Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah atas (lycée) di Prancis berlanjut hingga akhir pekan ini. Para pelajar memprotes kekurangan guru, kelas yang penuh, dan kondisi gedung sekolah. Serikat pelajar menyerukan aksi besar lanjutan pada Selasa (6/10).

Apa yang terjadi dalam protes pelajar Prancis

Menurut CNN Indonesia, demonstrasi melanda setidaknya 1.200 sekolah dalam sepekan terakhir. Para pelajar memblokade pintu masuk sekolah. Di sejumlah kota terjadi bentrokan dengan aparat, dan polisi menembakkan gas air mata.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan lebih dari 5.000 orang ditangkap sejak Senin. Tribunnews, yang mengutip TIME, menyebut hampir 2.000 orang di antaranya ditahan pada Kamis (1/10/2026). IDN Times melaporkan 440 orang diamankan pada Selasa (29/9/2026), dua pertiganya menjalani penahanan polisi.

Di Lille, ratusan siswa bertopeng dilaporkan membakar tempat sampah dan melempari polisi dengan batu bata. Bentrokan serupa dilaporkan di Marseille, Lyon, Nantes, dan Rennes.

Angka korban luka berbeda karena dilaporkan pada waktu berbeda. IDN Times, melaporkan aksi Selasa (29/9/2026), menyebut sedikitnya 10 siswa dan staf sekolah terluka. Tribunnews, dalam laporan terbarunya, mengutip Menteri Pendidikan Édouard Geffray yang menyebut 170 siswa dan 65 staf sekolah terluka. Tribunnews juga melaporkan lebih dari 300 polisi dan gendarmerie terluka.

Tuntutan dan keluhan para pelajar

Keluhan utama adalah kekurangan guru dan tenaga pendukung. Kementerian Pendidikan mencatat hampir 10 persen jam pelajaran di sekolah menengah negeri tidak terlaksana selama tahun ajaran 2024-2025. Sekitar 7,5 persen dari jam yang hilang itu disebabkan tidak adanya guru pengganti.

Para siswa juga mengeluhkan kelas berisi 35 orang dan kursi yang kurang. Mereka menyebut toilet tidak memadai, ada ruang kelas yang bocor, dan kantin terlalu kecil. Seorang siswa berusia 17 tahun di Strasbourg mengatakan kepada AFP bahwa suhu 35 derajat Celsius pada musim panas membuat kelas tak tertahankan.

Pelajar dari pinggiran kota juga merasa diabaikan. Seorang siswi bernama Victoire mengatakan, seperti dikutip IDN Times, bahwa mereka merasa ditelantarkan pemerintah. Pelajar juga mengkritik sistem pendaftaran universitas daring Parcoursup, yang mereka anggap sumber stres dan ketidakpercayaan.

Baca jugaGeffray: Gangguan di 735 Sekolah Prancis Turun Hampir 30 Persen, Orang Tua Juga Diminta Awasi Anak

Tanggapan pemerintah

Pemerintah menilai keluhan pelajar mungkin beralasan, tetapi kekerasan tidak dapat dibenarkan. Pemerintah juga menuduh kelompok kiri garis keras menunggangi aksi. Polisi dikecam karena dinilai memakai kekuatan berlebihan terhadap demonstran berusia sekitar 14 hingga 18 tahun.

“Tidak ada alasan yang membenarkan datang ke sekolah dengan penutup wajah, membawa senjata lempar, dan sengaja menunggu polisi untuk diserang”

— Laurent Nuñez, Menteri Dalam Negeri Prancis

Geffray bertemu serikat pendidikan, organisasi siswa, dan asosiasi orang tua pada Jumat pagi. Ia mengumumkan platform bagi siswa untuk mengajukan usulan reformasi pendidikan, yang akan dievaluasi dan dipakai menyusun laporan nasional. Setelah pertemuan itu, organisasi siswa tetap menyerukan demonstrasi karena menilai belum ada langkah konkret.

“Salah satu kesulitan dalam gerakan ini adalah tidak adanya tuntutan nasional. Semuanya bermula dari tuntutan-tuntutan lokal”

— Édouard Geffray, Menteri Pendidikan Prancis

Angka berbeda dan langkah berikutnya

Jumlah sekolah terdampak berbeda antarsumber. CNN Indonesia menyebut setidaknya 1.200 sekolah, sedangkan Geffray, menurut media yang sama, menyebut sekitar 735 lembaga. Tribunnews melaporkan lebih dari 400 sekolah ditutup dan lebih dari 500 sekolah tetap terganggu pada Jumat. IDN Times menyebut 400 dari 3.700 sekolah menengah terdampak. Sumber-sumber itu tidak menjelaskan penyebab perbedaan angka tersebut.

Menurut polisi, sekitar 900 demonstrasi berlangsung di luar sekolah di seluruh Prancis pada Jumat (2/10/2026). Serikat pelajar menyatakan aksi lanjutan akan digelar pada Selasa (6/10).