Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menurunkan tim ke Karawang, Jawa Barat, untuk menyelidiki insiden paparan gas di area PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills 2. Insiden pada Kamis (29/10/2026) itu membuat puluhan warga Kecamatan Ciampel dibawa ke rumah sakit.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyampaikan hal itu dalam keterangannya pada Sabtu (31/10). Tim disebut bertujuan memastikan penanganan berjalan optimal dan mengevaluasi penerapan standar keselamatan industri agar kejadian serupa tidak terulang.

Rencana Kemenperin di lapangan

Putu menyebut Kemenperin sudah berkomunikasi langsung dengan perusahaan agar layanan medis bagi warga dan pekerja terdampak, serta penanganan teknis di lokasi, berjalan cepat. Selain itu, akan ada inspeksi lanjutan guna mencari penyebab insiden sekaligus menilai prosedur keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan.

Sorotan inspeksi adalah sumber reaksi kimia serta prosedur penyimpanan dan penanganan bahan kimia. Putu menyatakan hasil pemeriksaan harus ditindaklanjuti dengan perbaikan konkret.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, saat ini keadaan sudah tertangani dan situasi di lokasi telah terkendali.”

— Putu Juli Ardika, Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin

Putu menambahkan, warga terdampak telah ditangani di fasilitas kesehatan terdekat dan area pabrik telah diamankan. Kemenperin, katanya, terus memantau dan memastikan perusahaan memenuhi tanggung jawab terhadap masyarakat dan pekerja yang terdampak.

Kronologi menurut Kemenperin dan perusahaan

Putu menjelaskan kejadian diduga bermula saat air hujan mengenai material di area persiapan pengiriman sehingga menimbulkan reaksi kimia. Asap bergas menyengat pertama kali dilaporkan sekitar pukul 04.52 WIB, ketika hujan dan angin kencang terjadi. Menurut dia, perusahaan menurunkan tim tanggap darurat sejak pukul 04.55 WIB untuk mengendalikan sebaran gas dan menangani sumber reaksi.

Manajemen perusahaan dalam keterangan tertulis menyebut asap dan bau berasal dari dekomposisi kaporit atau Trichloroisocyanuric Acid (TCCA) setelah terkena air hujan. Head Sustainability perusahaan, Mei Yudi Pransuri, mengatakan material sudah ditutup terpal dan palet kayu, tetapi hujan lebat disertai angin kencang tetap mengenainya. Titik utama sumber asap ditangani dengan penimbunan pasir untuk menghentikan dekomposisi.

Warga dirawat dan keterangan berbeda soal penyebab

Data RS Rosela Karawang Barat mencatat 44 warga menjalani perawatan. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang, Asep Suryana, angka itu bisa naik sebab gas menyebar lewat udara. Gejala yang dilaporkan antara lain sesak napas, mual, dan batuk.

Warga Kutamekar bernama Roham mengaku merasakan perih di mata sejak subuh dan satu anggota keluarganya dibawa ke RS Rosela. Kasi Humas Polresta Karawang, Ipda Muh Asim, menyebut pendataan warga yang mengalami gangguan kesehatan masih berlangsung.

Soal penyebab, penelusuran DLH menurut Asep menyebut sumber kejadian bukan dari proses produksi, melainkan produk kaporit dalam karung yang meledak. Perusahaan, sebaliknya, menyebut asap dan bau berasal dari dekomposisi kaporit akibat air hujan.

Apa selanjutnya

Polisi sebelumnya menyampaikan informasi awal bahwa bahan kimia tersimpan di area luar ruangan dan hujan pada Rabu (28/10) malam hingga Kamis dini hari diduga memicu reaksi dengan air. Polisi menegaskan penyebab pasti perlu dipastikan instansi teknis, dan DLH menyatakan penyebab pasti belum diketahui. Kemenperin menyatakan akan menggelar inspeksi lanjutan untuk mengetahui penyebab insiden.