Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut Kabupaten Solok, Sumatera Barat, sebagai salah satu wilayah yang kembali dilanda bencana banjir setelah masa tanggap darurat sebelumnya dinyatakan selesai. Pernyataan itu disampaikan usai rapat koordinasi penanganan pascabencana di tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (23/9/2026), menurut Tribunnews. Dalam kesempatan yang sama, pemerintah turut membahas anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi senilai Rp100,1 triliun untuk ketiga provinsi tersebut selama periode 2026-2028, tanpa merinci alokasi khusus untuk Solok.
Bencana susulan di Sumatera
Menurut Tito, penanganan bencana di Sumatera menghadapi tantangan berupa anomali cuaca yang masih berlangsung. Ia mencontohkan sejumlah wilayah yang kembali dilanda bencana usai masa tanggap darurat dinyatakan selesai, termasuk Kabupaten Solok, Aceh Tenggara, dan Kecamatan Tukka di Tapanuli Tengah.
“Kita tahu bahwa ada banjir bandang di Aceh Tenggara minggu lalu, hari Senin. Juga banjir bandang di Solok, sehingga ada juga di Tapanuli Tengah banjir lagi di Kecamatan Tukka lebih kurang 2-3 bulan lalu.”
— Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri
Ia menegaskan penanganan bencana di Sumatera tidak bisa dianggap tuntas begitu masa darurat berakhir, karena sejumlah titik rawan kerap mengalami bencana susulan di lokasi yang sama. Sebagai contoh lain, Tito menyebut ruas Jalan Raya Bireuen-Gayo Lues di Aceh yang sempat dibuka kembali dengan alat berat namun tertutup longsor lagi.
“Di Pidie Jaya juga banjir juga, jalan menuju dari Bireuen menuju Gayo Lues yang sudah diperbaiki longsor-longsornya tadi tertutup, sudah dibuka dengan alat berat, tergerus lagi, longsor lagi.”
— Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri
Anggaran rehabilitasi tiga provinsi
Presiden Prabowo Subianto melalui direktif telah menyetujui total anggaran Rp100,1 triliun untuk pemulihan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat secara umum selama tiga tahun ke depan, ditambah alokasi khusus bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperbaiki 4.922 sekolah yang rusak akibat rangkaian bencana di tiga provinsi tersebut, menurut Tribunnews. Sumber tidak merinci porsi anggaran itu yang dialokasikan khusus untuk Kabupaten Solok.
Update korban dan kerusakan di Solok
Sebelum rakor tersebut, tim SAR gabungan di Kabupaten Solok telah memastikan satu dari dua warga yang sempat hilang akibat banjir bandang Senin (21/9) meninggal dunia, sementara satu warga lainnya masih dalam pencarian hingga Selasa (22/9) petang, menurut CNN Indonesia. Data itu juga mencatat satu warga luka berat dan tiga luka ringan.
Banjir bandang menerjang kawasan Arosuka di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, pada Senin (21/9) sekitar pukul 19.30 WIB setelah hujan deras sejak sore memicu longsor di hulu Sungai Batang Laso. BPBD Kabupaten Solok mencatat kerusakan pada 11 kantor pemerintahan, 21 mobil, dan tujuh sepeda motor dinas, serta sekitar 100 rumah warga terdampak, menurut detikNews dan CNN Indonesia.
Baca jugaKemensos Siapkan Pemulihan Sosial-Ekonomi Korban Banjir Bandang Solok
Pengungsian dan penanganan darurat
Polri mengerahkan personel sejak Senin (21/9) malam untuk membantu pencarian korban, evakuasi warga, dan pembersihan material longsor. Mapolres Solok, Rumah Dinas Wakil Bupati Solok, dan Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Solok disiapkan sebagai lokasi pengungsian, menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko.
Data soal jumlah pengungsi sempat berbeda: BNPB sebelumnya menyebut sekitar 50 warga membutuhkan tempat pengungsian, sementara BPBD Kabupaten Solok mencatat sembilan keluarga atau 32 orang mengungsi di dua titik. CNN Indonesia menyebut perbedaan itu merupakan bagian dari proses pendataan warga terdampak yang masih berlangsung.

