Banjir akibat hujan deras sejak 16 September melanda 41 provinsi di Thailand, berdampak pada lebih dari 580.000 rumah dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Bangkok disebut sebagai wilayah yang terdampak paling parah. Di negara tetangga, Myanmar, sedikitnya 10 orang tewas akibat banjir dan longsor.
Dampak banjir di Bangkok dan sekitarnya
Hujan hingga 320 milimeter dalam dua atau tiga hari membuat sistem drainase Bangkok tak mampu menampung air. Per Senin (28/9), air di beberapa bagian ibu kota masih setinggi pinggang, walau perlahan mulai surut.
Sebanyak 5.901 orang, paling tidak, telah dipindahkan ke 234 pusat evakuasi. Selain itu, lebih dari 80.000 penduduk di area terdampak dilaporkan belum bisa keluar rumah. Pemerintah menurunkan dapur umum dan perahu untuk mengantar bantuan.
“Tujuannya adalah menyediakan tiga kali makan sehari bagi seluruh warga selama periode banjir dan setidaknya tujuh hari setelah air surut”
— Unsit Sampuntharat, Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Thailand
Di kawasan Bang Kapi, sejumlah pedagang memindahkan lapak ke tepi area yang terendam karena pembeli enggan masuk ke genangan. Seorang warga berusia 60 tahun, Bangorn Dednuam, mengatakan persediaan makanan di rumahnya telah habis.
Pemerintah Thailand menetapkan Senin dan Selasa sebagai hari libur khusus bagi kantor pemerintah. Badan usaha milik negara, lembaga keuangan, perusahaan swasta, dan rumah sakit diminta menentukan sendiri perlu tidaknya tetap beroperasi.
Bendungan Chao Phraya naikkan debit air
Wakil Juru Bicara Kantor Perdana Menteri Thailand, Capt. Phatdaram Thongsuaykorn, meminta warga di sepanjang Sungai Chao Phraya bersiap menghadapi kemungkinan banjir susulan. Departemen Irigasi menaikkan pelepasan air Bendungan Chao Phraya menjadi 2.500 meter kubik per detik mulai Rabu (30/9/2026) pukul 12.00 waktu setempat.
Surat peringatan situasi air Nomor 6 dikirim kepada gubernur di 11 wilayah, termasuk Bangkok. Wilayah lainnya adalah Uthai Thani, Chai Nat, Sing Buri, Ang Thong, Phra Nakhon Si Ayutthaya, Suphan Buri, Lopburi, Pathum Thani, Nonthaburi, dan Samut Prakan.
Aliran di stasiun C.2, Distrik Mueang Nakhon Sawan, diproyeksikan memuncak sekitar 3.000 meter kubik per detik pada 2 Oktober 2026. Dengan tambahan dari anak sungai, volume air di sisi hulu diprediksi 3.600 sampai 3.700 meter kubik per detik. Adapun kapasitas serap irigasi di kedua sisi bendungan hanya sekitar 550 hingga 580 meter kubik per detik.
Warga dataran rendah yang berada di luar tanggul, yakni di Ayutthaya, Ang Thong, Sing Buri, dan Chai Nat, diminta ekstra waspada. Otoritas menegaskan bahwa permukiman di dalam tanggul penahan tidak terkena dampak langsung dari pelepasan air ini.
Kerugian ekonomi dan wilayah lain terdampak
Aat Pisanwanich dari departemen ekonomi Rangsit University memperkirakan kerugian ekonomi akibat banjir sedikitnya 11 miliar baht atau sekitar 327 juta dolar AS. Ia menyebut banjir diperkirakan memangkas 0,3 poin persentase pertumbuhan PDB tahun ini, sehingga menjadi 2,1%.
University of the Thai Chamber of Commerce memperkirakan kerugian di Bangkok sekitar 7 miliar baht. Total dampak nasional menurut lembaga itu mencapai 12,3 miliar baht. Sektor perdagangan grosir dan ritel diperkirakan terdampak terbesar di Bangkok dan wilayah timur.
Di Provinsi Rayong, pemerintah setempat memerintahkan evakuasi karena air di dua waduk melebihi daya tampung. Badan meteorologi Thailand mengingatkan potensi banjir bandang, sungai meluap, dan longsor, terutama di dekat saluran air, kaki bukit, serta dataran rendah.
Di Myanmar, hujan deras memicu banjir dan longsor di pesisir Tanintharyi. Sedikitnya 10 orang tewas dan puluhan lainnya dilaporkan hilang. Curah hujan di Kota Dawei pada Senin mencapai 346 milimeter, angka yang melampaui rekor selama 80 tahun.
Kamboja pun terdampak. Banjir bandang menghantam sedikitnya 10 provinsi di negara itu, mengenai 44.889 keluarga, dan membuat hampir 4.000 orang meninggalkan rumah.



