Harga minyak dunia menguat pada Selasa (29/9). Minyak Brent naik 63 sen atau 0,6 persen menjadi US$105,91 per barel, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, menurut Reuters yang dikutip CNN Indonesia.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 72 sen atau 0,8 persen ke level US$93,32 per barel.
Pergerakan harga minyak Brent dan WTI
Katadata mencatat angka yang sedikit berbeda, yakni pada pukul 08.14 waktu Singapura. Saat itu Brent naik 0,9 persen menjadi US$106,22 per barel, sedangkan WTI naik 1 persen menjadi US$93,51 per barel. Reuters, sebagaimana dikutip CNN Indonesia, tidak menyebut waktu pencatatan harga.
Menurut Katadata, harga acuan dunia menguat untuk hari kedua. Sepanjang tahun ini Brent telah terkerek lebih dari 70%, sementara konflik di Timur Tengah sudah melewati tujuh bulan.
Ekspor Timur Tengah meningkat, tetapi belum sepenuhnya normal
Analis Utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan volume ekspor minyak dari kawasan Teluk mulai menunjukkan peningkatan. Namun, sebagian di antaranya masih bergantung pada pemindahan muatan dari kapal ke kapal, yang menurutnya kurang efisien dan lebih mahal daripada operasi normal. Karena itu, harga bertahan tinggi.
Data awal dari Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah produsen utama Timur Tengah mencapai 12,8 juta barel per hari pada September, tertinggi sejak Februari. Lonjakan itu ditopang bertambahnya kiriman dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Katadata melaporkan Arab Saudi telah memulihkan kira-kira separuh arus minyak lewat pipa East-West. Jalur ini memungkinkan minyak dikirim tanpa melintasi Selat Hormuz, dan sempat berhenti beroperasi karena serangan drone di awal bulan ini. Aliran ke arah Laut Merah disebut sudah sedikitnya 3,5 juta barel per hari.
Baca jugaTrump Tolak Proposal Iran soal Selat Hormuz, Teheran Klaim Siap Kembali Berperang
Perundingan AS-Iran dan Selat Hormuz
Menurut CNN Indonesia, para pejabat Washington dan Teheran masing-masing berkomunikasi dengan mediator untuk mencari jalan mengakhiri perang yang memasuki bulan ketujuh. Pembahasan berikutnya diperkirakan berpusat pada tawaran tujuh hari dari Iran, yang disampaikan pekan lalu saat berlangsung Sidang Umum PBB.
Katadata menyebut sejumlah pejabat Iran secara tertutup tidak yakin damai dengan Washington dan pembukaan kembali Selat Hormuz bisa terwujud sebelum pemilu paruh waktu AS pada November. Sikap itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menampik usul membuka selat dalam tujuh hari.
Trump menyangkal kabar bahwa ia menawarkan pelonggaran sanksi serta pencairan aset Iran yang dibekukan, sebagai balasan atas langkah nyata Teheran di bidang nuklir. Menlu Iran Abbas Araghchi juga menyangkal bahwa Teheran bersedia luwes dalam isu nuklir.
Perang itu bermula pada akhir Februari, setelah AS dan Israel menyerang Iran. Sejak itu perhatian tertuju ke Selat Hormuz, yang menjadi rute vital bagi pengapalan minyak dan gas sehingga gangguan di sana bisa menggoyang pasar energi.
Pandangan analis dan wacana kebijakan diesel AS
Waterer menilai harapan akan tercapainya kesepakatan ikut mencegah Brent bertahan di atas US$110 per barel dalam waktu dekat.
“Risiko geopolitik masih sangat besar, tetapi pasar telah belajar bahwa minyak mentah akan terus menemukan jalan untuk keluar,”
— Haris Khurshid, Chief Investment Officer Karobaar Capital LP
Khurshid, dikutip dari Bloomberg, menilai Brent menghadapi risiko penurunan lebih besar daripada potensi kenaikan. Menurutnya, kesepakatan AS-Iran yang kredibel berpotensi memangkas harga hingga US$ 15 per barel.
Di AS, pemerintah menimbang untuk melonggarkan ketentuan agar penjualan diesel merah bisa diperluas, dengan tujuan menekan harga. Langkah itu juga berpotensi membuat sebagian pembeli terbebas dari pajak bahan bakar federal. Gagasan tersebut muncul setelah beberapa opsi dikaji selama beberapa hari sebagai pengganti larangan ekspor diesel.
Adapun CEO TotalEnergies SE Patrick Pouyanné menilai rencana larangan ekspor diesel AS bisa berbalik merugikan. Menurut dia, langkah itu akan memaksa kilang AS menurunkan produksi dan berpotensi mendorong harga bensin domestik naik.



