Kelompok Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan terbaru di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu (11/10/2026). Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai hampir selusin lainnya, menurut VIVA. Sehari sebelumnya, serangan lain di bandara yang sama menewaskan 13 orang.
Rangkaian serangan ini memunculkan pertanyaan: mengapa Houthi terus menyasar Riyadh, dan dari mana konflik dengan Arab Saudi bermula? Penjelasan berikut disusun dari laporan Republika dan VIVA.
Apa yang terjadi di Riyadh dan bandara Saudi lainnya
VIVA menghitung Bandara King Khalid menjadi sasaran sebanyak empat kali dalam lima hari. Pada 7 Oktober, otoritas Saudi mencatat satu korban tewas dan delapan korban luka. Keesokan harinya, seorang pilot dan dua warga Saudi lain meninggal dunia.
Serangan pada Sabtu (10/10) merenggut 13 nyawa. Republika menyebut ratusan orang terluka, sedangkan VIVA menyebut angka di atas 300 orang. Bagi VIVA, rangkaian ini termasuk gangguan terbesar bagi penerbangan sipil Saudi beberapa tahun belakangan, dan menjadi serangan paling mematikan di tanah Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Sasarannya tak terbatas pada Riyadh. Otoritas penerbangan sipil Saudi menyebut serangan ke Bandara Internasional Abha pada 7 Oktober menewaskan dua orang dan melukai 28 orang. Bandara Najran juga diserang pada hari itu, dengan sejumlah korban luka ringan. Pada Minggu, Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional King Fahd di Dammam, kota pelabuhan industri di pesisir Teluk.
Langit Riyadh kini lengang dari lalu lintas pesawat. Otoritas setempat memperpanjang penutupan bandara tersebut, yang menurut VIVA menempati urutan kedua dalam hal kesibukan di Saudi, di bawah Jeddah.
Mengapa serangan terus berlanjut
Kedua sumber tidak memuat pernyataan rinci Houthi tentang alasan memilih bandara sebagai sasaran. Yang diuraikan VIVA adalah konteksnya: perang antara Houthi, sekutu Iran, melawan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi, kini meningkat tajam.
Memburuknya keadaan bermula dari ambruknya gencatan senjata yang ditengahi PBB. Kesepakatan itu sebagian besar bertahan sejak 2022. VIVA juga melaporkan bahwa di saat yang sama, pasukan pemerintah Yaman menghantam beberapa lapangan udara di area kendali Houthi. Jadi, serangan ke bandara Saudi berjalan beriringan dengan serangan ke fasilitas serupa di pihak Houthi.
Republika menyoroti sisi lain dari rangkaian serangan ini, yakni kemampuan rudal Houthi menembus pertahanan udara Arab Saudi. Menurut media itu, hal tersebut mengejutkan publik. Namun kedua sumber tidak merinci jenis senjata yang dipakai maupun asal peluncurannya.
Siapa Houthi dan dari mana asalnya
Nama resmi Houthi adalah Ansar Allah, yang berarti Penolong Allah. Republika mencatat kelompok bersenjata ini mengendalikan sebagian besar Yaman, termasuk Sanaa sebagai ibu kota, serta kawasan barat dan utara yang bersinggungan langsung dengan perbatasan Saudi.
Gerakan ini lahir di Yaman utara pada 1990-an dan dipimpin ulama Hussein al-Houthi. Fondasinya adalah Zaidiyah, aliran Syiah yang penganutnya minoritas di Yaman dan berpusat di dataran tinggi utara.
Sepanjang 2004 hingga 2010, kelompok ini enam kali berperang dengan pemerintahan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh. Hussein al-Houthi gugur pada putaran pertama. Saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, mengambil alih kepemimpinan dan masih memegangnya sampai sekarang.
Dari perebutan Sanaa ke koalisi pimpinan Saudi
Houthi menguasai Sanaa pada September 2014. Republika, mengutip Middle East Eye, menyebut pemberontakan itu membuat pemerintah terdesak mundur dan melahirkan krisis kemanusiaan serius.
Pada Maret 2015, Riyadh memimpin koalisi militer yang memasuki Yaman demi membela pemerintah berstatus pengakuan internasional. Pemerintah itu sebagian besar menjalankan tugasnya dari Riyadh dan Aden di bagian selatan Yaman.
Saat gencatan senjata tercapai pada 2022, wilayah di bawah kendali Houthi mencakup sekitar 30 persen luas Yaman, tetapi menampung hampir 80 persen penduduknya. Republika menyebut kedua pihak berkali-kali mencoba duduk di meja perundingan damai.
Republika juga memuat foto militan Houthi di sebuah pos militer setelah menguasai kota pelabuhan Mokha, yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandeb. Menurut keterangan foto, gambar itu dirilis ke media pada 13 September 2026 oleh pihak militer Houthi.
Seberapa besar peran Iran
Houthi kerap dikaitkan dengan Iran sebagai pendukung. Meski begitu, analis yang dirujuk Republika berpendapat bahwa kelompok Syiah Zaidiyah ini tak layak dianggap hanya proksi Teheran. Mereka punya pendukung, kepentingan, dan cita-cita sendiri.
Mengapa ini penting
Bandara merupakan fasilitas sipil, dan korban dalam rangkaian serangan ini mencakup seorang pilot maskapai serta warga biasa. Penutupan bandara di ibu kota juga memengaruhi lalu lintas penerbangan di salah satu simpul tersibuk Saudi. Bagi Yaman sendiri, konflik yang berlarut sejak 2014 telah memicu krisis kemanusiaan yang parah, seperti dicatat Republika.
Apa selanjutnya
Kedua sumber tidak menyebut langkah lanjutan untuk memulihkan gencatan senjata. Yang tampak, bandara utama di ibu kota Saudi masih terganggu dan pertempuran di Yaman berlanjut. Perkembangan lain, termasuk soal opsi respons Amerika Serikat, dapat dibaca pada laporan kami berikut.
Baca jugaSaudi Perpanjang Penutupan Bandara King Khalid Riyadh hingga 17 Oktober, Korban Tewas 13 Orang



