Seorang penasihat militer kelompok Houthi di Yaman memperingatkan bahwa kelompoknya akan menyerang kepentingan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah jika Washington ikut campur mendukung Arab Saudi. Ancaman itu juga berlaku terkait upaya mengamankan Selat Bab al-Mandab. Pernyataan tersebut disampaikan kepada AFP dan dilaporkan detikNews, Rabu (24/9/2026).
Ancaman Houthi terhadap kepentingan AS
Penasihat militer Abed Mohammed al-Thawr menyebut intervensi militer AS lewat armada laut atau upaya menguasai Bab al-Mandab sebagai batas yang tidak boleh dilanggar.
“Jika Amerika berani melakukan intervensi militer dengan armada lautnya atau mencoba menguasai Bab al-Mandab, itu adalah garis merah”
— Abed Mohammed al-Thawr, penasihat militer Houthi
Thawr menambahkan, bila AS mendukung Riyadh lewat serangan atau bantuan udara, Houthi akan memandang setiap kepentingan Amerika di sekitar mereka sebagai target. Kelompok itu juga akan menutup Bab al-Mandab sepenuhnya bagi kapal-kapal Amerika. Namun, hingga kini Houthi menegaskan bahwa satu-satunya ancaman di jalur tersebut hanya ditujukan kepada kapal Saudi.
Perkembangan pertempuran di Yaman dan sekitarnya
AFP melaporkan, serangan kilat Houthi yang didukung Iran bulan ini telah menguasai jalur pelayaran sempit itu, gerbang menuju Laut Merah dan Terusan Suez. Arab Saudi dilaporkan meminta bantuan militer kepada AS dan komunitas internasional.
Riyadh merupakan pendukung utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Perang saudara yang sempat mereda kembali berkecamuk pada Juli, dan sejak itu Houthi menyatakan blokade maritim terhadap kapal-kapal Saudi di Laut Merah. Menurut AFP, langkah itu mengguncang Arab Saudi yang sebelumnya sudah terdampak kendali ketat Teheran atas Selat Hormuz.
Pasukan pemerintah yang didukung Saudi didesak mundur dari pesisir Laut Merah Yaman dalam pertempuran yang menewaskan ratusan orang. Drone dan rudal Houthi juga menyasar wilayah Saudi, termasuk Riyadh untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan dari AS yang dikutip AFP, Putra Mahkota Mohammed bin Salman sempat meminta Presiden AS Donald Trump membantu memerangi Houthi, tetapi ditolak. Seorang sumber tepercaya mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah Yaman mengajukan permintaan serupa.
Di sisi lain, Houthi menyatakan Saudi melancarkan ratusan serangan sejak gencatan senjata empat tahun runtuh pada Juli. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim ada 52 serangan dalam 24 jam terakhir. Saluran televisi kelompok itu melaporkan serangan udara Saudi menewaskan 10 orang dan melukai 14 lainnya di Taiz dan Al-Jawf. Otoritas pertahanan sipil Saudi mengeluarkan peringatan risiko serangan di Jazan dan Najran, dekat perbatasan Yaman.
Hubungan dengan Iran dan dampak kemanusiaan
Thawr membantah menerima arahan dari Iran, tetapi menyebut kedua pihak sebagai satu aliansi dan satu tubuh.
“Iran adalah negara sahabat, sekutu, dan saudara bagi kami, namun mereka tidak mendikte kami.”
— Abed Mohammed al-Thawr, penasihat militer Houthi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9) menyatakan jumlah pengungsi di Yaman, yang kini melebihi 130.000 jiwa, dapat melonjak menjadi lebih dari 230.000 jiwa dalam beberapa bulan mendatang. Perang saudara di Yaman bermula setelah Houthi merebut Sanaa pada 2014, disusul intervensi koalisi pimpinan Saudi pada tahun berikutnya.
Latar hubungan AS dan Iran
Menurut detikNews, pertempuran di Yaman kini mempertemukan sekutu Washington dan Teheran di tengah kebuntuan hubungan kedua negara di kawasan Teluk.
Dalam laporan terpisah, iNews menyebut pejabat AS bertemu delegasi Iran secara tertutup di sela Sidang Umum PBB di New York pada Selasa (22/9/2026), selama 3 jam. Trump mengonfirmasi pertemuan itu kepada wartawan dan menyebutnya sangat baik, tanpa memaparkan hasilnya. Laporan tersebut tidak menyinggung Yaman ataupun Houthi.



