PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) tengah mencermati peluang memperpanjang periode pembelian kembali saham (buyback) seiring perkembangan pasar modal. Pernyataan BNI itu dikutip pada Rabu (21/10/2026). Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan sedang mengkaji opsi serupa; sumber tidak menyebut tanggal pernyataan BTN.

Rencana buyback BNI dan peluang perpanjangan

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyebut perseroan menjalankan aksi korporasi secara terukur. Pertimbangannya mencakup kondisi pasar, kepentingan pemegang saham, dan kecukupan modal. Menurut Republika, BNI juga memperhitungkan batas pembelian yang sudah disetujui pemegang saham lewat RUPS.

BNI menyampaikan rencana buyback lewat keterbukaan informasi pada Juli 2026. Periode pelaksanaannya dijadwalkan hingga 26 Oktober 2026. Perseroan menegaskan perpanjangan masih berupa opsi yang dicermati, bukan keputusan yang telah ditetapkan.

“Langkah ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI yang tetap kuat.”

— Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI

Okki menambahkan, BNI berupaya menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dengan kebutuhan pengembangan bisnis. Perseroan juga menyatakan akan terus mengedepankan tata kelola yang baik, disiplin bisnis, dan orientasi jangka panjang dalam setiap aksi korporasi.

Kinerja keuangan BNI hingga Agustus 2026

Menurut BNI, total aset hingga Agustus 2026 mencapai Rp 1.434,1 triliun, tumbuh 24,8 persen secara tahunan. Penyaluran kredit naik 27,1 persen menjadi Rp 977,2 triliun. Dana pihak ketiga tumbuh 29,4 persen menjadi Rp 1.124,7 triliun.

Pendapatan bunga bersih BNI tercatat Rp 28,9 triliun, naik 14,3 persen. Adapun laba bersihnya Rp 14,33 triliun, atau naik 6,9 persen dari capaian periode setahun sebelumnya.

Baca jugaIHSG Kembali Tembus 5.000 Usai Sempat Anjlok ke 4.996,61, Danantara Akan Tambah Saham BUMN

BTN masih mengkaji opsi buyback

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan pergerakan harga saham perlu dilihat menyeluruh, dengan mempertimbangkan fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, dan transformasi perseroan. Kajian buyback, kata dia, memperhitungkan kondisi keuangan, kecukupan modal, kebutuhan pendanaan ekspansi, serta ketentuan regulator.

Nixon menyebut BTN juga mengkaji potensi pemanfaatan saham hasil pembelian kembali untuk peruntukan tertentu sesuai kebutuhan perseroan. Setiap keputusan, menurutnya, akan dilakukan secara terukur.

Menurut Katadata, opsi ini bukan hal baru bagi BTN. Pada 2020, saat pasar tertekan akibat pandemi COVID-19, perseroan pernah menyiapkan dana Rp275 miliar untuk rencana buyback lewat pasar sekunder. Langkah itu menjadi salah satu rujukan pengalaman BTN dalam menimbang alternatif aksi korporasi.

Fokus bisnis dan langkah selanjutnya

Nixon menegaskan BTN tetap berfokus pada penguatan fundamental dan pertumbuhan bisnis, terutama pembiayaan perumahan yang disebutnya masih berpotensi besar. Hal itu sejalan dengan dukungan pada Program 3 Juta Rumah dan transformasi BTN menuju beyond mortgage.

“Fokus utama kami tetap pada penguatan fundamental dan pertumbuhan bisnis yang berkualitas.”

— Nixon L.P. Napitupulu, Direktur Utama BTN

BTN akan menyampaikan informasi lanjutan kepada publik jika ada keputusan soal aksi korporasi, mengikuti aturan keterbukaan informasi yang berlaku.