Kopilot penerbangan Flydubai dari Dubai menuju Tel Aviv, Hamman Al Hammami, diduga mengaku kepada penyelidik bahwa ia berniat menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion, Israel, atau gedung lain di Tel Aviv. Pengakuan itu disebut terjadi pada Senin (5/10), menurut seorang pejabat Timur Tengah yang dikutip NBC News.

Rencana tersebut digambarkan serupa serangan 11 September 2001 (9/11). Menurut VIVA, Al Hammami juga disebut ingin menghindari sistem pertahanan Israel. Informasi itu berasal dari pejabat yang mengetahui proses penyelidikan, bukan dari pernyataan resmi.

Identitas dan pemeriksaan kopilot

Otoritas belum secara resmi mengumumkan identitas kopilot. Namun, sejumlah sumber dari tiga lembaga yang mendapat pengarahan penyelidikan, serta seorang diplomat Timur Tengah, menyebut ia warga negara Oman bernama Al Hammami.

Saat ini ia diperiksa penyidik di Uni Emirat Arab (UEA) setelah dipindahkan dari Arab Saudi. Status hukumnya belum dijelaskan dalam sumber, sehingga seluruh keterangan di atas masih berupa dugaan.

Kronologi di kokpit

Pesawat dialihkan dan mendarat darurat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi. Otoritas UEA pada Sabtu menyatakan kopilot menyerang pilot lain, Kapten Smit Machchhar, dengan kapak pemecah kaca dan berusaha mengambil alih kendali pesawat.

Pesawat yang membawa 174 penumpang, sebagian besar warga Israel, turun 14.000 kaki hanya dalam 29 detik. Data Flightradar24 menunjukkan penurunan tajam itu, dan penumpang dilaporkan panik.

Machchhar, warga negara India, menceritakan kejadian itu dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurutnya, sebelum penyerangan, Al Hammami berkata akan salat. Ia tidak curiga karena umat Muslim salat lima kali sehari.

Beberapa menit kemudian, ia merasakan pukulan keras di kepala. Ia mengatakan penglihatannya hampir hilang dan semuanya kabur, lalu merasakan pesawat menukik tajam.

Awalnya Machchhar mengira pesawat rusak parah. Setelah pukulan terus berlanjut, ia sadar masalahnya bukan pada pesawat, melainkan pada orang lain di kokpit.

Pertanyaan yang belum terjawab

The Wall Street Journal pekan lalu melaporkan bahwa Oman sebelumnya melarang Al Hammami terbang karena kekhawatiran ia menganut pandangan ideologis radikal. Laporan itu belum diverifikasi dalam sumber lain yang kami gunakan.

CNN Indonesia mencatat belum jelas bagaimana warga negara Oman, yang negaranya tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, bisa menerbangkan pesawat berpenumpang warga Israel. Menurut hukum Israel, maskapai wajib menyampaikan data penumpang dan awak, termasuk nama dan kewarganegaraan, paling lambat 48 jam sebelum penerbangan.

Penyelidikan masih berjalan dan belum ada putusan pengadilan. Sumber yang dirujuk tidak memuat tanggapan resmi Flydubai maupun Al Hammami atas dugaan tersebut.