Starbucks akan menutup sekitar 250 gerai berkinerja buruk di Amerika Utara sebagai bagian dari upaya memulihkan bisnisnya. Kebijakan ini disampaikan perusahaan melalui surat kepada karyawan dan dokumen resmi yang dikutip media pada Jumat (25/9/2026).
Jumlah gerai yang ditutup setara sekitar 1 persen dari total 18.000 gerai Starbucks di kawasan tersebut. Menurut CNBC Indonesia, sebagian besar penutupan akan dilakukan sebelum tahun fiskal 2026 berakhir, yang jatuh pada akhir bulan ini.
Alasan penutupan gerai Starbucks
Chief Operating Officer Starbucks, Mike Grams, menjelaskan alasan perusahaan dalam suratnya kepada karyawan. Ia menyebut manajemen telah meninjau portofolio gerai di Amerika Utara.
“Kami telah meninjau secara cermat portofolio gerai kopi kami di Amerika Utara dan mengidentifikasi lokasi-lokasi yang menurut kami tidak dapat secara konsisten memberikan pengalaman yang kami inginkan bagi pelanggan dan mitra, atau lokasi yang tidak memiliki prospek kinerja keuangan yang memadai”
— Mike Grams, Chief Operating Officer Starbucks
Grams juga menyatakan optimisme. Dalam surat yang sama, ia mengatakan perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang besar di Amerika Utara dan aktif menyiapkan rencana pembukaan gerai baru, menurut CNN Indonesia.
Biaya restrukturisasi dan target gerai baru
Berdasarkan laporan regulasi yang dirilis Kamis (24/9), Starbucks memperkirakan menanggung biaya restrukturisasi sekitar US$300 juta atau Rp5,28 triliun menurut konversi CNBC Indonesia. Sekitar US$200 juta dialokasikan untuk mengakhiri sewa lebih awal dan membayar pesangon karyawan.
Sisanya, US$100 juta, berupa biaya non-tunai yang berasal dari pelepasan dan penurunan nilai aset restoran milik perusahaan.
Di sisi lain, Starbucks memangkas proyeksi pembukaan gerai baru untuk tahun fiskal 2026 menjadi sekitar 440, dari perkiraan sebelumnya 600 hingga 650 lokasi. CNBC Indonesia menyebut angka itu sebagai pembukaan bersih di pasar internasional, sedangkan CNN Indonesia menuliskannya sebagai gerai baru secara global.
Dampak bagi karyawan dan pelanggan
CNBC Indonesia menyebut kebijakan ini dipastikan berimbas pada pekerja lewat pemutusan hubungan kerja (PHK). Perusahaan belum merinci jumlah karyawan yang terdampak dalam sumber yang dirujuk.
Starbucks belum merilis daftar lengkap lokasi yang ditutup. Menurut CNN Indonesia, pemberitahuan resmi mulai dipasang di kafe terdampak akhir pekan ini, dan status penutupan akan langsung diperbarui di aplikasi seluler.
Latar: perombakan di bawah CEO Brian Niccol
Di bawah CEO Brian Niccol, Starbucks merombak bisnisnya di Amerika Serikat dengan menitikberatkan pengalaman pelanggan, termasuk interaksi langsung di gerai. Inisiatif yang dijalankan mencakup renovasi kafe, peningkatan kualitas layanan, dan penyederhanaan menu.
Menurut CNN Indonesia, Niccol setahun lalu sudah mengumumkan penutupan gerai dalam jumlah serupa dan PHK karyawan korporat, dalam program restrukturisasi senilai US$1 miliar atau Rp17,91 triliun. CNBC Indonesia mencatat, pada Mei 2026 Starbucks memberhentikan sekitar 300 karyawan korporat di AS dan menutup beberapa kantor regional, setelah keputusan serupa pada September 2025.
Kinerja penjualan disebut mulai pulih. Penjualan di gerai yang sama di Amerika Serikat naik hingga 7,9 persen pada kuartal terakhir, dan dalam laporan keuangan Juli, Niccol menyebut periode tersebut sebagai titik balik pemulihan perusahaan.


