Iran mengajukan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan hal itu di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, dikutip dari kantor berita Anadolu pada Sabtu (26/9/2026). Menurut iNews, tawaran tersebut dapat membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Amerika Serikat (AS).
Araghchi menegaskan tawaran itu tidak berlaku tanpa syarat. Iran hanya akan melaksanakannya jika AS menerima sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.
“Jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, Selat Hormuz akan dibuka dalam waktu 7 hari dan perundingan akan dimulai kembali”
— Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran
Negosiator AS dan Iran berada di New York
Perwakilan perundingan dari AS dan Iran sama-sama berada di New York. Mereka sedang mencari cara menghentikan permusuhan kedua pihak secara bertahap. Menurut iNews, permusuhan itu sudah berjalan sejak 28 Februari.
Sejumlah sumber pejabat AS menyebut ada beberapa poin yang dibahas. Salah satunya, Selat Hormuz dibuka kembali dan sebagai gantinya Washington mencabut embargo ekonomi terhadap Iran. Rincian syarat yang dimaksud Araghchi tidak dijabarkan dalam laporan iNews.
Perundingan sempat buntu soal navigasi di Hormuz
Menurut laporan ANTARA, perundingan kedua pihak mengalami jalan buntu. Kebuntuan terjadi meski ada nota kesepahaman pada Juni untuk mencapai perdamaian final. Penyebabnya adalah perbedaan sikap soal navigasi di Selat Hormuz.
ANTARA menyebut selat itu salah satu jalur strategis terpenting di dunia bagi pengiriman energi dan barang.
Sanksi penerbangan menambah ketegangan
Di tengah upaya diplomasi itu, tekanan terhadap Iran berlanjut di sektor penerbangan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan sanksi baru akan menghentikan kegiatan maskapai Iran secara global mulai 23 September.
Uni Emirat Arab menghentikan sementara penerbangan maskapai yang berangkat dari atau menuju Iran sejak Kamis (24/9), tanpa batas waktu yang ditentukan. Otoritas Penerbangan Sipil Umum negara itu menyebut pembatasan AS terhadap maskapai Iran sebagai alasannya. Bandara Internasional Najaf juga menghentikan penerbangan dari dan ke Iran pada Jumat (25/9), dengan alasan arahan pihak berwenang.
Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, merespons pembatasan tersebut lewat unggahan di platform X. Ia memperingatkan perjalanan udara di kawasan dapat terganggu jika maskapai Iran terus dilarang mengakses penerbangan dan layanan bandara.
“Strategi kami dalam masalah ini jelas, perjalanan udara di kawasan ini tersedia bagi semua pihak atau tidak bagi siapa pun.”
— Mohammad Mokhber, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran
Mokhber menegaskan bahwa bagi negara-negara kawasan yang berpihak pada kebijakan AS memusuhi Iran, Teheran tidak akan menerima mereka. Menurut dia, keputusan negara-negara itu akan terus diingat oleh rakyat Iran.
Apa selanjutnya
Proposal tujuh hari itu berlaku hanya jika AS menerima syarat-syarat yang diajukan Iran. Dalam sumber yang tersedia, belum ada tanggapan dari pihak AS terhadap tawaran tersebut.



