Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,64% atau 188,50 poin ke level 4.996,61 pada perdagangan Senin (19/10/2026). Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Katadata, kapitalisasi pasar bursa pada penutupan hari itu tercatat Rp 8.863 triliun.

Pada hari yang sama, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, dan pimpinan Danantara menyampaikan kondisi terkini kepada Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan itu berupa rapat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Data penurunan IHSG dan arus dana asing

Nilai transaksi Senin mencapai Rp 25,02 triliun dengan volume 33,84 miliar saham. Katadata mencatat IHSG telah turun 4.137,39 poin atau sekitar 45,3% dari rekor tertingginya di level 9.134 pada 20 Januari 2026.

Investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) Rp 1,72 triliun pada Senin. Secara akumulatif sejak awal tahun, tekanan jual asing menurut data BEI mencapai Rp 89,91 triliun.

Adapun JPNN menyebut IHSG menyentuh level 4.900 pada Senin. Angka itu tidak dijelaskan lebih lanjut dalam sumber yang kami rujuk.

Respons Danantara, pemerintah, BI, dan OJK

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyatakan Danantara berencana menambah kepemilikan saham perusahaan pelat merah yang tercatat di bursa. Ia berbicara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin.

“Kalau bagus ya kita beli, terutama saham-saham BUMN kan, dan nanti akan menambah kepemilikannya. Kita akan cek terutama sekali saham-saham yang bagus, ya, yang fundamentalnya bagus,”

— Dony Oskaria, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia

Dony belum merinci emiten yang disasar maupun besaran dana yang disiapkan. Soal IHSG yang sempat berada di bawah 5.000, ia menilainya sebagai dinamika biasa dan menekankan bahwa fundamental ekonomi nasional bagus.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengaku melaporkan kepada Presiden bahwa kondisi ekonomi makro masih resilien. Ia menyebut belanja APBN pada kuartal IV akan lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu, dengan defisit dijaga di sekitar 2,85% dari PDB.

Baca jugaMenkeu Suahasil Proyeksikan Belanja APBN Kuartal IV 2026 Sekitar Rp1.300 Triliun, Efisiensi Tetap Jalan

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan inflasi inti September masih 2,8%, sedangkan inflasi pangan bergejolak (volatile food) telah mencapai 5% dan perlu perhatian khusus. Ia juga menyatakan BI mampu menjaga stabilitas rupiah dalam dua hari terakhir, termasuk lewat intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan lembaganya akan meneruskan reformasi pasar modal, terutama soal transparansi dan likuiditas. Menurut dia, pesan terpenting adalah menegakkan aturan terhadap pelanggar, termasuk kasus coordinated trading, agar menimbulkan efek jera.

Pandangan analis dan tokoh

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan pandangannya kepada Katadata pada Kamis (15/10), sebelum penurunan Senin (19/10). Kala itu ia menilai tekanan jual asing secara nominal telah melampaui net sell pada 2008, tetapi ukuran pasar kini jauh lebih besar sehingga perbandingan perlu melihat proporsinya terhadap kapitalisasi pasar dan likuiditas.

“Jadi, besarnya outflow tetap perlu menjadi perhatian serius, tetapi kami tidak melihat angka net sell saja sebagai dasar yang cukup untuk menyimpulkan Indonesia sedang menghadapi krisis yang lebih buruk dibandingkan 2008,”

— Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, kepada Katadata pada 15/10

Dalam wawancara itu, Rully menyebut penyebabnya adalah akumulasi banyak faktor, antara lain kenaikan suku bunga The Fed, tingginya yield US Treasury, penguatan dolar AS, serta isu free float dan evaluasi MSCI. Mirae Asset ketika itu masih mempertahankan target IHSG 6.800 pada akhir tahun, meski mengakui pencapaiannya makin menantang.

Di sisi lain, mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyampaikan pandangan pribadi dalam unggahannya, yang dikutip JPNN pada Senin (19/10). Ia menduga anjloknya indeks adalah skenario terencana investor dan institusi asing, yang disebut mendorong MSCI mengancam menurunkan status pasar modal Indonesia lewat institusi asal Singapura.

Tuduhan itu belum terverifikasi. JPNN sendiri memakai kata “diduga” untuk soal desakan tersebut, dan dalam kutipan yang kami rujuk tidak ada bukti yang disertakan. Kami belum menemukan tanggapan atau konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut, dan pandangan ini tidak sejalan dengan analisis Rully bahwa tekanan jual merupakan akumulasi berbagai faktor.

Baca jugaRupiah Menguat Tipis ke Rp18.025 per Dolar AS Senin Pagi, Analis Nilai Tekanan Masih Berlanjut