Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyampaikan pernyataan nasional Indonesia di hadapan Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Sabtu (26/9) waktu setempat. Dalam pidato itu, ia mengumumkan pencalonan Indonesia ke Dewan Keamanan (DK) PBB dan menegaskan dukungan bagi Palestina.
Pidato tersebut dipantau melalui siaran langsung dari Jakarta. Menurut Katadata, Sugiono memimpin delegasi Indonesia yang sudah berada di New York sejak Senin (21/9) dan sebelumnya mengikuti sejumlah pertemuan tingkat tinggi serta pertemuan bilateral.
Pencalonan Indonesia di Dewan Keamanan PBB
Sugiono menyatakan Indonesia maju sebagai calon anggota tidak tetap DK PBB dengan masa jabat 2029 - 2030. Indonesia, katanya, akan membawa komitmen "Membina Persatuan, Memajukan Perdamaian".
Menurut Sugiono, membina persatuan berarti menumbuhkan kepercayaan pada sistem multilateral dan menjaga agar jalur dialog antarpihak di tingkat internasional tidak tertutup. Adapun memajukan perdamaian berarti Indonesia akan terus mendorong penegakan hukum internasional dan memastikan perangkat yang ada bisa dipakai untuk tujuan tersebut.
“Konstitusi mengamanatkan kami untuk berkontribusi bagi dunia berdasarkan nilai kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial melalui diplomasi dan mediasi,”
— Sugiono, Menteri Luar Negeri RI
Sugiono juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu kontributor terbesar misi perdamaian PBB sejak 1957. Ia menyebut personel Indonesia menjadi penjaga perdamaian di Lebanon di bawah UNIFIL hingga 20 tahun.
Menurut ANTARA, Indonesia pernah empat kali menjabat anggota tidak tetap DK PBB, yakni pada 1973 - 1974, 1995 - 1996, 2007 - 2008, dan 2019 - 2021. Indonesia juga memegang presidensi DK PBB pada Agustus 2020. Rencana pencalonan itu sebelumnya diumumkan Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri pada 14 Januari 2026.
Multilateralisme dan reformasi lembaga internasional
Dalam pidato yang dilihat detikNews di akun YouTube Kemlu RI, Sugiono membuka dengan salam lintas agama yang disambut tepuk tangan para delegasi. Ia lalu menguraikan perjalanan dunia sejak Perang Dunia II, termasuk berakhirnya kolonialisme, perubahan akibat globalisasi dan teknologi, krisis keuangan, pandemi, bencana iklim, hingga konflik geopolitik.
Sugiono menilai multilateralisme harus beradaptasi dan memberi hasil nyata. Ia menyampaikan peringatan tentang konsekuensi bila hal itu tidak terjadi.
“Karena multilateralisme yang gagal memberikan hasil nyata akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Dan tanpa kepercayaan, multilateralisme tidak akan dapat bertahan.”
— Sugiono, Menteri Luar Negeri RI
Menurut Katadata, Sugiono menyatakan lembaga internasional hanya akan kokoh bila dunia membelanya dan menegakkan hukum internasional. Ia menegaskan bahwa di tengah berbagai upaya mereformasi lembaga internasional, hukum internasional harus tetap dijalankan secara konsisten, dan hal itu akan menyelamatkan multilateralisme.
Di bagian yang menyinggung kondisi dalam negeri, Sugiono mengatakan Indonesia, dengan lebih dari 280 juta penduduk, memandang keberagaman sebagai hal yang harus dikelola, dihormati, dan diubah menjadi kekuatan. Ia menyebut Indonesia berdiri di atas demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.
Palestina sebagai ujian hukum internasional
Sugiono menyebut Palestina sebagai ujian terbesar bagi dunia dalam hal penegakan hukum internasional, sebab pelanggaran terus berlangsung tanpa langkah konkret untuk menghentikannya. Ia menilai pelanggaran di Jalur Gaza dan Tepi Barat seakan menunjukkan dunia belum mengenal Piagam PBB, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan empat Konvensi Jenewa 1949.
“Palestina bukan hanya isu satu kawasan. Palestina adalah ujian untuk melihat apakah sistem multilateral dapat membela prinsip yang diciptakannya dan dapat menegakkannya di saat yang paling dibutuhkan,”
— Sugiono, Menteri Luar Negeri RI
Sugiono mengatakan pengalaman Indonesia melawan kolonialisme menjadi salah satu alasan Indonesia terus berdiri bersama bangsa Palestina. Indonesia, ujarnya, akan mendampingi rakyat Palestina sampai mereka dapat menentukan nasib sendiri.
Menurut Sugiono, Indonesia juga akan membela terwujudnya kemerdekaan dan kedaulatan Palestina lewat solusi dua negara. Solusi itu, katanya, harus bertumpu pada hukum internasional serta parameter yang telah disepakati bersama secara internasional.
Ia menutup bagian itu dengan pernyataan bahwa kedaulatan harus dihargai dan kolonialisme harus diakhiri.



