Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan sekitar 325 juta barel minyak telah keluar dari cadangan strategis negara anggotanya. Pernyataan itu disampaikan dari Paris pada Sabtu (3/10/2026), sehari setelah para pemimpin Kelompok Tujuh (G7) bertemu secara virtual untuk membahas pasokan energi.

Angka tersebut setara lebih dari 80 persen target 400 juta barel yang dijanjikan lewat aksi kolektif IEA pada Maret.

Capaian pelepasan cadangan minyak IEA

Pada 11 Maret, seluruh 32 anggota IEA menyetujui pelepasan 400 juta barel dari cadangan darurat. ANTARA menyebut langkah itu yang terbesar sepanjang sejarah IEA. Investor Daily menulis angka komitmen sebelumnya sebesar 426 juta barel minyak dan produk turunannya, sehingga terdapat perbedaan angka antarmedia.

Dalam pertemuan G7 pada Jumat (2/10), Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyampaikan bahwa pasar energi, terutama solar, masih sangat terdampak krisis Selat Hormuz. Ia menegaskan IEA akan terus mendukung keamanan energi.

Rencana G7 melepas hingga 100 juta barel

Menurut pernyataan bersama yang dirilis Istana Elysee, G7 bersama IEA akan menggelontorkan maksimal 100 juta barel, berupa solar dan cadangan minyak jenis lain, dalam empat bulan mendatang. Pertemuan dipimpin Presiden Prancis Emmanuel Macron selaku pemegang presidensi G7 tahun ini. Sumber yang ada belum menjelaskan apakah volume itu alokasi baru atau bagian dari komitmen IEA sebelumnya.

“Keputusan bersama dan persatuan ini bertujuan untuk menurunkan harga bahan bakar di tingkat konsumen. Volume cadangan yang dirilis akan menambah likuiditas di pasar.”

— Emmanuel Macron, Presiden Prancis

Baca jugaG7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat Selama Empat Bulan, Solar Jadi Prioritas

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pelepasan solar akan berlangsung bertahap dan dimulai dalam 20 hari, menurut Associated Press yang dikutip Investor Daily. Pengumuman itu muncul menjelang pemilu sela AS pada 3 November 2026.

Harga solar dan pandangan analis

Harga rata-rata solar di AS tercatat US$ 6,37 per galon, setelah mencapai rekor US$ 6,52 per galon pada 22 September. Metro TV, mengutip Investing.com, melaporkan kontrak berjangka minyak pemanas untuk pengiriman November turun 4,6 persen setelah pengumuman.

Michael Lynch dari Energy Policy Research Foundation menilai penyaluran solar di Eropa berpotensi menekan harga solar di dalam negeri AS 25 hingga 50 sen per galon dalam hitungan pekan. Pavel Molchanov dari Raymond James mencatat harga minyak AS sempat turun 2 persen, tetapi pasar masih bertanya apakah 100 juta barel itu alokasi baru atau bagian komitmen IEA terdahulu.

Jim Krane dari Baker Institute, Rice University, mengingatkan bahwa menguras cadangan darurat di tengah dua konflik global yang masih berjalan dapat berisiko dalam jangka panjang, saat negara-negara perlu mengisinya kembali.

Latar belakang lonjakan harga

Investor Daily menyebut perang yang melibatkan Iran mengganggu jalur pelayaran di Teluk Persia. Di sisi lain, serangan drone ke kilang Rusia membuat Moskow melarang ekspor bahan bakar olahan. Solar menggerakkan logistik, angkutan barang, mesin pertanian, dan industri berat, sehingga kenaikan harganya dapat mendorong inflasi.