Iran memperingatkan bahwa perjalanan udara di kawasan dapat terganggu apabila maskapai penerbangan Iran terus dilarang mengakses penerbangan dan layanan bandara. Peringatan itu disampaikan penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, lewat unggahan di platform X, sebagaimana dilaporkan ANTARA dan Suara.com.
Peringatan Mokhber soal penerbangan regional
Mokhber menyatakan Iran tidak akan menerima negara-negara di kawasan yang berpihak pada kebijakan Amerika Serikat (AS) yang memusuhi Iran. Ia menyebut keputusan tersebut akan terus diingat oleh rakyat Iran.
“Strategi kami dalam masalah ini jelas, perjalanan udara di kawasan ini tersedia bagi semua pihak atau tidak bagi siapa pun. Jika Iran tidak dapat melakukan perjalanan udara dan menerima layanan bandara, maka tidak ada negara di kawasan ini yang dapat melakukannya juga.”
— Mohammad Mokhber, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran
Dalam laporan ANTARA, pernyataan itu disampaikan sebagai peringatan bahwa lalu lintas udara kawasan dapat terganggu. Suara.com menafsirkannya lebih keras, yakni sebagai kesiapan Iran melumpuhkan lalu lintas udara di Timur Tengah. Dalam kutipan yang dimuat kedua media, Mokhber tidak merinci langkah konkret yang akan ditempuh Iran.
Penangguhan penerbangan di UEA dan Najaf
Pernyataan Mokhber muncul setelah pembatasan atas maskapai Iran meluas dalam sepekan ini, bersamaan dengan sanksi AS yang membidik kegiatan internasional Iran. Pada Kamis (24/9), Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan sementara penerbangan maskapai yang berangkat dari atau bertujuan ke Iran, tanpa tenggat pemulihan yang disebutkan.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum UEA merujuk pada pembatasan AS terhadap maskapai Iran sebagai dasar keputusan itu.
Pada Jumat (25/9), Bandara Internasional Najaf di Irak ikut menyetop semua rute yang menghubungkan bandara itu dengan Iran, juga tanpa batas waktu. Pengelola bandara menyebut adanya arahan dari pihak berwenang.
Catatan redaksi: laporan ANTARA menulis Bandara Najaf berada di Iran. Keterangan itu tampak keliru, sebab penangguhan yang berlaku adalah untuk rute dari dan ke Iran, dan Suara.com menyebut bandara tersebut berada di Irak. Najaf sendiri adalah kota di Irak.
Baca jugaMenlu Araghchi: Iran Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari jika AS Penuhi Syarat, Perundingan Dilanjutkan
Sanksi AS dan kebuntuan perundingan
Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, menyatakan bahwa mulai 23 September maskapai Iran tak lagi dapat beroperasi di seluruh dunia. Ia menyebut hal itu sebagai bagian dari sanksi baru, sementara upaya mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran terus berjalan.
Perundingan kedua pihak disebut menemui jalan buntu, padahal ada nota kesepahaman pada Juni yang diarahkan pada perdamaian final. Penyebabnya adalah ketidaksepakatan soal navigasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi pasokan energi dan barang dunia.
Hingga berita ini ditulis, sumber yang dirujuk belum memuat tanggapan resmi Washington atas peringatan Mokhber, maupun keterangan dari UEA dan otoritas Najaf di luar alasan penangguhan yang telah disampaikan.


