Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran sepenuhnya siap menghadapi perang besar-besaran melawan Amerika Serikat, namun tetap membuka pintu diplomasi. Pernyataan itu disampaikan Araghchi kepada program "Meet the Press" di NBC News, Minggu (27/9/2026), sehari setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari.

Sikap itu muncul di tengah kebuntuan diplomatik yang belum juga cair. Iran menyatakan masih menunggu jawaban resmi Washington lewat mediator, sementara sejumlah pejabat Iran menunjukkan nada berbeda-beda, dari tetap terbuka berunding hingga menyatakan sudah tak percaya pada proses perundingan dengan AS.

Iran Klaim Siap Perang, Tetap Tawarkan Diplomasi

Araghchi merespons pertanyaan soal laporan Wall Street Journal yang menyebut Trump mungkin melanjutkan kampanye pengeboman setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November. Menurut dia, Iran tidak akan goyah menghadapi ancaman apa pun.

“Kami sepenuhnya siap jika perang kembali berkecamuk, dan saya tegaskan kembali, kami akan tetap teguh menghadapi agresi baru apa pun, bahkan jika itu berujung pada perang dahsyat yang menghancurkan”

— Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran

Namun di kalimat berikutnya, Araghchi menyebut jalur diplomasi belum tertutup.

“Di saat yang sama, kami juga siap menempuh jalur diplomasi. Keputusan ada di tangan Presiden Trump”

— Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menambahkan bahwa AS masih berpotensi melancarkan serangan baru mengingat situasi regional yang buruk. Menurut laporan Reuters yang dikutip CNBC Indonesia, Akraminia menegaskan Teheran siap menghadapi konfrontasi apa pun.

Trump Tolak Proposal, Iran Masih Tunggu Jawaban Resmi

Pekan lalu di sela Sidang Majelis Umum PBB New York, Iran mengajukan usulan lewat mediator Qatar: membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas maritim dalam tujuh hari, dengan syarat AS mencabut blokade angkatan laut dan menghapus sanksi terhadap minyak Iran.

Trump menolak usulan tersebut pada Sabtu (26/9), menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.

“Saya menolak usulan mereka (Iran). Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka selat itu karena mereka sedang mengalami kekalahan besar”

— Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Meski begitu, menurut Araghchi, para mediator belum menyampaikan penolakan resmi itu kepada Teheran. Ia menilai Trump kerap melontarkan pernyataan yang kontradiktif, sehingga Iran memilih menunggu sikap definitif dari mediator sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut AS berada dalam posisi kuat dengan kendali atas Selat Hormuz sehingga tidak terburu-buru, sambil menyatakan komunikasi lewat mediator masih berjalan positif dan konstruktif. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pun menyebut kesepakatan dengan Iran, bila tercapai, akan membutuhkan proses dan negosiasi yang panjang.

Baca jugaIran Tunggu Jawaban Resmi Mediator soal Hormuz Setelah Trump Tolak Proposal Tujuh Hari

Nada Berbeda dari Pezeshkian

Presiden Iran Masoud Pezeshkian tampil dengan nada yang lebih keras dalam wawancara dengan Al Jazeera yang tayang Sabtu. Ia menyatakan Teheran sudah tak lagi percaya pada proses perundingan dengan Washington menyusul rentetan serangan dan sanksi yang dijatuhkan AS.

“Kami tidak mempercayai pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dengan mereka akan dicapai”

— Masoud Pezeshkian, Presiden Iran

Pezeshkian menyebut Teheran tetap menyampaikan pesan kepada Washington lewat mediator Qatar dan Pakistan, dengan harapan utama AS memperjelas posisinya atas nota kesepahaman yang pernah diteken kedua negara. Ia juga menyatakan tidak melihat perlunya bertemu Trump selama AS belum memenuhi kesepakatan yang sudah ditandatangani sebelumnya.

Namun dalam wawancara terpisah dengan acara CBS 'Face the Nation', sebagaimana dikutip detikNews, Pezeshkian sebelumnya menyatakan Iran tetap siap membicarakan program nuklir dan isu-isu lain, sepanjang tidak disertai intimidasi atau paksaan. Kombinasi kedua pernyataan itu menunjukkan Teheran belum sepenuhnya menutup pintu perundingan meski kepercayaannya terhadap Washington menurun.

Latar Konflik dan Syarat yang Belum Terpenuhi

Perang antara Iran melawan AS dan Israel bermula pada 28 Februari. Sejak itu, menurut detikNews, konflik berjalan bergantian antara masa jeda dan serangan lanjutan yang telah menewaskan ribuan orang serta melemahkan kekuatan konvensional Iran dan merusak ekonominya yang sudah terpuruk.

Pada pertengahan Juni, Iran dan AS sempat meneken nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, tetapi eskalasi kembali pecah tiga pekan kemudian setelah Washington menuding Teheran menembaki kapal dagang di Selat Hormuz.

Menurut Araghchi, syarat yang diajukan Iran kini tidak melampaui poin-poin yang sudah tercantum dalam nota kesepahaman Juni tersebut. Ia menegaskan pemulihan navigasi tak bisa diharapkan terjadi otomatis selama blokade maritim dan ancaman pemusnahan masih berlangsung.

Konflik ini juga merembet ke kawasan lain. Presiden Pezeshkian, dalam wawancara terpisah dengan Al Jazeera, membantah keterkaitan Iran dengan serangan drone dan rudal kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, dan mendesak kedua pihak menempuh dialog.

Apa Selanjutnya

Beberapa hal masih perlu dipantau: apakah mediator akhirnya menyampaikan sikap resmi AS, apakah Iran mempertahankan proposal tujuh hari itu, serta apakah ancaman pengeboman baru pascapemilu paruh waktu AS pada November benar-benar terwujud. Sejauh sumber yang tersedia, belum ada tanggapan resmi AS lewat mediator sebagaimana ditunggu Teheran.