Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat, Hung Cao, mengonfirmasi adanya delapan upaya bunuh diri oleh personel gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln selama bertugas di Timur Tengah. Pengakuan itu tertuang dalam surat kepada Senator Kirsten Gillibrand yang diberitakan sejumlah media pada pekan ini.
Isi surat Hung Cao kepada Senator Gillibrand
Surat tersebut dibuat sebagai jawaban atas pertanyaan Gillibrand, senator dari Partai Demokrat, tentang laporan awak kapal yang mencoba melukai diri sendiri. Menurut Republika, Cao menulis atas nama Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan surat itu dilihat oleh CNN.
“Sejak awal penugasan Lincoln, telah terjadi total delapan upaya bunuh diri di seluruh kelompok serang”
— Hung Cao, Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS
Cao menegaskan tidak ada personel yang meninggal akibat bunuh diri. CNN Indonesia mengutip pernyataannya bahwa tidak ada kasus bunuh diri di atas kapal selama penugasan ini.
Surat itu merinci dua insiden yang melibatkan laut. Seorang pelaut sayap udara masuk ke laut pada awal Agustus. Republika menyebut ia melompat dan cepat diselamatkan, sedangkan CNN Indonesia menulis ia jatuh dan ditolong helikopter pencarian dan penyelamatan. Kedua sumber sepakat ia kemudian dievakuasi dari kapal untuk perawatan lanjutan.
Pada Maret, seorang pelaut lain mencoba melompat ke laut, tetapi dicegah rekan-rekannya. Ia mendapat penanganan medis lalu dikembalikan ke pangkalan asal.
Baca jugaPangkalan AS di Delapan Negara Timur Tengah Dilaporkan Diserang Iran, Foto CBS Perlihatkan Kerusakan
Layanan kesehatan mental dan keterbatasan logistik
Cao menyatakan kapal induk itu sudah dibekali layanan kesehatan mental. Di atas kapal ada satu psikolog, satu pekerja sosial klinis, satu konselor pencegahan terintegrasi, tiga teknisi kesehatan perilaku, lima rohaniwan, dan seekor anjing pendamping.
Ia juga mengakui pasokan terbatas karena kapal sedang menjalani operasi tempur berskala besar. Dampaknya, menu utama saat makan dipangkas dari dua pilihan menjadi satu, menurut Republika.
Republika menulis bahwa media AS menghubungkan masalah pasokan itu dengan serangan Iran ke berbagai fasilitas militer AS di kawasan. Yang disorot adalah kerusakan berat pada pangkalan angkatan laut di Bahrain pada fase awal perang. Angkatan Laut dilaporkan lantas memakai Diego Garcia di Samudra Hindia sebagai pusat suplai utama, yang berjarak sekitar 3.540 km dari area operasi kapal itu di Teluk.
Latar penugasan 286 hari di laut
CNN Indonesia melaporkan kapal itu bertolak dari California pada November 2025 dengan tujuan awal Laut China Selatan. Rutenya kemudian dibelokkan ke Timur Tengah sebelum AS dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran pada akhir Februari 2026.
Kapal itu membawa sekitar 5.000 awak yang terus berada di laut selama 286 hari, hingga bersandar di Thailand pada 1 September. Republika menyebut lamanya penugasan itu sebagai rekor. Kecuali persinggahan singkat di pelabuhan pada Desember, para awak tak pernah menginjak daratan.
Tanggapan pemerintah AS
Kondisi kehidupan di kapal sempat menjadi sorotan publik, termasuk soal kesehatan jiwa awak, persediaan makanan, dan kebersihan. Pada Agustus, kerabat para prajurit serta beberapa anggota parlemen AS menyuarakan keprihatinan.
Presiden Donald Trump, menurut CNN Indonesia, membantah adanya masalah serius di kapal induk itu. Hegseth juga menyatakan kondisi di USS Abraham Lincoln telah disalahartikan.
Kedua sumber berbeda soal waktu surat. Republika menyebut surat dikirim pada Selasa, sedangkan CNN Indonesia menyebut pengakuan itu disampaikan anggota Kongres pada Rabu (23/9).


