengaitkan langsung pertemuan itu dengan klaim serangan 24/9.
Klaim Houthi: dua operasi ke Riyadh dan Yanbu
Juru bicara militer Houthi menyampaikan klaim itu kepada penyiar Yaman, Al Masirah. Ia menyebut ada dua operasi khusus yang dilancarkan sebagai balasan atas apa yang disebutnya agresi Saudi.
“Kami melancarkan dua operasi militer khusus sebagai balasan agresi Saudi. Operasi pertama menyasar fasilitas penting di ibu kota pihak lawan, Riyadh. Target kedua yakni fasilitas Aramco di Yanbu.”
— Juru bicara militer Houthi, kepada penyiar Yaman Al Masirah
Menurut juru bicara itu, serangan tersebut dilakukan dengan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Sumber yang tersedia belum memuat konfirmasi independen ataupun tanggapan Saudi, termasuk apakah Riyadh membenarkan serangan ke Riyadh dan Yanbu maupun dampaknya.
Latar konflik Houthi dan Arab Saudi
Ketegangan di Yaman meningkat pada pertengahan Juli, ketika pasukan yang berpihak pada pemerintah menghantam bandara Sanaa. Serangan itu bertepatan dengan pendaratan sebuah pesawat asal Iran yang mengangkut rombongan pimpinan Houthi.
Houthi menuding Riyadh bertanggung jawab, mengumumkan perang, dan bersumpah terus bertempur sampai blokade atas daerah kekuasaannya diakhiri. Kelompok itu juga mengaku maju pesat di sisi barat daya dan barat Yaman. Mereka menyebut kini menguasai garis pantai Laut Merah serta kawasan hunian di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Baca jugaHouthi Ancam Serang Kepentingan AS bila Bantu Saudi, Bab al-Mandab Disebut Garis Merah
Saudi, Turki, dan Pakistan akan gelar pertemuan darurat
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan adalah anggota Pakta Mekkah. Menurut CNN Indonesia, para menteri luar negeri ketiga negara bertemu sebelum Kemlu Saudi merilis pernyataan resmi di X pada Jumat.
Kemlu Saudi menyebut pertemuan para menlu baru membahas pengaturan untuk menggelar pertemuan darurat kepala staf ketiga negara. Tujuannya, menurut pernyataan itu, adalah membahas langkah dukungan bagi Kerajaan sesuai perjanjian pertahanan bersama.
“Dengan tujuan membahas cara-cara pendukung bagi Kerajaan sesuai dengan Perjanjian Mekkah untuk Pertahanan Bersama.”
— Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi
Saudi juga menggarisbawahi ketentuan dalam pakta itu: serangan terhadap satu negara anggota diperlakukan sebagai serangan atas seluruh anggota.
Para menlu turut menyinggung perkembangan terkini di kawasan. Mereka menegaskan perlunya menguatkan hukum internasional, relasi bertetangga yang baik, penghormatan atas kedaulatan, serta sikap saling tidak mencampuri urusan dalam negeri. Ketiganya juga mendukung upaya menurunkan ketegangan sampai tercapai penyelesaian damai yang permanen.
Serangan berbalas di tengah perang AS-Iran
Menurut CNN Indonesia, pertemuan para menlu dan rencana pertemuan kepala staf itu muncul setelah Houthi kembali menyerang sejumlah wilayah Saudi beberapa waktu terakhir. Saudi belakangan menyatakan telah mencegat rudal balistik Houthi. Pada hari yang sama, Saudi mengeluarkan peringatan untuk wilayah Mekkah, Jeddah, hingga Yanbu.
Saudi dan Houthi disebut saling menyerang dalam beberapa waktu terakhir, dengan sasaran infrastruktur seperti bandara dan gudang senjata. Bentrokan itu berlangsung bersamaan dengan perang Amerika Serikat dan Iran yang berpusat di Selat Hormuz.
Sumber yang tersedia belum menyebut waktu dan tempat pelaksanaan pertemuan darurat para kepala staf tersebut.



