Banjir bandang, banjir lahar Semeru, dan tanah longsor di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menewaskan dua orang dan berdampak pada 1.567 kepala keluarga (KK), menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers daring pada Selasa (3/11/2026). Terpisah, Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi sejak Senin (2/11/2026).

Korban dan warga terdampak banjir serta longsor Lumajang

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut empat jenis ancaman terjadi di Lumajang: cuaca ekstrem, tanah longsor, banjir bandang, dan banjir genangan. Menurut dia, jumlah KK terdampak masih dalam pendataan, dan 13 rumah tercatat rusak.

“Ada dua jiwa yang meninggal. Kemarin sudah kami sampaikan, ini adalah bapak dan anak.”

— Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

VIVA melaporkan, ayah dan anak itu tewas dalam longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo. Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menyatakan hujan deras memicu bencana hidrometeorologi di enam kecamatan: Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, dan Candipuro.

Di Kecamatan Tempursari, menurut Isnugroho, 117 KK terisolasi karena akses jalan di Desa Purorejo terputus diterjang banjir lahar Semeru. Ia menyebut "belasan KK" kini tidak lagi terisolasi. Sumber tidak menjelaskan selisih antara 117 KK dan belasan KK tersebut, sehingga jumlah yang masih terisolasi belum dapat dipastikan. Di wilayah yang sama, tiga teras rumah roboh dan 10 rumah berisiko ambruk.

Baca jugaBNPB Terbitkan Delapan Langkah Kesiapsiagaan Musim Hujan 2026/2027 untuk Gubernur, Bupati, dan Wali Kota

Status tanggap darurat dan penanganan di lapangan

Bupati Lumajang Indah Amperawati menyatakan penetapan status tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Ia meminta warga, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan longsor, meningkatkan kewaspadaan karena curah hujan masih tinggi. Menurut dia, kondisi warga di sekitar aliran lahar Besuk Kobokan terpantau aman.

BNPB bersama BPBD dan instansi terkait berkoordinasi dengan Forkopimda, kecamatan, desa, dan PLN untuk mengaktifkan kembali layanan vital. Tim Reaksi Cepat BPBD diterjunkan untuk asesmen dan penanganan darurat. Jalan Taman Sari dan Ibu Raja yang sempat terputus kini sudah bisa dilalui, dan logistik disalurkan kepada warga terdampak.

Infrastruktur jalan dan sumber daya air

Kementerian Pekerjaan Umum menangani longsoran di sejumlah titik Jalan Nasional Turen–Batas Kabupaten Lumajang, antara KM 13 dan KM 33, yang terjadi Senin (2/11) pagi. Lewat BBPJN Jawa Timur–Bali, tim dan alat berat membersihkan material longsor. Hingga Selasa (3/11/2026), ruas tersebut kembali fungsional, dan rambu peringatan dipasang di titik rawan.

“Begitu terjadi bencana, kita harus segera bergerak di lapangan. Yang utama adalah memastikan akses masyarakat tetap terlayani”

— Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum

Kementerian PU menyiapkan usulan penanganan permanen pada Tahun Anggaran 2027. Melalui BBWS Brantas, identifikasi awal menunjukkan tanggul beton pengendali banjir dan lahar (proyek VDRRSL S4 KD 3) tertimbun material vulkanik. Tiga sabo dam dan tanggul sungai di bawah jembatan gantung juga mengalami pengikisan.

Latar: getaran banjir lahar Semeru dan status Siaga

Sebelumnya, BPBD Lumajang mencatat getaran banjir lahar Semeru berdurasi 13.524 detik, hampir empat jam, pada Jumat malam (30/10/2026), dengan amplitudo 50 mm. Isnugroho kala itu menyebut aktivitas warga lancar, tetapi pembangunan sabo dam di Curah Kobokan terganggu akibat debit air meningkat.

Menurut laporan Liputan6 per 1 November 2026, Semeru berstatus Level III atau Siaga. Pada laporan itu, PVMBG melarang aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak, serta dalam jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan hingga 17 kilometer dari puncak. Sumber terbaru tidak menyebut perubahan status maupun batas tersebut.

Apa artinya bagi warga

Pemerintah daerah meminta warga memperhatikan kondisi lingkungan saat hujan berintensitas tinggi. Bila muncul tanda pergerakan tanah atau lereng membahayakan, warga diharapkan segera menjauh dan berkoordinasi dengan petugas. BPBD juga mengingatkan potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.